Kegiatan Belajar 1
________________________________________
Komposisi Penduduk
Komposisi penduduk yaitu pengelompokkan penduduk berdasarkan kriteria (ukuran) tertentu. Dasar untuk menyusun komposisi penduduk yang umum digunakan adalah umur, jenis kelamin, mata pencaharian, dan tempat tinggal. Pengelompokkan penduduk dapat digunakan untuk dasar dalam pengambilan kebijakan dan pembuatan program dalam mengatasi masalah-masalah di bidang kependudukan.
Contoh:
Dengan mengetahui jumlah penduduk usia 7 –12 tahun maka pemerintah dapat memperkirakan berapa kebutuhan sekolah dasar yang harus disediakan mengingat usia tersebut adalah usia sekolah dasar.
Untuk selanjutnya kita akan bahas beberapa komposisi.
a. Komposisi penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin.
Umur penduduk dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
- Umur 0 – 14 tahun dinamakan usia muda/usia belum produktif.
- Umur 15 – 64 tahun dinamakan usia dewasa/usia kerja/usia produktif.
- Umur 65 tahun keatas dinamakan usia tua/usia tak produktif/usia jompo.
Sesuai dengan pengelompokkan umur di atas, maka struktur (susunan) penduduk negara-negara di dunia dibagi 3 yaitu:
- Struktur penduduk muda : bila suatu negara atau wilayah sebagian besar penduduk usia muda.
- Struktur penduduk dewasa : bila suatu negara sebagian besar penduduk berusia dewasa.
- Struktur penduduk tua : bila suatu negara sebagian besar terdiri penduduk berusia tua.
Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat ditampilkan dalam bentuk grafik yang dinamakan piramida penduduk.
Bentuk piramida penduduk ada 3 macam yaitu:
1) Piramida penduduk muda berbentuk limas
Piramida ini menggambarkan jumlah penduduk usia muda lebih besar dibanding usia dewasa. Di waktu yang akan datang jumlah penduduk bertambah lebih banyak. Jadi penduduk sedang mengalami pertumbuhan.
2) Piramida penduduk stasioner atau tetap berbentuk granat
Bentuk ini menggambarkan jumlah penduduk usia muda seimbang dengan usia dewasa. Hal ini berarti penduduk dalam keadaan stasioner sehingga pertambahan penduduk akan tetap diwaktu yang akan datang.
3) Piramida penduduk tua berbentuk batu nisan
Piramida bentuk ini menunjukkan jumlah penduduk usia muda lebih sedikit bila dibandingkan dengan usia dewasa. Diwaktu yang akan datang jumlah penduduk mengalami penurunan karena tingkat kelahiran yang rendah dan kematian yang tinggi.
Negara-negara berkembang seperti Indonesia memiliki piramida penduduk berbentuk limas dan negara-negara maju umumnya berbentuk granat dan sebagian kecil berbentuk batu nisan.
Perhatikan gambar berikut ini!
Grafik 2. Piramida Penduduk
Pembuatan piramida penduduk dapat digunakan antara lain untuk:
- Mengetahui perbandingan jumlah antara laki-laki dan perempuan.
- Mengetahui keadaan jumlah penduduk di waktu yang akan datang.
- Untuk mengetahui struktur umur penduduk suatu negara secara umum.
Sampai disini apakah Anda sudah jelas?
Selanjutnya perhatikan contoh hasil pembuatan piramida penduduk dari hasil sensus penduduk tahun 1990 setelah dibuat kelompok umur 0-4 tahun, 5-9 tahun dan seterusnya.
Perhatikan tabel dibawah ini!
Tabel 5. Susunan Penduduk menurut umur dan jenis kelamin tahun 1990.
Dari tabel tersebut bila dibuat piramida penduduk terbentuklah gambar seperti berikut ini!
Grafik 3. Piramida penduduk Indonesia tahun 1990.
Komposisi penduduk menurut jenis kelamin didasarkan atas jenis pria dan wanita. Komposisi ini sangat berpengaruh terhadap tingkat kelahiran seperti jika sebagian besar penduduk suatu negara terdiri wanita usia subur (15-44 tahun) maka tingkat kelahiran akan tinggi.
Perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di daerah/negara tertentu pada tahun tertentu disebut perbandingan jenis kelamin (Sex Ratio)
Rumus untuk menghitungnya:
Contoh:
Suatu daerah terdapat penduduk laki-laki berjumlah 185.000, sedang perempuan berjumlah 197.000. Hitunglah Sex Rationya!
Penyelesaian Soal:
Selain perhitungan perbandingan di atas ada satu hal yang perlu Anda ketahui lagi yaitu Rasio ketergantungan. Perhatikan uraian berikut ini!
Rasio ketergantungan (dependency ratio) yaitu angka perbandingan yang menunjukkan besar beban tanggungan dari kelompok usia produktif. Usia produktif (15 – 64 tahun) selain menanggung kebutuhan hidup dirinya juga menanggung kebutuhan hidup golongan usia muda (0 – 14 tahun) dan golongan tua (65 tahun ke atas).
Rumus untuk menghitungnya:
Makin besar rasio ketergantungan, makin besar beban yang ditanggung oleh kelompok usia produktif. Apabila suatu negara besarnya rasio ketergantungan misalnya 65 berarti setiap 100 orang penduduk yang produktif menanggung beban hidup orang yang belum atau tidak produktif sebanyak 65 orang.
Untuk melatih pemahaman materi yang telah Anda pelajari sekarang kerjakan latihan soal di bawah ini!
1. Suatu kota terdapat penduduk usia 0 – 14 tahun berjumlah 2,5 juta, usia 15 – 64 tahun berjumlah 8 juta, dan usia 65 tahun ke atas berjumlah 1,5 juta. Dari data tersebut hitunglah besarnya angka beban ketergantungan!
2. Sebutkan akibat yang terjadi jika angka ketergantungan suatu daerah tinggi!
Saya yakin Anda mudah mengerjakan!
Selanjutnya untuk meyakinkan jawaban Anda benar atau salah, perhatikan kunci jawaban soal tersebut!
1.
2. - Usia produktif akan menanggung beban berat dalam memenuhi kebutuhan golongan non produktif.
- Pendapatan perkapita daerah itu menjadi turun atau rendah.
- Kemampuan menabung masyarakat menjadi rendah.
- Pertumbuhan ekonomi menjadi lambat.
b. Komposisi penduduk menurut pekerjaan
Penduduk dapat dikelompokkan berdasarkan pekerjaan yang dilakukan oleh tiap-tiap orang. Pekerjaan-pekerjaan tersebut antara lain pegawai negeri sipil, TNI, POLRI, buruh, pedagang, petani, pengusaha dan sopir.
c. Komposisi penduduk menurut pendidikan
Berdasarkan tingkat atau jenjang pendidikan yang telah ditamatkan penduduk dapat dikelompokkan dalam tingkat SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi. Pengelompokkan ini dapat digunakan untuk menentukan besarnya tingkat pendidikan penduduk.
d. Komposisi Penduduk menurut Agama
Pengelompokkan ini berdasarkan kepada agama yang dianut penduduk yaitu Islam, Katolik, Protestan, Hindu dan Budha.
e. Komposisi penduduk menurut tempat tinggal
Tempat tinggal yang sering digunakan dalam komposisi ini adalah tempat tinggal penduduk di desa dan di kota. Ciri khas negara agraris seperti Indonesia adalah sebagian besar penduduk tinggal di desa.
Nah, apakah Anda sudah paham dengan materi tentang komposisi penduduk, kalau sudah coba kamu amati komposisi penduduk di wilayahmu (RW). Bisa pula kamu gunakan data di kelurahan. Diskusikan dengan teman Anda data tersebut menurut umur dan jenis kelamin, pekerjaan dan pendidikan. Apa hasilnya? Nah laporkan hasil diskusimu kepada Guru Bina
Materi berikutnya kepadatan penduduk.
MARI KITA BELAJAR GEOGRAFI AGAR SUMBER DAYA ALAM INDONESIA TIDAK DI KUASAI DAN DIMANFAATKAN OLEH BANGSA LAIN. Mohon maaf jika ada yang kurang atau salah. Terima kasih anda telah berkunjung di sini. JADIKAN MEDIA INTERNET UNTUK MENCARI ILMU DUNIA DAN AKHIRAT, AGAR KITA SELAMAT
LANGUAGE
MAU SUKSES BELAJAR , YA BELAJAR!! JANGAN LUPA SHOLAT
- SAMSUNG Internal DVD-RW [SH S22] - NO BOX
- ZEUS Z806 Phoenix Size L - Blue
- SAMSUNG Galaxy Note 8 - Cream White
- DINO-LITE Mikroskop Digital Dentiscope [AMH-DUT / AM413TL]
- ACCU-CHEK Active Meter Kit
- GLUCODR AGM 2100 w strip 25 T
- Belanja Aksesoris Gadget atau yang lain, ini tempatnya
- Al-Azhar University, Cairo
- Animasi Geografi
- BACA AL-QUR'AN (ILMU TAJWID)
- Bacalah dan Tulislah
- BELAJAR AL-QUR'AN
- Belajar Geografi / peta
- BELAJAR ONLINE
- Biro Pusat Statisitk
- Bloggeografi
- Buku Batuan
- Buku Geografi X Grasindo
- BUKU SEKOLAH ELEKTRONIK
- DUNIA GEOGRAFI
- duta uang
- E-SMART
- http://perpustakaangeografionline.blogspot.com/
- I P B
- iEARN (International Education dan Sumber Daya Network)
- Iklim cuaca dan Gempa
- Introduction to Geomorphology
- ITB
- KEMENDIKNAS
- Kota Solo
- LANDFORM
- LINGKUNGAN HIDUP
- Masjid
- MASJID AT-TAQWA
- MATERI GEOGRAFI
- Membuat Biogas
- MUSLIM
- Muslim Menjawab
- NANYANG SINGAPURA
- Radio dan TV Indonesia Online
- Rumah Belajar
- SMA BATIK 1 SURAKARTA
- Televisi
- Triyonogeo66
- UMS
- UNAIR
- UNDIP
- UNIVERSITAS AL MUSTHOFA IRAN
- UNIVERSITAS GAJAH MADA
- UNIVERSITAS SEBELAS MARET SKA
- UNIVERSITAS TERBUKA
- UNIVERSITY OF BERKELEY
- University of Cambridge
- University of Melbourne
- ACCU-CHEK Active Meter Kit
- ZEUS Z806 Phoenix Size L - Blue
Senin, 19 Oktober 2009
Selasa, 29 September 2009
INDIKATOR KARAKTERISTIK PENDUDUK
Indikator Karakteristik Penduduk
Indikator penting tentang umur dan jenis kelamin maupun jumlah penduduk adalah:
1. Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio)
2. Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio)
3. Tingkat pertumbuhan penduduk
Definisi
Rasio Jenis Kelamin (RJK) adalah perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan.
Kegunaan
Data mengenai rasio jenis kelamin berguna untuk pengembangan perencanaan pembangunan yang berwawasan gender, terutama yang berkaitan dengan perimbangan pembangunan laki-laki dan perempuan secara adil. Misalnya, karena adat dan kebiasaan jaman dulu yang lebih mengutamakan pendidikan laki-laki dibanding perempuan, maka pengembangan pendidikan berwawasan gender harus memperhitungkan kedua jenis kelamin dengan mengetahui berapa banyaknya laki-laki dan perempuan dalam umur yang sama. Informasi tentang rasio jenis kelamin juga penting diketahui oleh para politisi, terutama untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam parlemen.
Indikator penting tentang umur dan jenis kelamin maupun jumlah penduduk adalah:
1. Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio)
2. Rasio Ketergantungan (Dependency Ratio)
3. Tingkat pertumbuhan penduduk
Definisi
Rasio Jenis Kelamin (RJK) adalah perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan jumlah penduduk perempuan per 100 penduduk perempuan.
Kegunaan
Data mengenai rasio jenis kelamin berguna untuk pengembangan perencanaan pembangunan yang berwawasan gender, terutama yang berkaitan dengan perimbangan pembangunan laki-laki dan perempuan secara adil. Misalnya, karena adat dan kebiasaan jaman dulu yang lebih mengutamakan pendidikan laki-laki dibanding perempuan, maka pengembangan pendidikan berwawasan gender harus memperhitungkan kedua jenis kelamin dengan mengetahui berapa banyaknya laki-laki dan perempuan dalam umur yang sama. Informasi tentang rasio jenis kelamin juga penting diketahui oleh para politisi, terutama untuk meningkatkan keterwakilan perempuan dalam parlemen.
Senin, 07 September 2009
Latihan Soal Geo XI bab 1
Latihan Soal geografi kelas XI bab 1
Jawablah Pertanyaan di bawah ini !
1. Sebutkan dan jelaskan pengertian biosfer !
2. Deskripsikan persebaran flora di dunia !
3. Deskripsikan persebaran fauna di dunia !
4. Deskripsikan persebaran flora di Indonesia !
5. Deskripsikan persebaran fauna di Indonesia !
6. Sebutkan usaha-usaha pelestarian flora dan fauna di Indonesia !
7. Jelaskan pengertian antroposfer !
8. Uraikan pendekatan masalah kependudukan !
9. Uraikan secara singkat teori kependudukan menurut teori Malthus !
10. Apakah yang di maksud dengan demografi ?
11. Jelaskan pengertian mortalitas
12. Jelaskan pengertian Natalitas !
13. Jelaskan hubungan antara ekonomi dengan demografi !
14. Jelaskan mengapa Pulau Jawa dan Pulau Sumatera lebih padat penduduknya !
15. Jelaskan cara-cara pengendalain jumlah penduduk !
Jawablah Pertanyaan di bawah ini !
1. Sebutkan dan jelaskan pengertian biosfer !
2. Deskripsikan persebaran flora di dunia !
3. Deskripsikan persebaran fauna di dunia !
4. Deskripsikan persebaran flora di Indonesia !
5. Deskripsikan persebaran fauna di Indonesia !
6. Sebutkan usaha-usaha pelestarian flora dan fauna di Indonesia !
7. Jelaskan pengertian antroposfer !
8. Uraikan pendekatan masalah kependudukan !
9. Uraikan secara singkat teori kependudukan menurut teori Malthus !
10. Apakah yang di maksud dengan demografi ?
11. Jelaskan pengertian mortalitas
12. Jelaskan pengertian Natalitas !
13. Jelaskan hubungan antara ekonomi dengan demografi !
14. Jelaskan mengapa Pulau Jawa dan Pulau Sumatera lebih padat penduduknya !
15. Jelaskan cara-cara pengendalain jumlah penduduk !
Latihan Soal BAB 1 kelas X
Latihan Soal Geografi BAB 1 kelas X
1. Sebutkan beberapa pengertian geografi ?
2. Sebutkan dan jelaskan obyek material geografi !
3. Sebutkan dan menjelaskan macam-macam pendekatan geografi ?
4. Sebutkan 10 konsep dasar geografi !
5. Sebutkan gejala-gejala pada atmosfer !
6. Sebutkan gejala-gejala pada hidrosfer !
7. Jelaskan 8 dari 10 konsep dasar geografi !
8. Jelaskan perbedakan obyek studi geografi !
9. Sebutkan dan jelaskan empat prinsip geografi !
10. Apakah yang di maksud dengan konsep aglomerasi !
11. Berikan contoh fenomena alam dari salah satu prinsip geografi !
12. Kelompokkan ilmu bantu geografi dari aspek fisik dan sosial !
13. Jelaskan perbedaan antara meteorology dengan klimatologi !
14. Sebutkan dan jelaskan sarana bantu ilmu geografi !
15. Sebutkan dan jelaskan manfaat geografi !
Selamat mengerjakan , semoga sukses selalu !!!
1. Sebutkan beberapa pengertian geografi ?
2. Sebutkan dan jelaskan obyek material geografi !
3. Sebutkan dan menjelaskan macam-macam pendekatan geografi ?
4. Sebutkan 10 konsep dasar geografi !
5. Sebutkan gejala-gejala pada atmosfer !
6. Sebutkan gejala-gejala pada hidrosfer !
7. Jelaskan 8 dari 10 konsep dasar geografi !
8. Jelaskan perbedakan obyek studi geografi !
9. Sebutkan dan jelaskan empat prinsip geografi !
10. Apakah yang di maksud dengan konsep aglomerasi !
11. Berikan contoh fenomena alam dari salah satu prinsip geografi !
12. Kelompokkan ilmu bantu geografi dari aspek fisik dan sosial !
13. Jelaskan perbedaan antara meteorology dengan klimatologi !
14. Sebutkan dan jelaskan sarana bantu ilmu geografi !
15. Sebutkan dan jelaskan manfaat geografi !
Selamat mengerjakan , semoga sukses selalu !!!
Kamis, 03 September 2009
KEPENDUDUKAN
• KONSEP DASAR KEPENDUDUKAN
• BAB 1
• Demografi: Ilmu yang mempelajari secara statistik & matematik ttg besar, komposisi dan distribusi penduduk & perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui lima komponen yaitu kelahiran, kematian, perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.
• Studi Kependudukan: Ilmu yang mempelajari tentang kaitan antara variabel demografi dengan variabel non demografi.
• SEJARAH PERKEMBANGAN PENDUDUK & TRANSISI DEMOGRAFI
• BAB 2
• Sejarah Pertumbuhan Penduduk Dunia
• Sebaran Penduduk Dunia
• Dari jumlah penduduk yg ada tahun 2000 yaitu sebanyak 6,06 milyar, hampir dua pertiganya (60,62 persennya atau 3,7 milyar) berada di Benua Asia. Sisanya tersebar di Benua Afrika (794 juta atau 13,11 persen), Benua Eropa (12,00 persen atau 727 juta), Benua Amerika (13,75 persen atau 833 juta) dan Oceania (0,5 persen atau 31 juta).
• Dari sebarannya berdasarkan kategori kemajuan pembangunan suatu negara, dari total penduduk dunia sebanyak 4,86 milyar (80,32 persen) berada di negara-negara sedang berkembang dan sisanya sebanyak 1,19 milyar (19,68 persen) berada di negara-negara maju.
• Sejarah Pertumbuhan Penduduk Indonesia
• Sebaran Penduduk Indonesia
• Dari total penduduk pada tahun 2000 yaitu sebanyak 206 juta, hampir dua pertiganya (60,36 persennya atau 124,5 juta) berada di Pulau Jawa dan Bali.
• Sisanya dari jumlah penduduk tersebut tersebar di Pulau Sumatera (43,3 juta atau 21,00 persen), Pulau Sulawesi (6,84 persen atau 14,1 juta), Pulau Kalimantan (5,49 persen atau 11,3 juta) dan pulau-pulau lainnya (6,31 persen atau 12,8 juta).
• Tingkat kepadatan penduduk di Pulau Jawa-Bali pada tahun 2000 mencapai 920 jiwa perkm, sedangkan di pulau-pulau lainnya hanya berada pada kisaran dibawah 100 jiwa perkm2. Misalnya untuk Pulau Sumatera adalah 91, Kalimantan 20, Sulawesi 75.
• Model Transisi Demografi
Model transisi demografi pertama kali dikembangkan oleh Warren Thompson tahun 1929. Berdasarkan data periode 1908-1927, terdapat tiga jenis pola pertumbuhan penduduk, yaitu :
• Kelompok A, negara-negara Eropa Barat, Eropa Utara dan AS yang mengalami perubahan pertumbuhan alami yang sangat tinggi ke pertumbuhan yang sangat rendah
• Kelompok B, negara-negara Itali, Spanyol dan kelompok “Slavia” di Eropa Tengah yg mengalami penurunan kelahiran maupun kematian, tetapi penurunan kematian adalah sama atau lebih cepat dibandingkan kelahiran. Kondisi ini dialami oleh negara kelompok A pada 30 sampai 40 tahun sebelumnya.
• Kelompok C, negara-negara lainnya yg kelahiran & kematian belum mengalami perubahan, artinya masih sangat tinggi.
• Frank Noteisten (1945)memberikan penjelasan tentang ketiga pola tersebut. Untuk kelompok A, diberi nama dengan “incipient decline”, kelompok B adalah “transitional growth”, dan kelompok C adalah “high growth potential”. Saat ini istilah transisi demografi (demographic transition) diperkenalkan.
• Transisi demografi ini adalah suatu proses penurunan mortalitas dan fertilitas suatu penduduk yang dari tingkat yang tinggi menuju ke tingkat yang rendah, atau dari “high growth potential” menuju “incipient decline”. Transisi tersebut diberikan dalam gambar berikut:
• Tahapan Transisi Demografi
Tahap I. (High Growth Potential)
Ditandai dgn fertilitas & mortalitas yg tinggi. Pertumbuhan alami rendah bahkan turun (minus).
Tahap II.(Transitional Growth)
Ditandai dgn penurunan mortalitas lebih cepat dibandingkan fertilitas, akibatnya pertumbuhan penduduk tinggi.
Tahap III. (Incipient Decline)
Ditandai dgn fertilitas & mortalitas yg rendah & pertum-buhan penduduk juga rendah.
• Kritik Terhadap Teori Transisi Demografi
• Gambaran yang diberikan masih kasar, seperti, bahwa pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya disebabkan oleh penurunan kematian, tetapi juga naiknya fertilitas.
• Waktu yang dibutuhkan masing-masing tahapan sangat bervariasi antar negara, oleh karenanya teori ini cukup lemah untuk digeneralisasi.
• Setelah fertilitas dan mortalitas berada pada angka yang sangat rendah, pada tahap selanjutnya kemungkinan besar angka tersebut akan kembali naik. Dengan demikian sebenarnya tahapan transisi masih bisa dikembangkan lebih lanjut.
• PENDUDUK DAN PEMBANGUNAN
• BAB 3
• Perdebatan Ideologi
Ada 3 Kelompok yang Berbeda
• Kaum Nasionalis : Pertumbuhan penduduk akan Meningkatkan Pembangunan Ekonomi
• Kelompok Marxist: Tidak ada kaitan antara pertumbuhan penduduk & pembangunan ekonomi
• Kelompok Neo Malthusian: Pertumbuhan Penduduk yang Tinggi Mengakibatkan Gagalnya Pembangunan
• FERTILITAS DAN PEMBANGUNAN
• BAB 4
• Pengertian Fertilitas
Kemampuan seorang perempuan atau sekelompok perempuan secara riel untuk melahirkan
Hasil reproduksi nyata dari seorang perempuan atau sekelompok perempuan
Tindakan reproduksi yang menghasilkan kelahiran hidup.
• PENGUKURAN FERTILITAS
• Pengukuran Fertilitas Tahunan:
mencerminkan fertilitas suatu kelompok penduduk/ beberapa kelompok penduduk untuk jangka waktu satu tahun.
• Pengukuran Fertilitas Kumulatif:
mencerminkan banyaknya kelahiran sekelompok/ beberapa kelompok wanita selama masa repro-duksinya.
• Beberapa Pengukuran Fertilitas Tahunan
• CBR (Crude Birth Rate)/Angka Kelahiran Kasar
B=jumlah kelahiran dalam setahun
P=jumlah penduduk pertengahan tahun
k=konstanta= 1000
• GFR (General Fertility Rate)/Angka Fertilitas Umum
Pf15-49 =jumlah penduduk perempuan umur 15-49 tahun
• ASFR (Age Spesific Fertility Rate)
Bi=jumlah kelahiran dalam kelompok umur i dalam setahun
Pfi=jumlah penduduk perempuan pertengahan tahun kelompok
• Beberapa Pengukuran Fertilitas Kumulatif
• TFR (Total Fertility Rate)/Angka Fertilitas Total
Rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang pertempuan sampai akhir masa reproduksi
• GRR (Gross Reproduction Rate)/Angka Reproduksi Bruto
ASFRfi= ASFR yang dihitung hanya untuk kelahiran anak perempuan pada kelompok umur reproduksi.
• NRR (Net Reproduction Rate)/Angka Reproduksi Neto
5Lx/L0= probabilita kematian bayi dalam usia reproduksi (dari tabel kematian)
.
• FERTILITAS DAN PEMBANGUNAN
• Pengaruh pembangunan thdp penurunan fertilitas. Exp: pendidikan, partisi-pasi angkatan kerja wanita, organisasi kese-jahteraan masyarakat, listrik masuk desa.
• Pengaruh penurunan fertilitas terhadap pembangunan. Exp: partisipasi angkatan kerja wanita, pendidikan, angka tabungan, pendapatan perkapita.
• MORTALITAS, MORBIDITAS DAN PEMBANGUNAN
• BAB 5
• Pengertian
• Mortalitas: keadaan menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen yang biasanya terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup.
• Morbiditas: keadaan tidak sempurna jasmani, rohani dan sosial.
• Ukuran Mortalitas
• CDR (Crude Death Rate)/Angka Kematian Kasar.
• ASDR (Age Spesific Death Rate)/Angka Kematian Menurut Umur
• IMR (Infant Mortality Rate)/ Angka Kematian Bayi
• Ukuran Morbiditas
jumlah penderita baru
• Incidence Rate = -------------------------------- 1000
populasi at risk
jumlah penderita lama dan baru
• Prevalence Rate = ------------------------------------------ 1000
populasi at risk
jumlah hari kejadian sakit pd periode tsb
• Duration of Sickness = --------------------------------------------------
jumlah kejadian sakit
• Teori Transisi Epidemiologi
Dalil 1. Kematian merupakan faktor mendasar dalam dinamika kependudukan
Dalil 2. Selama transisi, dlm jangka panjang terjadi perubahan pola kematian dan penyakit, dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif dan penyakit buatan manusia.
Dalil 3. Transisi epidemiologi biasanya lebih menguntungkan orang muda dari pada orang tua, dan lebih menguntungkan wanita dari laki-laki.
Dalil 4. Pergantian pola kesehatan dan penyakit sebelum abad 20 (di negara maju) karena membaiknya standar kehidupan dan keadaan gizi, dari pada hubungannya dengan kemajuan di bidang kedokteran. Sebaliknya, transisi abad ke 20 (di negara sdg berkembang) dimulai oleh kemajuan di bidang kedokteran, pelayanan kesehatan dan program pengendalian penyakit.
Dalil 5. Variasi khusus dalam pola, laju dan faktor penentu dan akibat perubahan kependudukan dibedakan atas 4 model. (1) Model klasik atau barat, (2) Varian yang dipercepat dari model klasik, (3) Model tertunda, (4) Varian transisi dari model tertunda.
• MOBILITAS PENDUDUK DAN PEMBANGUNAN
• BAB 6
• Klasifikasi Mobilitas
• Ukuran-ukuran Mobilitas
• Angka Mobilitas : rasio banyaknya penduduk yg pindah dlm jangka waktu tertentu dengan jumlah penduduk
• Angka Migrasi Masuk
jml migrasi masuk
IM = --------------------------- x 1000
jml pddk tengah th
• Angka Migrasi Keluar
jml migrasi keluar
OM = --------------------------- x 1000
jml pddk tengah th
• Angka Migrasi Neto
migrasi masuk – migrasi keluar
NM = ------------------------------------------- x 1000
jml pddk tengah th
• Angka Migrasi Bruto
migrasi masuk + migrasi keluar
GM = --------------------------------------------- x 1000
pddk daerah asal + daerah tujuan
• Teori-Teori Migrasi
• Model Dorong Tarik (Push-Pull Factor)
Dikemukakan oleh Everet Lee, bahwa ada 4 kelompok faktor yang mempengaruhi orang mengambil keputusan migrasi
• Faktor yg terdapat di daerah asal
• Faktor yg terdapat di daerah tujuan
• Penghalang antara
• Faktor pribadi
• Model Lewis-Fei-Rannis
Dikembangkan oleh Sir. W. Arthur Lewis, diperluas oleh John Fei dan Gustav Ranis.
Fokus utama model adalah pada proses perpindahan tenaga kerja dan pertumbuhan peluang kerja di sektor modern. Baik transfer tenaga kerja maupun pertumbuhan peluang kerja di kota dipengaruhi oleh perluasan output di sektor modern. Kecepatan perkembangannya ditentukan oleh tingkat akumulasi modal industri pada sektor modern.
• Transisi Mobilitas
Hipotesis mengenai transisi mobilitas ini pada awalnya dikemukakan oleh Zelinsky (1971).
Menurut Zelinsky, secara temporal, sesungguhnya terdapat lima tingkatan atau fase transisi mobilitas. Pada dasarnya kelima transisi mobilitas tersebut berjalan sejajar dengan fase transisi demografi atau transisi vital. Kecuali itu, fase-fase tersebut saling berkaitan satu sama lain.
• Hipotesis transisi mobilitas dimodifikasi Skeldon (1990), untuk negara2 sedang berkembang.
Tujuh tahapan Skeldon:
• Tahap Pertama: masyarakat pra transisi (pretransitional society)
Sebagian besar mobilitas merupakan mobilitas nonpermanen. Walau begitu, mobilitas ini tidak harus merupakan mobilitas jangka pendek. Dapat pula terjadi mobilitas permanen dalam bentuk kolonisasi ataupun pembukaan daerah pertanian baru.
• Tahap Kedua: masyarakat transisi awal (early transitional society).
Terjadi percepatan mobilitas nonpermanen ke daerah perkotaan, perkebunan, pertambangan. Mobilitas semacam ini diperlukan untuk mendukung pembangunan pedesaan. Penghasilan penduduk yg mobil ini membantu meningkatkan pendapatan di pedesaan. Jaringan transportasi yang luas, murah, efisien, dan cepat merupakan syarat utama terjadinya peningkatan mobilitas nonpermanen, baik sirkulasi maupun ulang alik. Juga terlihat adanya mobilitas penduduk dari satu daerah perkotaan ke daerah perkotaan yang lain, dengan kota besar sebagai tujuan utama migrasi dari kota kecil dan menengah. Terjadi peningkatan pesat dalam mobilitas ke daerah-daerah baru. Pada tahap ini migrasi masih didominasi oleh penduduk laki-laki.
• Tahap Kelima: masyarakat mulai maju (early advanced society).
Angka urbanisasi telah melampaui 50 persen dan mobilitas dari pedesaan ke perkotaan menurun. Mulai terjadi sub-urbanisasi dan dekonsentrasi penduduk. Mobilitas nonpermanen, terutama ulang-alik, meningkat lagi. Ulang alik didominasi oleh laki-laki.
• Tahap Keenam: masyarakat maju lanjut (late advanced society).
Terus terjadinya dekonsentrasi penduduk perkotaan. Penduduk perkotaan makin menyebar ke daerah perkotaan yg lebih kecil. Juga dapat terjadi peningkatan arus masuk pekerja asing, terutama migran dari negara yang masih berada pada tahap keempat. Ulang alik terjadi dengan pesat. Semua arus mobilitas ini dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan, tanpa perbedaan yang mencolok.
• Tahap ketujuh: masyarakat maju super (super advanced society).
Pada tahap ini diwarnai oleh adanya teknologi tinggi, termasuk teknologi informasi. Pada saat ini amat mungkin bahwa mobilitas permanen semakin berkurang dan mobilitas nonpermanen, terutama berujud mobilitas ulang-alik, meningkat. Sistim transportasi diganti dengan sistim komunikasi. Orang tidak perlu lagi berpindah tempat untuk dapat saling berkomunikasi.
• Thesis Brain Drain & Konsep Remitans
• Tesis Brain Drain: migrasi keluar angkatan kerja potensial berusia muda & berpendidikan dari pedesaan ke kota, cenderung membawa dampak negatif daerah yang ditinggalkan. Karenanya, migrasi diduga dapat mengganggu dan memperlambat proses pembangunan wilayah.
• Di daerah tujuan (kota), mobilitas pekerja mempersulit penataan kota, kelebihan angkatan kerja, pengangguran, pekerja miskin di sektor informal, kemiskinan dan kampung kumuh di kota.
• Namun, dampak dari tesis brain drain ini tidak sepenuhnya berlaku di negara2 sedang berkembang. Mobilitas pekerja merupakan salah satu strategi rumah tangga pedesaan. Dengan mengalokasikan SDM yg ada, rumah tangga pedesaan memanfaatkan kesempatan yg ada di luar desa. Hasil kerja di luar desa, dikirimkan dan dimanfaatkan di desa. Kiriman (remittances) migran pekerja berdampak positif bagi rumah tangga dan ekonomi pedesaan.
• INDIKATOR-INDIKATOR KUALITAS PENDUDUK
• BAB 7
• Pengertian
• Kualitas penduduk terbagi dlm kualitas fisik dan kualitas non-fisik. Kualitas fisik, minimal dapat dipakai tiga indikator yaitu ukuran antropometrik (tinggi, berat badan dan lainnya), kesehatan serta kesegaran jasmani. Kualitas non-fisik dapat berupa kecerdasan, kesehatan mental, pendidikan, religiusitas dan lainnya dari ciri non-fisik.
• Pengukurannya dapat dibedakan atas indikator individu dan kelompok. Indikator individu menunjukkan kualitas yang melekat pada masing-masing individu. Kualitas kelompok adalah menunjukkan kualitas rata-rata sekumpulan manusia yg menjadi penduduk suatu kawasan.
• Penyajian kualitas yang banyak digunakan adalah ukuran kelompok, karena lebih mudah dlm evaluasi dan intervensi kebijakan. Kelemahannya, kurang tepat jika ketimpangan antar individu dlm kelompok tersebut relatif besar.
• Pendapatan Perkapita
• Pada tahun 1950-an, paradigma pembangunan mengacu pada pertumbuhan ekonomi. Ukuran keberhasilan pembangunan adalah pembentukan modal dan produksi. Indikator yg umum digunakan untuk mengukur kualitas penduduk adalah pendapatan perkapita.
• Penggunaan pendapatan perkapita mempunyai banyak kelemahan. Diantaranya: (1) tidak tercakupnya produksi subsisten yang tidak dipasarkan, (2) terabaikannya aspek distribusi pendapatan, (3) kualitas penduduk dan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu hal yang subjektif yang tidak dapat diukur semata-mata melalui pendekatan pendapatan perkapita.
• PQLI atau IMH
• Tahun 1970-an, timbul pandangan bahwa kesenjangan merupakan masalah penting yg harus segera diatasi. Paradigma pembangunan terpusat pada usaha pemenuhan kebutuhan pokok hidup manusia.
• Untuk mengukur sejauh mana hasil pembangunan mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia dari segi peningkatan kualitas fisik kehidupan, digunakan beberapa tolok ukur.
• Morris dan Grant (1976) mengajukan PQLI (Physical Quality of Live Index) atau IMH (Indeks Mutu Hidup). Indeks tersebut mencakup tiga parameter pokok yaitu : angka kematian bayi (IMR), angka harapan hidup pada umur 1 tahun, dan tingkat melek huruf penduduk usia 15 tahun atau lebih.
• Kelemahan PQLI: tidak dapat digunakan sebagai indikator kesejahteraan total (yang didalamnya harus mengandung pengukuran tentang rasa aman, keadilan, hak-hak asasi dan hal-hal lainnya yang tidak memiliki eksistensi material).
• Di Indonesia, Sayogyo menambah variabel fertilitas (Total Fertility Rate = TFR) sebagai variabel keempat. Ia memberi nama dengan istilah IMH-plus (Indeks Mutu Hidup-plus).
• Hananto Sigit juga mengukur Indeks Mutu Hidup dengan menggunakan tiga variabel seperti yang diajukan Moris-Grant. Ia memberi nama dengan istilah : Indeks Kualitas Hidup Manusia Indonesia (IKHMI). Hananto Sigit juga mencoba menambahkan variabel pendapatan (PDRB) sebagai variabel keempat untuk indikator ini yang kemudian diberi nama IKHMI plus atau IKHMIY.
• HDI atau IPM
• Akhir tahun 1980-an, muncul paradigma yang menyatakan bahwa pembangunan adalah dari, oleh dan untuk manusia. Karenanyaprogram pembangunan harus diarahkan pada pembangunan manusia itu sendiri.
• UNDP merumuskan pembangunan manusia sebagai suatu proses perluasan spektrum pilihan manusia, meningkatkan kesempatan mereka untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, penghasilan dan pekerjaan.
• Tahun 1990 diperkenalkan suatu indikator yang diberi nama Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembang-unan Manusia (IPM), sebagai indikator komposit atas tiga kiteria yaitu kesehatan (diukur dari harapan hidup saat dilahirkan, pengetahuan (diukur dari angka melek huruf & rata-rata lama bersekolah, dan pendapatan (diukur dari paritas daya beli)
• ISU-ISU KEPENDUDUKAN TERKINI
• BAB 8
• 8.1. Pembangunan Berwawasan Kependudukan
• Pengertian
Secara sederhana pembangunan berwawasan kependudukan mengandung dua makna sekaligus, yaitu :
• Pembangunan yang disesuaikan dengan potensi dan kondisi penduduk yang ada. Penduduk harus dijadikan titik sentral dalam proses pembangunan. Penduduk harus dijadikan subjek dan objek dalam pembangunan. Pembangunan adalah oleh penduduk dan untuk penduduk.
• Pembangunan sumberdaya manusia. Pembangunan lebih menekankan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur semata-mata.
• Dimensi Penduduk dalam Pembangunan Nasional
• Penduduk merupakan isu yg sangat strategis dalam kerangka pembangunan nasional, karena:
• Penduduk merupakan pusat seluruh kebijakan dan program pembangunan yang dilakukan. Pembangunan dikatakan berhasil jika mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk baik kualitas fisik maupun non fisik.
• Keadaan penduduk sangat mempengaruhi dinamika pembangunan. Jumlah penduduk yang besar, jika diikuti dengan kualitas penduduk yang memadai, akan merupakan pendorong bagi pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, jumlah penduduk yang besar, jika diikuti dengan tingkat kualitas rendah, menjadikan penduduk tersebut hanya sebagai beban bagi pembangunan nasional.
• 8.2. Ideologi Gender
• Pengertian
• Gender adalah bangunan "sosio-kultural" yg membe-dakan karakteristik maskulin & feminim. Berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki & perempuan yg bersifat biologis.
• Ciri maskulin atau feminim tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata pada perbedaan jenis kelamin. Maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminim dalam budaya lain.
• Gender merupakan landasan bagi berlangsungnya masyarakat. Melalui sistem pengaturan gender, persepsi diri laki-laki & perempuan, apa & siapa dirinya dlm masyarakat itu ditentukan, alokasi pekerjaan diberikan, dan pembagian wewenang atau kuasa dilakukan.
• Ketidakseimbangan berdasarkan gender mengacu pada ketidakseimbangan akses sumber-sumber yg langka dlm masyarakat.
• Diferensiasi Gender
• Tiga teori dasar dlm diferensiasi gender yaitu teori neo-klasik, segmentasi pasar tenaga kerja & feminist.
• Teori neo-klasik: pembagian kerja seksual di-dasarkan perbedaan seksual dlm berbagai variabel yg mempengaruhi produktivitas pekerja.
• Perbedaan tsb meliputi pendidikan, ketrampilan, lamanya jam kerja, tanggung jawab RT, serta kekuatan fisik. Ini didasari asumsi dlm pasar persaingan sempurna, pekerja mempe-roleh upah sebesar "marginal product" yg dihasilkannya. Asumsi lain: keluarga mengalokasikan sumberdaya secara rasional, se-hingga laki-laki memperoleh investasi "human capital" yg lebih tinggi dari perempuan.
• Dua kelemahan teori ini. (1) Asumsi perbedaan fisik sbg sumber "pekerjaan-pekerjaan khas perempuan". Secara biologis hanya mengandung & melahirkan pekerjaan khas perempuan. Selain itu, tdk ada alasan biologis yg menjelaskan mengapa perem-puan harus mengasuh anak/melakukan pekerjaan domestik lainnya. (2) Asumsi laki-laki & perempuan memiliki akses peluang kerja yg sama, tidak mempertimbangkan segmentasi pasar tenaga kerja yg tdk dpt dijelaskan berdasarkan perbedaan seksual dlm "human capital".
• Kelemahan pertama ditutupi dgn teori gender/feminist, kelemahan kedua dikoreksi dgn teori pasar tenaga kerja ganda.
• Teori segmentasi pasar tenaga kerja: laki-laki pada usia prima terkonsentrasi dalam pekerjaan berupah tinggi, stabil dan dengan latihan, promosi dan prospek karier lebih baik (PRIMARY JOBS). Sedangkan perempuan berada pada SECONDARY JOBS, dengan karakteristik pekerjaan sebaliknya.
• Keterbatasan ruang lingkup kerja perempuan diakibatkan oleh karena perempuan tidak mempunyai kapasitas untuk akses pada male-dominated jobs, sehingga perempuan terkonsentrasi secara berlebih dalam suatu range kesempatan kerja terbatas, yang menekan tingkat upah perempuan.
• Teori segmentasi pasar tenaga kerja menunjukkan bahwa pekerja laki-laki dan perempuan tidak bersaing dgn landasan yang sama, karenanya tidak mempunyai akses yang sama ke lapangan kerja.
• Teori segmentasi pasar tenaga kerja tidak mampu menjelaskan mengapa segmentasi pasar tenaga kerja berdasarkan jenis kelamin terjadi. Menurut teori gender/ feminist, kedudukan perempuan yg relatif rendah dlm pasar tenaga kerja tidak dapat dipisahkan dari sistem sosial yg menem-patkan perempuan pada kedudukan yang lebih rendah daripada laki-laki.
• Gender dalam Dunia Kerja
• Diskriminasi pasar TK adalah adanya segregasi okupasi -- terdapat bagian besar dari pekerjaan untuk laki-laki dan sisanya (dgn upah yg rendah) untuk perempuan.
• Ada dua pola segregasi. Secara horizontal perempuan tersegregasi pada jenis pekerjaan berstatus rendah. Segregasi vertikal ditunjukkan dgn fungsi-fungsi tertentu dimonopoli laki-laki, yaitu fungsi dengan kewenangan yg luas, tingkat pengawasan yg tinggi serta kondisi kerja yg lebih baik.
• Segregasi vertikal maupun horizontal menyebabkan rendahnya status perempuan dlm pekerjaan. Status mencakup dua aspek sekaligus: yaitu "otonomi perempuan" dan "kekuasaan sosial".
• 8.3. Penduduk Lansia
• Pengantar
• Perhatian pemerintah di negara-negara sedang berkembang terhadap penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat, karena pesatnya pertumbuhannya.
• Lansia adalah mereka yang berusia 64 tahun ke atas (PBB) atau 60 tahun keatas (Menko Kesra)
• Lansia merupakan kelompok penduduk yg mempu-nyai resiko tinggi untuk sering sakit & menderita sakit kronis, serta mengalami ketidakmampuan.
• Hal-hal tsb membutuhkan pengobatan medis & pera-watan yg intensif. Namun, biaya rumah sakit & tekno-logi perawatan orang tua adalah mahal, sedangkan kemampuan pemerintah relatif terbatas dlm menyedi-akan dana. Oleh karenanya perlu mengembalikan peran keluarga dalam perawatan lansia.
• Dampak Pembangunan Thdp Lansia
• Tiga dampak negatif pembangunan terhadap kese-jahteraan lansia: (1) peningkatan prevalensi migrasi desa-kota, (2) meningkatnya aktivitas ekonomi wani-ta dan (3) perubahan sistem perekonomian tradisi-onal ke perekonomian modern.
• Menyebabkan terjadinya pemisahan/keluarnya pen-duduk lansia dari struktur keluarga, dalam bentuk :
a. Spatial Separation
Peningkatan prevalensi migrasi desa-kota, menye-babkan banyak lansia yg ditinggal keluarganya. Meningkatnya mobilitas penduduk (umumnya usia muda) menyebabkan lansia tidak dapat lagi menjadi satu dengan keluarga (spatial separation). Kondisi ini menyulitkan untuk tetap menyantuni orang tua mereka pada usia lanjut.
b. Cultural Separation
Meningkatnya pendidikan wanita menyebabkan nilai waktu wanita di luar rumah lebih tinggi. Menyebabkan berkurangnya alokasi waktu untuk pekerjaan kerumah-tanggaan, termasuk mengurus orang tua.
Peningkatan pendidikan generasi muda secara keselu-ruhan juga menyebabkan terjadi perbedaan nilai buda-ya penduduk usia muda dan lansia. Mengakibatkan sulit menggabungkan keduanya dalam satu kehidupan.
c. Economic Separation
Peranan orang tua yang tinggi dalam ekonomi secara tradisional, akan berkurang dalam masyarakat modern. Penghasilan angkatan kerja muda yg lebih tinggi dari orang tuanya menyebabkan rendahnya ketergantungan pada orang tua. Menyebabkan berkurangnya rasa tanggung jawab menyantuni keluarga pada usia lanjut.
• BAB 1
• Demografi: Ilmu yang mempelajari secara statistik & matematik ttg besar, komposisi dan distribusi penduduk & perubahan-perubahannya sepanjang masa melalui lima komponen yaitu kelahiran, kematian, perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial.
• Studi Kependudukan: Ilmu yang mempelajari tentang kaitan antara variabel demografi dengan variabel non demografi.
• SEJARAH PERKEMBANGAN PENDUDUK & TRANSISI DEMOGRAFI
• BAB 2
• Sejarah Pertumbuhan Penduduk Dunia
• Sebaran Penduduk Dunia
• Dari jumlah penduduk yg ada tahun 2000 yaitu sebanyak 6,06 milyar, hampir dua pertiganya (60,62 persennya atau 3,7 milyar) berada di Benua Asia. Sisanya tersebar di Benua Afrika (794 juta atau 13,11 persen), Benua Eropa (12,00 persen atau 727 juta), Benua Amerika (13,75 persen atau 833 juta) dan Oceania (0,5 persen atau 31 juta).
• Dari sebarannya berdasarkan kategori kemajuan pembangunan suatu negara, dari total penduduk dunia sebanyak 4,86 milyar (80,32 persen) berada di negara-negara sedang berkembang dan sisanya sebanyak 1,19 milyar (19,68 persen) berada di negara-negara maju.
• Sejarah Pertumbuhan Penduduk Indonesia
• Sebaran Penduduk Indonesia
• Dari total penduduk pada tahun 2000 yaitu sebanyak 206 juta, hampir dua pertiganya (60,36 persennya atau 124,5 juta) berada di Pulau Jawa dan Bali.
• Sisanya dari jumlah penduduk tersebut tersebar di Pulau Sumatera (43,3 juta atau 21,00 persen), Pulau Sulawesi (6,84 persen atau 14,1 juta), Pulau Kalimantan (5,49 persen atau 11,3 juta) dan pulau-pulau lainnya (6,31 persen atau 12,8 juta).
• Tingkat kepadatan penduduk di Pulau Jawa-Bali pada tahun 2000 mencapai 920 jiwa perkm, sedangkan di pulau-pulau lainnya hanya berada pada kisaran dibawah 100 jiwa perkm2. Misalnya untuk Pulau Sumatera adalah 91, Kalimantan 20, Sulawesi 75.
• Model Transisi Demografi
Model transisi demografi pertama kali dikembangkan oleh Warren Thompson tahun 1929. Berdasarkan data periode 1908-1927, terdapat tiga jenis pola pertumbuhan penduduk, yaitu :
• Kelompok A, negara-negara Eropa Barat, Eropa Utara dan AS yang mengalami perubahan pertumbuhan alami yang sangat tinggi ke pertumbuhan yang sangat rendah
• Kelompok B, negara-negara Itali, Spanyol dan kelompok “Slavia” di Eropa Tengah yg mengalami penurunan kelahiran maupun kematian, tetapi penurunan kematian adalah sama atau lebih cepat dibandingkan kelahiran. Kondisi ini dialami oleh negara kelompok A pada 30 sampai 40 tahun sebelumnya.
• Kelompok C, negara-negara lainnya yg kelahiran & kematian belum mengalami perubahan, artinya masih sangat tinggi.
• Frank Noteisten (1945)memberikan penjelasan tentang ketiga pola tersebut. Untuk kelompok A, diberi nama dengan “incipient decline”, kelompok B adalah “transitional growth”, dan kelompok C adalah “high growth potential”. Saat ini istilah transisi demografi (demographic transition) diperkenalkan.
• Transisi demografi ini adalah suatu proses penurunan mortalitas dan fertilitas suatu penduduk yang dari tingkat yang tinggi menuju ke tingkat yang rendah, atau dari “high growth potential” menuju “incipient decline”. Transisi tersebut diberikan dalam gambar berikut:
• Tahapan Transisi Demografi
Tahap I. (High Growth Potential)
Ditandai dgn fertilitas & mortalitas yg tinggi. Pertumbuhan alami rendah bahkan turun (minus).
Tahap II.(Transitional Growth)
Ditandai dgn penurunan mortalitas lebih cepat dibandingkan fertilitas, akibatnya pertumbuhan penduduk tinggi.
Tahap III. (Incipient Decline)
Ditandai dgn fertilitas & mortalitas yg rendah & pertum-buhan penduduk juga rendah.
• Kritik Terhadap Teori Transisi Demografi
• Gambaran yang diberikan masih kasar, seperti, bahwa pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya disebabkan oleh penurunan kematian, tetapi juga naiknya fertilitas.
• Waktu yang dibutuhkan masing-masing tahapan sangat bervariasi antar negara, oleh karenanya teori ini cukup lemah untuk digeneralisasi.
• Setelah fertilitas dan mortalitas berada pada angka yang sangat rendah, pada tahap selanjutnya kemungkinan besar angka tersebut akan kembali naik. Dengan demikian sebenarnya tahapan transisi masih bisa dikembangkan lebih lanjut.
• PENDUDUK DAN PEMBANGUNAN
• BAB 3
• Perdebatan Ideologi
Ada 3 Kelompok yang Berbeda
• Kaum Nasionalis : Pertumbuhan penduduk akan Meningkatkan Pembangunan Ekonomi
• Kelompok Marxist: Tidak ada kaitan antara pertumbuhan penduduk & pembangunan ekonomi
• Kelompok Neo Malthusian: Pertumbuhan Penduduk yang Tinggi Mengakibatkan Gagalnya Pembangunan
• FERTILITAS DAN PEMBANGUNAN
• BAB 4
• Pengertian Fertilitas
Kemampuan seorang perempuan atau sekelompok perempuan secara riel untuk melahirkan
Hasil reproduksi nyata dari seorang perempuan atau sekelompok perempuan
Tindakan reproduksi yang menghasilkan kelahiran hidup.
• PENGUKURAN FERTILITAS
• Pengukuran Fertilitas Tahunan:
mencerminkan fertilitas suatu kelompok penduduk/ beberapa kelompok penduduk untuk jangka waktu satu tahun.
• Pengukuran Fertilitas Kumulatif:
mencerminkan banyaknya kelahiran sekelompok/ beberapa kelompok wanita selama masa repro-duksinya.
• Beberapa Pengukuran Fertilitas Tahunan
• CBR (Crude Birth Rate)/Angka Kelahiran Kasar
B=jumlah kelahiran dalam setahun
P=jumlah penduduk pertengahan tahun
k=konstanta= 1000
• GFR (General Fertility Rate)/Angka Fertilitas Umum
Pf15-49 =jumlah penduduk perempuan umur 15-49 tahun
• ASFR (Age Spesific Fertility Rate)
Bi=jumlah kelahiran dalam kelompok umur i dalam setahun
Pfi=jumlah penduduk perempuan pertengahan tahun kelompok
• Beberapa Pengukuran Fertilitas Kumulatif
• TFR (Total Fertility Rate)/Angka Fertilitas Total
Rata-rata jumlah anak yang dilahirkan oleh seorang pertempuan sampai akhir masa reproduksi
• GRR (Gross Reproduction Rate)/Angka Reproduksi Bruto
ASFRfi= ASFR yang dihitung hanya untuk kelahiran anak perempuan pada kelompok umur reproduksi.
• NRR (Net Reproduction Rate)/Angka Reproduksi Neto
5Lx/L0= probabilita kematian bayi dalam usia reproduksi (dari tabel kematian)
.
• FERTILITAS DAN PEMBANGUNAN
• Pengaruh pembangunan thdp penurunan fertilitas. Exp: pendidikan, partisi-pasi angkatan kerja wanita, organisasi kese-jahteraan masyarakat, listrik masuk desa.
• Pengaruh penurunan fertilitas terhadap pembangunan. Exp: partisipasi angkatan kerja wanita, pendidikan, angka tabungan, pendapatan perkapita.
• MORTALITAS, MORBIDITAS DAN PEMBANGUNAN
• BAB 5
• Pengertian
• Mortalitas: keadaan menghilangnya semua tanda-tanda kehidupan secara permanen yang biasanya terjadi setiap saat setelah kelahiran hidup.
• Morbiditas: keadaan tidak sempurna jasmani, rohani dan sosial.
• Ukuran Mortalitas
• CDR (Crude Death Rate)/Angka Kematian Kasar.
• ASDR (Age Spesific Death Rate)/Angka Kematian Menurut Umur
• IMR (Infant Mortality Rate)/ Angka Kematian Bayi
• Ukuran Morbiditas
jumlah penderita baru
• Incidence Rate = -------------------------------- 1000
populasi at risk
jumlah penderita lama dan baru
• Prevalence Rate = ------------------------------------------ 1000
populasi at risk
jumlah hari kejadian sakit pd periode tsb
• Duration of Sickness = --------------------------------------------------
jumlah kejadian sakit
• Teori Transisi Epidemiologi
Dalil 1. Kematian merupakan faktor mendasar dalam dinamika kependudukan
Dalil 2. Selama transisi, dlm jangka panjang terjadi perubahan pola kematian dan penyakit, dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif dan penyakit buatan manusia.
Dalil 3. Transisi epidemiologi biasanya lebih menguntungkan orang muda dari pada orang tua, dan lebih menguntungkan wanita dari laki-laki.
Dalil 4. Pergantian pola kesehatan dan penyakit sebelum abad 20 (di negara maju) karena membaiknya standar kehidupan dan keadaan gizi, dari pada hubungannya dengan kemajuan di bidang kedokteran. Sebaliknya, transisi abad ke 20 (di negara sdg berkembang) dimulai oleh kemajuan di bidang kedokteran, pelayanan kesehatan dan program pengendalian penyakit.
Dalil 5. Variasi khusus dalam pola, laju dan faktor penentu dan akibat perubahan kependudukan dibedakan atas 4 model. (1) Model klasik atau barat, (2) Varian yang dipercepat dari model klasik, (3) Model tertunda, (4) Varian transisi dari model tertunda.
• MOBILITAS PENDUDUK DAN PEMBANGUNAN
• BAB 6
• Klasifikasi Mobilitas
• Ukuran-ukuran Mobilitas
• Angka Mobilitas : rasio banyaknya penduduk yg pindah dlm jangka waktu tertentu dengan jumlah penduduk
• Angka Migrasi Masuk
jml migrasi masuk
IM = --------------------------- x 1000
jml pddk tengah th
• Angka Migrasi Keluar
jml migrasi keluar
OM = --------------------------- x 1000
jml pddk tengah th
• Angka Migrasi Neto
migrasi masuk – migrasi keluar
NM = ------------------------------------------- x 1000
jml pddk tengah th
• Angka Migrasi Bruto
migrasi masuk + migrasi keluar
GM = --------------------------------------------- x 1000
pddk daerah asal + daerah tujuan
• Teori-Teori Migrasi
• Model Dorong Tarik (Push-Pull Factor)
Dikemukakan oleh Everet Lee, bahwa ada 4 kelompok faktor yang mempengaruhi orang mengambil keputusan migrasi
• Faktor yg terdapat di daerah asal
• Faktor yg terdapat di daerah tujuan
• Penghalang antara
• Faktor pribadi
• Model Lewis-Fei-Rannis
Dikembangkan oleh Sir. W. Arthur Lewis, diperluas oleh John Fei dan Gustav Ranis.
Fokus utama model adalah pada proses perpindahan tenaga kerja dan pertumbuhan peluang kerja di sektor modern. Baik transfer tenaga kerja maupun pertumbuhan peluang kerja di kota dipengaruhi oleh perluasan output di sektor modern. Kecepatan perkembangannya ditentukan oleh tingkat akumulasi modal industri pada sektor modern.
• Transisi Mobilitas
Hipotesis mengenai transisi mobilitas ini pada awalnya dikemukakan oleh Zelinsky (1971).
Menurut Zelinsky, secara temporal, sesungguhnya terdapat lima tingkatan atau fase transisi mobilitas. Pada dasarnya kelima transisi mobilitas tersebut berjalan sejajar dengan fase transisi demografi atau transisi vital. Kecuali itu, fase-fase tersebut saling berkaitan satu sama lain.
• Hipotesis transisi mobilitas dimodifikasi Skeldon (1990), untuk negara2 sedang berkembang.
Tujuh tahapan Skeldon:
• Tahap Pertama: masyarakat pra transisi (pretransitional society)
Sebagian besar mobilitas merupakan mobilitas nonpermanen. Walau begitu, mobilitas ini tidak harus merupakan mobilitas jangka pendek. Dapat pula terjadi mobilitas permanen dalam bentuk kolonisasi ataupun pembukaan daerah pertanian baru.
• Tahap Kedua: masyarakat transisi awal (early transitional society).
Terjadi percepatan mobilitas nonpermanen ke daerah perkotaan, perkebunan, pertambangan. Mobilitas semacam ini diperlukan untuk mendukung pembangunan pedesaan. Penghasilan penduduk yg mobil ini membantu meningkatkan pendapatan di pedesaan. Jaringan transportasi yang luas, murah, efisien, dan cepat merupakan syarat utama terjadinya peningkatan mobilitas nonpermanen, baik sirkulasi maupun ulang alik. Juga terlihat adanya mobilitas penduduk dari satu daerah perkotaan ke daerah perkotaan yang lain, dengan kota besar sebagai tujuan utama migrasi dari kota kecil dan menengah. Terjadi peningkatan pesat dalam mobilitas ke daerah-daerah baru. Pada tahap ini migrasi masih didominasi oleh penduduk laki-laki.
• Tahap Kelima: masyarakat mulai maju (early advanced society).
Angka urbanisasi telah melampaui 50 persen dan mobilitas dari pedesaan ke perkotaan menurun. Mulai terjadi sub-urbanisasi dan dekonsentrasi penduduk. Mobilitas nonpermanen, terutama ulang-alik, meningkat lagi. Ulang alik didominasi oleh laki-laki.
• Tahap Keenam: masyarakat maju lanjut (late advanced society).
Terus terjadinya dekonsentrasi penduduk perkotaan. Penduduk perkotaan makin menyebar ke daerah perkotaan yg lebih kecil. Juga dapat terjadi peningkatan arus masuk pekerja asing, terutama migran dari negara yang masih berada pada tahap keempat. Ulang alik terjadi dengan pesat. Semua arus mobilitas ini dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan, tanpa perbedaan yang mencolok.
• Tahap ketujuh: masyarakat maju super (super advanced society).
Pada tahap ini diwarnai oleh adanya teknologi tinggi, termasuk teknologi informasi. Pada saat ini amat mungkin bahwa mobilitas permanen semakin berkurang dan mobilitas nonpermanen, terutama berujud mobilitas ulang-alik, meningkat. Sistim transportasi diganti dengan sistim komunikasi. Orang tidak perlu lagi berpindah tempat untuk dapat saling berkomunikasi.
• Thesis Brain Drain & Konsep Remitans
• Tesis Brain Drain: migrasi keluar angkatan kerja potensial berusia muda & berpendidikan dari pedesaan ke kota, cenderung membawa dampak negatif daerah yang ditinggalkan. Karenanya, migrasi diduga dapat mengganggu dan memperlambat proses pembangunan wilayah.
• Di daerah tujuan (kota), mobilitas pekerja mempersulit penataan kota, kelebihan angkatan kerja, pengangguran, pekerja miskin di sektor informal, kemiskinan dan kampung kumuh di kota.
• Namun, dampak dari tesis brain drain ini tidak sepenuhnya berlaku di negara2 sedang berkembang. Mobilitas pekerja merupakan salah satu strategi rumah tangga pedesaan. Dengan mengalokasikan SDM yg ada, rumah tangga pedesaan memanfaatkan kesempatan yg ada di luar desa. Hasil kerja di luar desa, dikirimkan dan dimanfaatkan di desa. Kiriman (remittances) migran pekerja berdampak positif bagi rumah tangga dan ekonomi pedesaan.
• INDIKATOR-INDIKATOR KUALITAS PENDUDUK
• BAB 7
• Pengertian
• Kualitas penduduk terbagi dlm kualitas fisik dan kualitas non-fisik. Kualitas fisik, minimal dapat dipakai tiga indikator yaitu ukuran antropometrik (tinggi, berat badan dan lainnya), kesehatan serta kesegaran jasmani. Kualitas non-fisik dapat berupa kecerdasan, kesehatan mental, pendidikan, religiusitas dan lainnya dari ciri non-fisik.
• Pengukurannya dapat dibedakan atas indikator individu dan kelompok. Indikator individu menunjukkan kualitas yang melekat pada masing-masing individu. Kualitas kelompok adalah menunjukkan kualitas rata-rata sekumpulan manusia yg menjadi penduduk suatu kawasan.
• Penyajian kualitas yang banyak digunakan adalah ukuran kelompok, karena lebih mudah dlm evaluasi dan intervensi kebijakan. Kelemahannya, kurang tepat jika ketimpangan antar individu dlm kelompok tersebut relatif besar.
• Pendapatan Perkapita
• Pada tahun 1950-an, paradigma pembangunan mengacu pada pertumbuhan ekonomi. Ukuran keberhasilan pembangunan adalah pembentukan modal dan produksi. Indikator yg umum digunakan untuk mengukur kualitas penduduk adalah pendapatan perkapita.
• Penggunaan pendapatan perkapita mempunyai banyak kelemahan. Diantaranya: (1) tidak tercakupnya produksi subsisten yang tidak dipasarkan, (2) terabaikannya aspek distribusi pendapatan, (3) kualitas penduduk dan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu hal yang subjektif yang tidak dapat diukur semata-mata melalui pendekatan pendapatan perkapita.
• PQLI atau IMH
• Tahun 1970-an, timbul pandangan bahwa kesenjangan merupakan masalah penting yg harus segera diatasi. Paradigma pembangunan terpusat pada usaha pemenuhan kebutuhan pokok hidup manusia.
• Untuk mengukur sejauh mana hasil pembangunan mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia dari segi peningkatan kualitas fisik kehidupan, digunakan beberapa tolok ukur.
• Morris dan Grant (1976) mengajukan PQLI (Physical Quality of Live Index) atau IMH (Indeks Mutu Hidup). Indeks tersebut mencakup tiga parameter pokok yaitu : angka kematian bayi (IMR), angka harapan hidup pada umur 1 tahun, dan tingkat melek huruf penduduk usia 15 tahun atau lebih.
• Kelemahan PQLI: tidak dapat digunakan sebagai indikator kesejahteraan total (yang didalamnya harus mengandung pengukuran tentang rasa aman, keadilan, hak-hak asasi dan hal-hal lainnya yang tidak memiliki eksistensi material).
• Di Indonesia, Sayogyo menambah variabel fertilitas (Total Fertility Rate = TFR) sebagai variabel keempat. Ia memberi nama dengan istilah IMH-plus (Indeks Mutu Hidup-plus).
• Hananto Sigit juga mengukur Indeks Mutu Hidup dengan menggunakan tiga variabel seperti yang diajukan Moris-Grant. Ia memberi nama dengan istilah : Indeks Kualitas Hidup Manusia Indonesia (IKHMI). Hananto Sigit juga mencoba menambahkan variabel pendapatan (PDRB) sebagai variabel keempat untuk indikator ini yang kemudian diberi nama IKHMI plus atau IKHMIY.
• HDI atau IPM
• Akhir tahun 1980-an, muncul paradigma yang menyatakan bahwa pembangunan adalah dari, oleh dan untuk manusia. Karenanyaprogram pembangunan harus diarahkan pada pembangunan manusia itu sendiri.
• UNDP merumuskan pembangunan manusia sebagai suatu proses perluasan spektrum pilihan manusia, meningkatkan kesempatan mereka untuk memperoleh pendidikan, pelayanan kesehatan, penghasilan dan pekerjaan.
• Tahun 1990 diperkenalkan suatu indikator yang diberi nama Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembang-unan Manusia (IPM), sebagai indikator komposit atas tiga kiteria yaitu kesehatan (diukur dari harapan hidup saat dilahirkan, pengetahuan (diukur dari angka melek huruf & rata-rata lama bersekolah, dan pendapatan (diukur dari paritas daya beli)
• ISU-ISU KEPENDUDUKAN TERKINI
• BAB 8
• 8.1. Pembangunan Berwawasan Kependudukan
• Pengertian
Secara sederhana pembangunan berwawasan kependudukan mengandung dua makna sekaligus, yaitu :
• Pembangunan yang disesuaikan dengan potensi dan kondisi penduduk yang ada. Penduduk harus dijadikan titik sentral dalam proses pembangunan. Penduduk harus dijadikan subjek dan objek dalam pembangunan. Pembangunan adalah oleh penduduk dan untuk penduduk.
• Pembangunan sumberdaya manusia. Pembangunan lebih menekankan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dibandingkan dengan pembangunan infrastruktur semata-mata.
• Dimensi Penduduk dalam Pembangunan Nasional
• Penduduk merupakan isu yg sangat strategis dalam kerangka pembangunan nasional, karena:
• Penduduk merupakan pusat seluruh kebijakan dan program pembangunan yang dilakukan. Pembangunan dikatakan berhasil jika mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk baik kualitas fisik maupun non fisik.
• Keadaan penduduk sangat mempengaruhi dinamika pembangunan. Jumlah penduduk yang besar, jika diikuti dengan kualitas penduduk yang memadai, akan merupakan pendorong bagi pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, jumlah penduduk yang besar, jika diikuti dengan tingkat kualitas rendah, menjadikan penduduk tersebut hanya sebagai beban bagi pembangunan nasional.
• 8.2. Ideologi Gender
• Pengertian
• Gender adalah bangunan "sosio-kultural" yg membe-dakan karakteristik maskulin & feminim. Berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki & perempuan yg bersifat biologis.
• Ciri maskulin atau feminim tergantung dari konteks sosial-budaya bukan semata pada perbedaan jenis kelamin. Maskulin dalam satu kebudayaan bisa dianggap sebagai feminim dalam budaya lain.
• Gender merupakan landasan bagi berlangsungnya masyarakat. Melalui sistem pengaturan gender, persepsi diri laki-laki & perempuan, apa & siapa dirinya dlm masyarakat itu ditentukan, alokasi pekerjaan diberikan, dan pembagian wewenang atau kuasa dilakukan.
• Ketidakseimbangan berdasarkan gender mengacu pada ketidakseimbangan akses sumber-sumber yg langka dlm masyarakat.
• Diferensiasi Gender
• Tiga teori dasar dlm diferensiasi gender yaitu teori neo-klasik, segmentasi pasar tenaga kerja & feminist.
• Teori neo-klasik: pembagian kerja seksual di-dasarkan perbedaan seksual dlm berbagai variabel yg mempengaruhi produktivitas pekerja.
• Perbedaan tsb meliputi pendidikan, ketrampilan, lamanya jam kerja, tanggung jawab RT, serta kekuatan fisik. Ini didasari asumsi dlm pasar persaingan sempurna, pekerja mempe-roleh upah sebesar "marginal product" yg dihasilkannya. Asumsi lain: keluarga mengalokasikan sumberdaya secara rasional, se-hingga laki-laki memperoleh investasi "human capital" yg lebih tinggi dari perempuan.
• Dua kelemahan teori ini. (1) Asumsi perbedaan fisik sbg sumber "pekerjaan-pekerjaan khas perempuan". Secara biologis hanya mengandung & melahirkan pekerjaan khas perempuan. Selain itu, tdk ada alasan biologis yg menjelaskan mengapa perem-puan harus mengasuh anak/melakukan pekerjaan domestik lainnya. (2) Asumsi laki-laki & perempuan memiliki akses peluang kerja yg sama, tidak mempertimbangkan segmentasi pasar tenaga kerja yg tdk dpt dijelaskan berdasarkan perbedaan seksual dlm "human capital".
• Kelemahan pertama ditutupi dgn teori gender/feminist, kelemahan kedua dikoreksi dgn teori pasar tenaga kerja ganda.
• Teori segmentasi pasar tenaga kerja: laki-laki pada usia prima terkonsentrasi dalam pekerjaan berupah tinggi, stabil dan dengan latihan, promosi dan prospek karier lebih baik (PRIMARY JOBS). Sedangkan perempuan berada pada SECONDARY JOBS, dengan karakteristik pekerjaan sebaliknya.
• Keterbatasan ruang lingkup kerja perempuan diakibatkan oleh karena perempuan tidak mempunyai kapasitas untuk akses pada male-dominated jobs, sehingga perempuan terkonsentrasi secara berlebih dalam suatu range kesempatan kerja terbatas, yang menekan tingkat upah perempuan.
• Teori segmentasi pasar tenaga kerja menunjukkan bahwa pekerja laki-laki dan perempuan tidak bersaing dgn landasan yang sama, karenanya tidak mempunyai akses yang sama ke lapangan kerja.
• Teori segmentasi pasar tenaga kerja tidak mampu menjelaskan mengapa segmentasi pasar tenaga kerja berdasarkan jenis kelamin terjadi. Menurut teori gender/ feminist, kedudukan perempuan yg relatif rendah dlm pasar tenaga kerja tidak dapat dipisahkan dari sistem sosial yg menem-patkan perempuan pada kedudukan yang lebih rendah daripada laki-laki.
• Gender dalam Dunia Kerja
• Diskriminasi pasar TK adalah adanya segregasi okupasi -- terdapat bagian besar dari pekerjaan untuk laki-laki dan sisanya (dgn upah yg rendah) untuk perempuan.
• Ada dua pola segregasi. Secara horizontal perempuan tersegregasi pada jenis pekerjaan berstatus rendah. Segregasi vertikal ditunjukkan dgn fungsi-fungsi tertentu dimonopoli laki-laki, yaitu fungsi dengan kewenangan yg luas, tingkat pengawasan yg tinggi serta kondisi kerja yg lebih baik.
• Segregasi vertikal maupun horizontal menyebabkan rendahnya status perempuan dlm pekerjaan. Status mencakup dua aspek sekaligus: yaitu "otonomi perempuan" dan "kekuasaan sosial".
• 8.3. Penduduk Lansia
• Pengantar
• Perhatian pemerintah di negara-negara sedang berkembang terhadap penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat, karena pesatnya pertumbuhannya.
• Lansia adalah mereka yang berusia 64 tahun ke atas (PBB) atau 60 tahun keatas (Menko Kesra)
• Lansia merupakan kelompok penduduk yg mempu-nyai resiko tinggi untuk sering sakit & menderita sakit kronis, serta mengalami ketidakmampuan.
• Hal-hal tsb membutuhkan pengobatan medis & pera-watan yg intensif. Namun, biaya rumah sakit & tekno-logi perawatan orang tua adalah mahal, sedangkan kemampuan pemerintah relatif terbatas dlm menyedi-akan dana. Oleh karenanya perlu mengembalikan peran keluarga dalam perawatan lansia.
• Dampak Pembangunan Thdp Lansia
• Tiga dampak negatif pembangunan terhadap kese-jahteraan lansia: (1) peningkatan prevalensi migrasi desa-kota, (2) meningkatnya aktivitas ekonomi wani-ta dan (3) perubahan sistem perekonomian tradisi-onal ke perekonomian modern.
• Menyebabkan terjadinya pemisahan/keluarnya pen-duduk lansia dari struktur keluarga, dalam bentuk :
a. Spatial Separation
Peningkatan prevalensi migrasi desa-kota, menye-babkan banyak lansia yg ditinggal keluarganya. Meningkatnya mobilitas penduduk (umumnya usia muda) menyebabkan lansia tidak dapat lagi menjadi satu dengan keluarga (spatial separation). Kondisi ini menyulitkan untuk tetap menyantuni orang tua mereka pada usia lanjut.
b. Cultural Separation
Meningkatnya pendidikan wanita menyebabkan nilai waktu wanita di luar rumah lebih tinggi. Menyebabkan berkurangnya alokasi waktu untuk pekerjaan kerumah-tanggaan, termasuk mengurus orang tua.
Peningkatan pendidikan generasi muda secara keselu-ruhan juga menyebabkan terjadi perbedaan nilai buda-ya penduduk usia muda dan lansia. Mengakibatkan sulit menggabungkan keduanya dalam satu kehidupan.
c. Economic Separation
Peranan orang tua yang tinggi dalam ekonomi secara tradisional, akan berkurang dalam masyarakat modern. Penghasilan angkatan kerja muda yg lebih tinggi dari orang tuanya menyebabkan rendahnya ketergantungan pada orang tua. Menyebabkan berkurangnya rasa tanggung jawab menyantuni keluarga pada usia lanjut.
Senin, 31 Agustus 2009
CONSEPT, APPROACH, PRINCIPLE AND ASPECT OF GEOGRAPHY
CONCEPT, APPROACH, PRINCIPLE AND ASPECT OF GEOGRAPHY
After learning this chapter student are expexted to be able to:
1. Describe about geographycal science
2. Scope and object of geography
3. Principle used by geographical science in analyzing every phenomenon on earth’s surface
INTRODUCTION
Geography is the science that studies similarity and difference of geospheric phenomena with environmental and regional point of view in spatial context. Basically, scope of geography encompasses all phenomena that happen on earth’s surface with some variations and spatial organizations. Therefore, geography can obtain data and facts anywhere and anytime
DEVELOPMENT of GEOGRAPHY
1. Fisis Determinis
according to fisis determinis point of view, living organism are influenced by natural law. Figures that followed this point of view were Ratzel, Huntington, and Karl Richter.
DEVELOPMENT of GEOGRAPHY
2. Posibilis
according to posibilis point of view, humans besides being influenced nature, also had role in nature according to the development of his culture. This point of view was pioneered by Paul Vidal de La Blanche
THE FOLLOWING ARE OPINIONS OF THOS FIGURES
• RATZEL (1844-1895)
• HUNTINGTON
• FERDINAN VON RICTHOFFEN (1838-1905)
• PAUL VIDAL DE La BLANCHE
• RICHARD HARTSHONE
• PRESTON E JAMES
THE DEFINITION OF GEOGRAPHY
• JAMES
• BARLOW
• I MADE SANDY
• BINTARTO
• SEMINAR AND WORKSHOP OF IGI INDONESIAN GEOGRAPHICAL in 1988 on SEMARANG
ESSENTIAL CONCEPTS OF GEOGRAPHY
There are 10 essential concepts of geography :
1. Concept of location
2. Concept of distance
3. Concept of achievability
4. Concept of pattern
5. Concept of morphology
6. Concept of aglomerasi
7. Concept of utility value
8. Concept of interaction
9. Concept of Are Differentiation
10. Concept of spatial interrelatedness
PRINCIPLES OF GEOGRAPHY
There are FOUR principles of geography :
1. Spreading principle
2. Interrelationship principle
3. Descriptive principle
4. Chorological principle
ASPECTS OF GEOGRAPHY
1. Physical Aspects
a. Climate and its elements
b. Relief of earth
c. Earthquake
2. Social Aspects
a. Population
b. Mobility of Population
c. The Spreading of Population
THE SCOPE OF GEOGRAPHY
Geography is a science that studies interaction betwen man and his environment, so geography has clear objects and scope. The object of geography basically is devided into two, that is material objects and formal objects.
THE MATERIAL OBJECTS OF GEOGRAPHY ARE GEOSPHERIC PHENOMENA THAT COVER SEVERAL LAYERS, THEY ARE :
• Lithosphere
• Atmosphere
• Hydrosphere
• Biosphere and anthroposphere
Formal objects are regions on earth surface that have their own characteristics, so they can be distinguished from other regions, usually based on natural and social aspects
CLASSIFICATION AND BRANCH OF GEOGRAPHY :
Physical Geography :
• Geology, a science that studies structure, composition, history and development process of the earth
• Pedology, a science that studies the kinds formation process of soil
• Astronomy, a science that studies celestial bodies
• Oceanology, a science that studies about physical and chemical properties of sea water
• Climatology, a science that studies about climate
• Meteorology, a science that studies about weather
• Volcanology, a science that studies about vulcanoes
• Seismology, a science that studies about earthquake
• Geophysics, a science that studies the properties of the inner part of the earth with physical method, such as measuring earthquake, gravitation, and magnetic field
• Biogeography, a study about spreading of living organisms geographically on earth’s surface
CLASSIFICATION AND BRANCH OF GEOGRAPHY :
• SOCIAL GEOGRAPHY
Social geography is a branch of geography that covers population aspects and human activities that consist of economic, politics, social, and cultural activities.
• Human geography, a branch of Geography that studies social, economy, and culture of population.
• Anthropogeography, a branch of geography that studies the spreading of races on earth, seen from geographical point of view
• Polytical geography, a branch of geography that studies geographycal conditions seen specifically
• Regional geography, a branch of geography that studies a certain region specifically
• Population geography, a branch of geography that studies the member, spreading, and composition of population
• Economic geography, a branch of geography that studies economic activities of population in a certain region
• Rural geography, a branch of geography that studies the condition of rural areas, including the the society, from geographical point of view
• Urban geography, a branch of geography that studies about urban regions, including the society, from geographycal point of view
After learning this chapter student are expexted to be able to:
1. Describe about geographycal science
2. Scope and object of geography
3. Principle used by geographical science in analyzing every phenomenon on earth’s surface
INTRODUCTION
Geography is the science that studies similarity and difference of geospheric phenomena with environmental and regional point of view in spatial context. Basically, scope of geography encompasses all phenomena that happen on earth’s surface with some variations and spatial organizations. Therefore, geography can obtain data and facts anywhere and anytime
DEVELOPMENT of GEOGRAPHY
1. Fisis Determinis
according to fisis determinis point of view, living organism are influenced by natural law. Figures that followed this point of view were Ratzel, Huntington, and Karl Richter.
DEVELOPMENT of GEOGRAPHY
2. Posibilis
according to posibilis point of view, humans besides being influenced nature, also had role in nature according to the development of his culture. This point of view was pioneered by Paul Vidal de La Blanche
THE FOLLOWING ARE OPINIONS OF THOS FIGURES
• RATZEL (1844-1895)
• HUNTINGTON
• FERDINAN VON RICTHOFFEN (1838-1905)
• PAUL VIDAL DE La BLANCHE
• RICHARD HARTSHONE
• PRESTON E JAMES
THE DEFINITION OF GEOGRAPHY
• JAMES
• BARLOW
• I MADE SANDY
• BINTARTO
• SEMINAR AND WORKSHOP OF IGI INDONESIAN GEOGRAPHICAL in 1988 on SEMARANG
ESSENTIAL CONCEPTS OF GEOGRAPHY
There are 10 essential concepts of geography :
1. Concept of location
2. Concept of distance
3. Concept of achievability
4. Concept of pattern
5. Concept of morphology
6. Concept of aglomerasi
7. Concept of utility value
8. Concept of interaction
9. Concept of Are Differentiation
10. Concept of spatial interrelatedness
PRINCIPLES OF GEOGRAPHY
There are FOUR principles of geography :
1. Spreading principle
2. Interrelationship principle
3. Descriptive principle
4. Chorological principle
ASPECTS OF GEOGRAPHY
1. Physical Aspects
a. Climate and its elements
b. Relief of earth
c. Earthquake
2. Social Aspects
a. Population
b. Mobility of Population
c. The Spreading of Population
THE SCOPE OF GEOGRAPHY
Geography is a science that studies interaction betwen man and his environment, so geography has clear objects and scope. The object of geography basically is devided into two, that is material objects and formal objects.
THE MATERIAL OBJECTS OF GEOGRAPHY ARE GEOSPHERIC PHENOMENA THAT COVER SEVERAL LAYERS, THEY ARE :
• Lithosphere
• Atmosphere
• Hydrosphere
• Biosphere and anthroposphere
Formal objects are regions on earth surface that have their own characteristics, so they can be distinguished from other regions, usually based on natural and social aspects
CLASSIFICATION AND BRANCH OF GEOGRAPHY :
Physical Geography :
• Geology, a science that studies structure, composition, history and development process of the earth
• Pedology, a science that studies the kinds formation process of soil
• Astronomy, a science that studies celestial bodies
• Oceanology, a science that studies about physical and chemical properties of sea water
• Climatology, a science that studies about climate
• Meteorology, a science that studies about weather
• Volcanology, a science that studies about vulcanoes
• Seismology, a science that studies about earthquake
• Geophysics, a science that studies the properties of the inner part of the earth with physical method, such as measuring earthquake, gravitation, and magnetic field
• Biogeography, a study about spreading of living organisms geographically on earth’s surface
CLASSIFICATION AND BRANCH OF GEOGRAPHY :
• SOCIAL GEOGRAPHY
Social geography is a branch of geography that covers population aspects and human activities that consist of economic, politics, social, and cultural activities.
• Human geography, a branch of Geography that studies social, economy, and culture of population.
• Anthropogeography, a branch of geography that studies the spreading of races on earth, seen from geographical point of view
• Polytical geography, a branch of geography that studies geographycal conditions seen specifically
• Regional geography, a branch of geography that studies a certain region specifically
• Population geography, a branch of geography that studies the member, spreading, and composition of population
• Economic geography, a branch of geography that studies economic activities of population in a certain region
• Rural geography, a branch of geography that studies the condition of rural areas, including the the society, from geographical point of view
• Urban geography, a branch of geography that studies about urban regions, including the society, from geographycal point of view
DASAR-DASAR ILMU KEPENDUDUKAN
Dasar-Dasar Ilmu Kependudukan
By Isfaniy
Ilmu kependudukan adalah suatu disiplin ilmu yang tidak dapat dipisahkan dalam pendalaman ilmu kesehatan masyarakat, karena dalam penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, maka yang paling urgent untuk diketahui struktur dari suatu masyarakat itu sendiri dan pendekatan jenis apa yang harus dipakai untuk dapat berinterkasi dalam sebuah populasi masyarakat.
Salah satu definisi dari Ilmu kependudukan adalah : suatu ilmu yang mempelajari penduduk (suatu wilayah) terutama mengenai jumah, sruktur (komposisi penduduk dan perkembangan dan perubahannya. (Multilingual Demografic Dictionary, 1982).
Definisi lain yang dikemukakan oleh ahli lain adalah : Ilmu yang mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan dan penyebab perubahan-perubahan yang terjadi tersebut. yang biasanya timbul karena natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak teritorial (migrasi) dan mobilitas sosial (perubahan status). (Philip M. Hauser dan Duddley Duncan. 1959 )
Sedangkan demografi memiliki arti : tulisan atau karangan mengenai rakyat atau penduduk
Jadi dapat disimpulkan bahwa demografi mempelajari struktur dan proses penduduk di suatu wilayah, yang strukturnya meliputi : Jumlah, Persebaran dan Komposisi Penduduk. Struktur penduduk ini dapat selalu berubah-rubah dan perubahan ini disebabkan karena proses demografi yaitu : kelahiran, kematian dan migrasi penduduk.
3 (tiga) variable dasar demografi (basic demografic variable) :
1. having children
2. moving
3. dying
Jika dibedah lebih dalam inti telaah dari demografi adalah :
1. Kajian kependudukan secara statistika dan matematika menyangkut perubahan penduduk, besar/jumlah, komposisi dan distribusi penduduk melalui 5 komponen demografi yakni fertillitas, mortalitas, perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial (Bogue, 1976)
2. Barcley (1981) lebih menekankan pada kajian tentang perilaku penduduk secara keseluruhan buan pada perorangan dengan fokus kajian pada statistika dan matematika (Pure Demografi)
3. Houser and Duncan, lebih menitikberatkan pda dampak yang ditimbulkan oleh perubahan-perubahan penduduk (akses dari persebaran dan komposisi)
Dalam ilmu kependudukan juga dikenal istilah Study kependudukan, yaitu : segala perubahan yang berhubungan dengan aspek kehidupan berupa komponen-komponen (kelahiran, kematian dan perpindahan) yang berkaitan dengan jumah, komposisi dan distribusi penduduk menurut umur dan jenis kelamin.
Ruang Lingkup Ilmu Kependudukan
Demografi menekankan pada kajian-kajian sebagai berikut :
1. Besar atau jumlah, komposisi dan distribusi penduduk dalam suatu wilayah
2. Perubahan-perubahan dari jumlah penduduk, komposisi dan distribusinya.
3. Komponen-komponen dari perubahan tersebut
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan komponen-komponen tersebut
5. Konsekuensi dari perubahan baik jumlah, komposisi ataupun distribusi dalam komponen-komponen tersebut
Beberapa catatan tentang kajian kependudukan :
• Besar atau jumlah penduduk hanya dapat berubah melalui fertilitas, mortalitas dan migrasi.
• Bilamana seseorang lahir, mati atau pindah berarti secara terus menerus penduduk bertamah atau bekurang
• Penduduk bertambah dengan cara kelahiran , pindah datang (moving-in) ke suatu wilayah
• Demikian pula jumlah penduduk akan berkurang dengan adanya kematian atau perpindahan keluar (moving-out) dari suatu wilayah
Sumber-sumber Data Dalam Kajian Ilmu Kependudukan
Sumber data yang biasanya dipakai dalam ilmu kependudukan adalah segala terbitan resmi, baik dalam bentuk angka grafik atau gambar yang merupakan sumber data.
Guna menganalisa demografi suatu masyarakat secara geografis perlu diketahui berapa jumlah penduduk yang tinggal disana. bagaimana penyebarannya, bagaimana penyebarannya, berapa yang lahir dan yang mati dalam tahun berjalan, berapa yang masuk (moving-in) dan berapa yang keluar (moving-out).
3 jenis informasi utama yang diperlukan dalam studi kependudukan :
1. population size and distribution
2. population process (fertility, mortality and migration)
3. Population structure dan characteristic
Dalam Kependudukan Juga dikenal 3 (tiga) sumber data utama, yaitu :
SENSUS PENDUDUK
Suatu perhitungan penduduk secara lengkap dengan menghitung seluruh populasi dalam suatu negara, biasanya dilakukan karena pemerintah ingin mendapatkan data setiap penduduk yang meliputi : nama, alamat, hubungan dengan kepala keluarga, jenis kelamin, etnis, agama, umur, tahun kelahiran, status perkawinan, kewarganegaraan, dan lain-lain.
Jadi sensus penduduk merupakan keseluruhan proses pengumpulan data (collecting), menghimpun dan menyusun (compiling) dan menerbitkan data-data yang meliputi semua orang pada waktu tertentu di suatu negara atau wilayah tertentu.
Ada beberapa karakteristik perbedaan antara sensus dengan pengumpulan data yang lain, yaitu :
1. Semua orang atau penduduk yang hidup dalam wilayah tercacah harus tercakup
2. Serentak dilakukan pada satu waktu tertentu
3. Dilaksanakan di suatu wilayah tertentu.
- Unit cacah sensus adalah : perorangan, bukan KK atau RT
- Sensus baru dikatakan selesai apabila semua informasi yang dikumpulkan suda diterbitkan
SURVEY
Bila sensus meliputi seluruh penduduk maka survey hanya mengambil sampel dari seluruh populasi saja.
Kelebihan survey adalah :
1. Pengambilan data terkonsentrasi untuk tujuan tertentu karena itu sangat berpotensi untuk dikembangkan baik dalam skala besar maupun kecil.
2. Dilaksanakan oleh orang lain yang berbeda dan biasanya terdiri dari tenaga profesional sesuai dengan sasaran masing-masing dan dilaksanakan dengan cara yang berbeda pula
3. Biaya (cost) bisa lebih hemat sesuai dengan cakupannya
REGISTRASI VITAL
sistem ini telah dikenal sejak alam, Yaitu suatu pengumpulan data mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam masyaraat, sperti : kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, adopsi, migrasi dan lain sebagainya.
Jadi singkatanya registrasi viatla adalah semua sumber sejarah yang tercatat secara resmi baik oleh pemerintah maupun oleh badan swasta lainnya.
Kelebihan dari sisitem Registrasi adalah : data bertahan lama dan gampang diperoleh kapan saja diperlukan
Tujuan Kajian Kependudukan
Dilihat dari variable dasar demografi dan karakteristic penduduk maka para pakar bersepakat menyatakan tujuan utama kajian ilmu kependudukan adalah :
1. Mengetahui kualitas dan distribusi penduduk dalam suatu daerah tertentu
2. Menjelaskan pertumbuhan masa yang lampau, penurunannya dan persebarannya dengan data yang tersedia
3. mengembangkan sebab akibat anatara perkembangan laju pertumbuhan penduduk dengan berbagai aspek sosial lainnya
4. Mencoba meramalkan pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang dengan kemungkinan-kemungkinan konsekuensinya.
Beberapa Teori Tentang Kependudukan
Population perspekstif ialah suatu pandangan yang berhubungan erat dengan informasi dasar akan teori-teori atau pandangan bagaimana dunia berasimilasi secara demografi
Secara luas dalam hal ini dikenal adanya 2 doctrine :
I. Doktrin Pro – Natalis
Masyarakat zaman dulu hanya menganut 1 paham yang menginginkan keberadaan penduduk yang banyak sebagai generasi penggantiakibat tingkat kematian yang telalu tinggi.
Plato dalam tulisannya “The Law” menekankan bahwa kestabilan jumlah penduduk amat penting demi untuk menjamin kesempurnaan hidup manusia.
Zaman emperium Romawi, dibawah Caesar Julius dan Agustus Caesar ditandai dengan penganut Doktrin Pro-natalis.
Dalam hal ini penduduk yang banyak mutlak harus dipersiapakan untuk kesiapan angkatan perang yang akan menjamin keselamatan emperiumnya. Jadi paham ini lebih banyak dianut oleh raja-raja zaman dahulu atau paling kurang masih memiliki pemikiran tradisional.
II. Doctrine Anti – Natalis
Paham ini didominasi oleh aliran kristenisi yang mulai berkembang di Eropa Tengah, dan doktrin ini berkembang dengan sangat pesat.
Dewasa ini hampir semua negara berkembanng atau maju sudah menganut doktrin Anti-Natalis, karena dalam kenyataannya proses pembangunan ekonomi harus berorientasi pada keseimbangan antara jumlah penduduk dengan pertumbuhan ekonomi.
” Pandangan Maltus”
Thomas Robert Maltus (1798) seorang ahli di bidang ekonomi yang juga seorang pendeta terkenal di Inggris. Maltus saat itu berpandangan bahwa : penduduk memiliki kemampuan laur biasa untuk berkembang. Jika pertumbuhan penduduk tersebut tidak dikendalikan maka pertumbuhannya akan mengikut deret pola ukur (2, 4, 8, 16, 32, ……), sedangkan pertumbuhan ekonomi dan pangan akan mengikuti deret pola hitung (1, 2, 3, 4, 5, …………)
Menurut Maltus ada 2 cara pengendaliannya, yaitu :
1. Positive Check : yaitu cara pengendalian yang tidak moralis dan tidak dapat dikontrol seperti perang, wabah, atau perlakuan manusia lainnya yang tidak berperikemanusiaan.
2. Preventive Check : yaitu dengan pengekangan moral dalam membatasi kelahiran (birth control ). dan untuk ini cara yang dianjurkan adalah dengan menunda atau pendewasaan perkawinan (PUP)
Maltus sendiri pada waktu itu konsekuen dengan apa yang diucapkannya yaitu dengan menikah pada usia 35 tahun dan hanya punya 2 anak. Maltus sangat yakin bahwa secara alamiah konsekuensi pertumbuhan penduduk yang tidak bisa dikendalikan adalah kelaparan, alasannya adalah :
• Manusia memiliki kemampuan berkembang secara alamiah dan tidak terbatas secara natural
• Sedangkan penigkatan makanan selalu tidak akan mengimbangi pertumbuahn penduduk.
• Pertumbuhan penduduk yang pesat juga akan menciptakan pengangguran (unemployment)
Pendapt Maltus sendiri banyak mendapatkan sanggahan dari berbagai pihak karena Maltus tidak mempertimbangkan kemajuan tekhnologi.
Paham Marvist
Karl Marvist dan Friedrich Engels (1834) adalh generasi sesudah Maltus.
Paham Marvist umumnya tidak setuju dengan pandangan Maltus, karena menurutnya paham Maltus bertentangan dengan nurani manusia.
Dasar Pegangan Marvist adalah :
1. Beranjak dari pengalaman bahwa manusia sepanjang sejarah akan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
2. Beda pandangan Marvist dan Maltus adalah pada “Natural Resource” tidak bisa dikembangkan atau mengimbangi kecepatan pertumbuhan penduduk.
Kesimpulan
1. Kalangan pesimis bersiteguh bahwa pertumbuhan penduduk adalah sesuatu yang sangat mengerikan sperti suatu ledakan bom yang dahsyat, sedangkan kalangan optimis berharap pertumbuhan penduduk pertumbuhan penduduk akan diimbangkan dengan penemuan dan kemajuan tekhnologi
2. Apakah anda seorang pesimis atau optimis, yang pasti anda akan hidup dan berjuang bersama jutaan manusia lainnya seperti sekarang.
3. Ruang lingkup kajian demografi meliputi semua persoalan yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh besarnya jumlah penduduk (population size), penyebarannya, proses, bentuk karakteris penduduk
4. Inti perubahan kajian kependudukan ialah proses kematian, kelahiran dan imigrasi
5. Untuk mendalamia kajian proses dan perubahan penduduk anda perlu mengetahui berapa jumlah penduduk yang hidup, berapa yang lahir dan berpa yang mati, jumlah yang masuk, keluar dan alasan mengapa semua itu terjadi
Sumber :
http://tuloe.wordpress.com/2009/06/20/dasar-dasar-ilmu-kependudukan/
By Isfaniy
Ilmu kependudukan adalah suatu disiplin ilmu yang tidak dapat dipisahkan dalam pendalaman ilmu kesehatan masyarakat, karena dalam penyuluhan kesehatan kepada masyarakat, maka yang paling urgent untuk diketahui struktur dari suatu masyarakat itu sendiri dan pendekatan jenis apa yang harus dipakai untuk dapat berinterkasi dalam sebuah populasi masyarakat.
Salah satu definisi dari Ilmu kependudukan adalah : suatu ilmu yang mempelajari penduduk (suatu wilayah) terutama mengenai jumah, sruktur (komposisi penduduk dan perkembangan dan perubahannya. (Multilingual Demografic Dictionary, 1982).
Definisi lain yang dikemukakan oleh ahli lain adalah : Ilmu yang mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk serta perubahan dan penyebab perubahan-perubahan yang terjadi tersebut. yang biasanya timbul karena natalitas (fertilitas), mortalitas, gerak teritorial (migrasi) dan mobilitas sosial (perubahan status). (Philip M. Hauser dan Duddley Duncan. 1959 )
Sedangkan demografi memiliki arti : tulisan atau karangan mengenai rakyat atau penduduk
Jadi dapat disimpulkan bahwa demografi mempelajari struktur dan proses penduduk di suatu wilayah, yang strukturnya meliputi : Jumlah, Persebaran dan Komposisi Penduduk. Struktur penduduk ini dapat selalu berubah-rubah dan perubahan ini disebabkan karena proses demografi yaitu : kelahiran, kematian dan migrasi penduduk.
3 (tiga) variable dasar demografi (basic demografic variable) :
1. having children
2. moving
3. dying
Jika dibedah lebih dalam inti telaah dari demografi adalah :
1. Kajian kependudukan secara statistika dan matematika menyangkut perubahan penduduk, besar/jumlah, komposisi dan distribusi penduduk melalui 5 komponen demografi yakni fertillitas, mortalitas, perkawinan, migrasi dan mobilitas sosial (Bogue, 1976)
2. Barcley (1981) lebih menekankan pada kajian tentang perilaku penduduk secara keseluruhan buan pada perorangan dengan fokus kajian pada statistika dan matematika (Pure Demografi)
3. Houser and Duncan, lebih menitikberatkan pda dampak yang ditimbulkan oleh perubahan-perubahan penduduk (akses dari persebaran dan komposisi)
Dalam ilmu kependudukan juga dikenal istilah Study kependudukan, yaitu : segala perubahan yang berhubungan dengan aspek kehidupan berupa komponen-komponen (kelahiran, kematian dan perpindahan) yang berkaitan dengan jumah, komposisi dan distribusi penduduk menurut umur dan jenis kelamin.
Ruang Lingkup Ilmu Kependudukan
Demografi menekankan pada kajian-kajian sebagai berikut :
1. Besar atau jumlah, komposisi dan distribusi penduduk dalam suatu wilayah
2. Perubahan-perubahan dari jumlah penduduk, komposisi dan distribusinya.
3. Komponen-komponen dari perubahan tersebut
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan komponen-komponen tersebut
5. Konsekuensi dari perubahan baik jumlah, komposisi ataupun distribusi dalam komponen-komponen tersebut
Beberapa catatan tentang kajian kependudukan :
• Besar atau jumlah penduduk hanya dapat berubah melalui fertilitas, mortalitas dan migrasi.
• Bilamana seseorang lahir, mati atau pindah berarti secara terus menerus penduduk bertamah atau bekurang
• Penduduk bertambah dengan cara kelahiran , pindah datang (moving-in) ke suatu wilayah
• Demikian pula jumlah penduduk akan berkurang dengan adanya kematian atau perpindahan keluar (moving-out) dari suatu wilayah
Sumber-sumber Data Dalam Kajian Ilmu Kependudukan
Sumber data yang biasanya dipakai dalam ilmu kependudukan adalah segala terbitan resmi, baik dalam bentuk angka grafik atau gambar yang merupakan sumber data.
Guna menganalisa demografi suatu masyarakat secara geografis perlu diketahui berapa jumlah penduduk yang tinggal disana. bagaimana penyebarannya, bagaimana penyebarannya, berapa yang lahir dan yang mati dalam tahun berjalan, berapa yang masuk (moving-in) dan berapa yang keluar (moving-out).
3 jenis informasi utama yang diperlukan dalam studi kependudukan :
1. population size and distribution
2. population process (fertility, mortality and migration)
3. Population structure dan characteristic
Dalam Kependudukan Juga dikenal 3 (tiga) sumber data utama, yaitu :
SENSUS PENDUDUK
Suatu perhitungan penduduk secara lengkap dengan menghitung seluruh populasi dalam suatu negara, biasanya dilakukan karena pemerintah ingin mendapatkan data setiap penduduk yang meliputi : nama, alamat, hubungan dengan kepala keluarga, jenis kelamin, etnis, agama, umur, tahun kelahiran, status perkawinan, kewarganegaraan, dan lain-lain.
Jadi sensus penduduk merupakan keseluruhan proses pengumpulan data (collecting), menghimpun dan menyusun (compiling) dan menerbitkan data-data yang meliputi semua orang pada waktu tertentu di suatu negara atau wilayah tertentu.
Ada beberapa karakteristik perbedaan antara sensus dengan pengumpulan data yang lain, yaitu :
1. Semua orang atau penduduk yang hidup dalam wilayah tercacah harus tercakup
2. Serentak dilakukan pada satu waktu tertentu
3. Dilaksanakan di suatu wilayah tertentu.
- Unit cacah sensus adalah : perorangan, bukan KK atau RT
- Sensus baru dikatakan selesai apabila semua informasi yang dikumpulkan suda diterbitkan
SURVEY
Bila sensus meliputi seluruh penduduk maka survey hanya mengambil sampel dari seluruh populasi saja.
Kelebihan survey adalah :
1. Pengambilan data terkonsentrasi untuk tujuan tertentu karena itu sangat berpotensi untuk dikembangkan baik dalam skala besar maupun kecil.
2. Dilaksanakan oleh orang lain yang berbeda dan biasanya terdiri dari tenaga profesional sesuai dengan sasaran masing-masing dan dilaksanakan dengan cara yang berbeda pula
3. Biaya (cost) bisa lebih hemat sesuai dengan cakupannya
REGISTRASI VITAL
sistem ini telah dikenal sejak alam, Yaitu suatu pengumpulan data mengenai peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dalam masyaraat, sperti : kelahiran, kematian, perkawinan, perceraian, adopsi, migrasi dan lain sebagainya.
Jadi singkatanya registrasi viatla adalah semua sumber sejarah yang tercatat secara resmi baik oleh pemerintah maupun oleh badan swasta lainnya.
Kelebihan dari sisitem Registrasi adalah : data bertahan lama dan gampang diperoleh kapan saja diperlukan
Tujuan Kajian Kependudukan
Dilihat dari variable dasar demografi dan karakteristic penduduk maka para pakar bersepakat menyatakan tujuan utama kajian ilmu kependudukan adalah :
1. Mengetahui kualitas dan distribusi penduduk dalam suatu daerah tertentu
2. Menjelaskan pertumbuhan masa yang lampau, penurunannya dan persebarannya dengan data yang tersedia
3. mengembangkan sebab akibat anatara perkembangan laju pertumbuhan penduduk dengan berbagai aspek sosial lainnya
4. Mencoba meramalkan pertumbuhan penduduk di masa yang akan datang dengan kemungkinan-kemungkinan konsekuensinya.
Beberapa Teori Tentang Kependudukan
Population perspekstif ialah suatu pandangan yang berhubungan erat dengan informasi dasar akan teori-teori atau pandangan bagaimana dunia berasimilasi secara demografi
Secara luas dalam hal ini dikenal adanya 2 doctrine :
I. Doktrin Pro – Natalis
Masyarakat zaman dulu hanya menganut 1 paham yang menginginkan keberadaan penduduk yang banyak sebagai generasi penggantiakibat tingkat kematian yang telalu tinggi.
Plato dalam tulisannya “The Law” menekankan bahwa kestabilan jumlah penduduk amat penting demi untuk menjamin kesempurnaan hidup manusia.
Zaman emperium Romawi, dibawah Caesar Julius dan Agustus Caesar ditandai dengan penganut Doktrin Pro-natalis.
Dalam hal ini penduduk yang banyak mutlak harus dipersiapakan untuk kesiapan angkatan perang yang akan menjamin keselamatan emperiumnya. Jadi paham ini lebih banyak dianut oleh raja-raja zaman dahulu atau paling kurang masih memiliki pemikiran tradisional.
II. Doctrine Anti – Natalis
Paham ini didominasi oleh aliran kristenisi yang mulai berkembang di Eropa Tengah, dan doktrin ini berkembang dengan sangat pesat.
Dewasa ini hampir semua negara berkembanng atau maju sudah menganut doktrin Anti-Natalis, karena dalam kenyataannya proses pembangunan ekonomi harus berorientasi pada keseimbangan antara jumlah penduduk dengan pertumbuhan ekonomi.
” Pandangan Maltus”
Thomas Robert Maltus (1798) seorang ahli di bidang ekonomi yang juga seorang pendeta terkenal di Inggris. Maltus saat itu berpandangan bahwa : penduduk memiliki kemampuan laur biasa untuk berkembang. Jika pertumbuhan penduduk tersebut tidak dikendalikan maka pertumbuhannya akan mengikut deret pola ukur (2, 4, 8, 16, 32, ……), sedangkan pertumbuhan ekonomi dan pangan akan mengikuti deret pola hitung (1, 2, 3, 4, 5, …………)
Menurut Maltus ada 2 cara pengendaliannya, yaitu :
1. Positive Check : yaitu cara pengendalian yang tidak moralis dan tidak dapat dikontrol seperti perang, wabah, atau perlakuan manusia lainnya yang tidak berperikemanusiaan.
2. Preventive Check : yaitu dengan pengekangan moral dalam membatasi kelahiran (birth control ). dan untuk ini cara yang dianjurkan adalah dengan menunda atau pendewasaan perkawinan (PUP)
Maltus sendiri pada waktu itu konsekuen dengan apa yang diucapkannya yaitu dengan menikah pada usia 35 tahun dan hanya punya 2 anak. Maltus sangat yakin bahwa secara alamiah konsekuensi pertumbuhan penduduk yang tidak bisa dikendalikan adalah kelaparan, alasannya adalah :
• Manusia memiliki kemampuan berkembang secara alamiah dan tidak terbatas secara natural
• Sedangkan penigkatan makanan selalu tidak akan mengimbangi pertumbuahn penduduk.
• Pertumbuhan penduduk yang pesat juga akan menciptakan pengangguran (unemployment)
Pendapt Maltus sendiri banyak mendapatkan sanggahan dari berbagai pihak karena Maltus tidak mempertimbangkan kemajuan tekhnologi.
Paham Marvist
Karl Marvist dan Friedrich Engels (1834) adalh generasi sesudah Maltus.
Paham Marvist umumnya tidak setuju dengan pandangan Maltus, karena menurutnya paham Maltus bertentangan dengan nurani manusia.
Dasar Pegangan Marvist adalah :
1. Beranjak dari pengalaman bahwa manusia sepanjang sejarah akan dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
2. Beda pandangan Marvist dan Maltus adalah pada “Natural Resource” tidak bisa dikembangkan atau mengimbangi kecepatan pertumbuhan penduduk.
Kesimpulan
1. Kalangan pesimis bersiteguh bahwa pertumbuhan penduduk adalah sesuatu yang sangat mengerikan sperti suatu ledakan bom yang dahsyat, sedangkan kalangan optimis berharap pertumbuhan penduduk pertumbuhan penduduk akan diimbangkan dengan penemuan dan kemajuan tekhnologi
2. Apakah anda seorang pesimis atau optimis, yang pasti anda akan hidup dan berjuang bersama jutaan manusia lainnya seperti sekarang.
3. Ruang lingkup kajian demografi meliputi semua persoalan yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh besarnya jumlah penduduk (population size), penyebarannya, proses, bentuk karakteris penduduk
4. Inti perubahan kajian kependudukan ialah proses kematian, kelahiran dan imigrasi
5. Untuk mendalamia kajian proses dan perubahan penduduk anda perlu mengetahui berapa jumlah penduduk yang hidup, berapa yang lahir dan berpa yang mati, jumlah yang masuk, keluar dan alasan mengapa semua itu terjadi
Sumber :
http://tuloe.wordpress.com/2009/06/20/dasar-dasar-ilmu-kependudukan/
Sabtu, 15 Agustus 2009
Upaya Pelestarian Flora dan Fauna
Upaya-Upaya Pelestarian Flora dan Fauna
Beberapa jenis flora dan fauna kini semakin sulit ditemui karena banyak diburu untuk tujuan tertentu (dimakan, untuk obat, perhiasan) maupun tempat hidupnya dirusak manusia misalnya unntuk dijadikan lahan pertanian, perumahan, industri, dan sebagainya. Flora dan fauna yang jumlahnya sangat terbatas tersebut dinyatakan sebagai flora dan fauna langka. Untuk mencegah semakin punahnya flora dan fauna ini maka dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
a. Ditetapkan tempat perlindungan bagi flora dan fauna agar perkembangbiakannya tidak terganggu. Tempat-tempat perlindungan ini berupa cagar alam bagi flora dan suaka margasatwa bagi fauna.
b. Membangun beberapa pusat rehabilitasi dan tempat-tempat penangkaran bagi hewan-hewan tertentu, seperti:
• Pusat rehabilitasi orang utan di Bohorok dan Tanjung Putting di Sumatera.
• Daerah hutan Wanariset Samboja di Kutai, Kalimantan Timur.
• Pusat rehabilitasi babi rusa dan anoa di Sulawesi.
c. Pembangunan yang berwawasan lingkungan, berarti pembangunan harus memperhatikan keseimbangan yang sehat antara manusia dengan lingkungannya.
d. Menetapkan beberapa jenis binatang yang perlu dilindungi seperti: Soa-soa (biawak), Komodo, Landak Semut Irian, Kanguru Pohon, Bekantan, Orang Utan (Mawas), Kelinci liar, bajing terbang, bajing tanah, Siamang, macan Kumbang, beruang madu, macan dahan kuwuk, Pesut, ikan Duyung, gajah, tapir, badak, anoa, menjangan, banteng, kambing hutan, Sarudung, owa, Sing Puar, Peusing.
e. Melakukan usaha pelestarian hutan, antara lain:
• mencegah pencurian kayu dan penebangan hutan secara liar.
• perbaikan kondisi lingkungan hutan.
• menanam kembali di tempat tumbuhan yang pohonnya di tebang.
• sistem tebang pilih.
f. Melakukan usaha pelestarian hewan, antara lain:
• melindungi hewan dari perburuan dan pembunuhan liar.
• mengembalikan hewan piaraan ke kawasan habitatnya.
• mengawasi pengeluaran hewan ke luar negeri.
g. Melakukan usaha pelestarian biota perairan, antara lain:
• mencegah perusakan wilayah perairan.
• melarang cara-cara penangkapan yang dapat mematikan ikan dan biota lainnya, misalnya dengan bahan peledak.
• melindungi anak ikan dari gangguan dan penangkapan.
Beberapa jenis flora dan fauna kini semakin sulit ditemui karena banyak diburu untuk tujuan tertentu (dimakan, untuk obat, perhiasan) maupun tempat hidupnya dirusak manusia misalnya unntuk dijadikan lahan pertanian, perumahan, industri, dan sebagainya. Flora dan fauna yang jumlahnya sangat terbatas tersebut dinyatakan sebagai flora dan fauna langka. Untuk mencegah semakin punahnya flora dan fauna ini maka dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
a. Ditetapkan tempat perlindungan bagi flora dan fauna agar perkembangbiakannya tidak terganggu. Tempat-tempat perlindungan ini berupa cagar alam bagi flora dan suaka margasatwa bagi fauna.
b. Membangun beberapa pusat rehabilitasi dan tempat-tempat penangkaran bagi hewan-hewan tertentu, seperti:
• Pusat rehabilitasi orang utan di Bohorok dan Tanjung Putting di Sumatera.
• Daerah hutan Wanariset Samboja di Kutai, Kalimantan Timur.
• Pusat rehabilitasi babi rusa dan anoa di Sulawesi.
c. Pembangunan yang berwawasan lingkungan, berarti pembangunan harus memperhatikan keseimbangan yang sehat antara manusia dengan lingkungannya.
d. Menetapkan beberapa jenis binatang yang perlu dilindungi seperti: Soa-soa (biawak), Komodo, Landak Semut Irian, Kanguru Pohon, Bekantan, Orang Utan (Mawas), Kelinci liar, bajing terbang, bajing tanah, Siamang, macan Kumbang, beruang madu, macan dahan kuwuk, Pesut, ikan Duyung, gajah, tapir, badak, anoa, menjangan, banteng, kambing hutan, Sarudung, owa, Sing Puar, Peusing.
e. Melakukan usaha pelestarian hutan, antara lain:
• mencegah pencurian kayu dan penebangan hutan secara liar.
• perbaikan kondisi lingkungan hutan.
• menanam kembali di tempat tumbuhan yang pohonnya di tebang.
• sistem tebang pilih.
f. Melakukan usaha pelestarian hewan, antara lain:
• melindungi hewan dari perburuan dan pembunuhan liar.
• mengembalikan hewan piaraan ke kawasan habitatnya.
• mengawasi pengeluaran hewan ke luar negeri.
g. Melakukan usaha pelestarian biota perairan, antara lain:
• mencegah perusakan wilayah perairan.
• melarang cara-cara penangkapan yang dapat mematikan ikan dan biota lainnya, misalnya dengan bahan peledak.
• melindungi anak ikan dari gangguan dan penangkapan.
Upaya Pelestarian Flora dan Fauna
Upaya-Upaya Pelestarian Flora dan Fauna
Beberapa jenis flora dan fauna kini semakin sulit ditemui karena banyak diburu untuk tujuan tertentu (dimakan, untuk obat, perhiasan) maupun tempat hidupnya dirusak manusia misalnya unntuk dijadikan lahan pertanian, perumahan, industri, dan sebagainya. Flora dan fauna yang jumlahnya sangat terbatas tersebut dinyatakan sebagai flora dan fauna langka. Untuk mencegah semakin punahnya flora dan fauna ini maka dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
a. Ditetapkan tempat perlindungan bagi flora dan fauna agar perkembangbiakannya tidak terganggu. Tempat-tempat perlindungan ini berupa cagar alam bagi flora dan suaka margasatwa bagi fauna.
b. Membangun beberapa pusat rehabilitasi dan tempat-tempat penangkaran bagi hewan-hewan tertentu, seperti:
• Pusat rehabilitasi orang utan di Bohorok dan Tanjung Putting di Sumatera.
• Daerah hutan Wanariset Samboja di Kutai, Kalimantan Timur.
• Pusat rehabilitasi babi rusa dan anoa di Sulawesi.
c. Pembangunan yang berwawasan lingkungan, berarti pembangunan harus memperhatikan keseimbangan yang sehat antara manusia dengan lingkungannya.
d. Menetapkan beberapa jenis binatang yang perlu dilindungi seperti: Soa-soa (biawak), Komodo, Landak Semut Irian, Kanguru Pohon, Bekantan, Orang Utan (Mawas), Kelinci liar, bajing terbang, bajing tanah, Siamang, macan Kumbang, beruang madu, macan dahan kuwuk, Pesut, ikan Duyung, gajah, tapir, badak, anoa, menjangan, banteng, kambing hutan, Sarudung, owa, Sing Puar, Peusing.
e. Melakukan usaha pelestarian hutan, antara lain:
• mencegah pencurian kayu dan penebangan hutan secara liar.
• perbaikan kondisi lingkungan hutan.
• menanam kembali di tempat tumbuhan yang pohonnya di tebang.
• sistem tebang pilih.
f. Melakukan usaha pelestarian hewan, antara lain:
• melindungi hewan dari perburuan dan pembunuhan liar.
• mengembalikan hewan piaraan ke kawasan habitatnya.
• mengawasi pengeluaran hewan ke luar negeri.
g. Melakukan usaha pelestarian biota perairan, antara lain:
• mencegah perusakan wilayah perairan.
• melarang cara-cara penangkapan yang dapat mematikan ikan dan biota lainnya, misalnya dengan bahan peledak.
• melindungi anak ikan dari gangguan dan penangkapan.
Beberapa jenis flora dan fauna kini semakin sulit ditemui karena banyak diburu untuk tujuan tertentu (dimakan, untuk obat, perhiasan) maupun tempat hidupnya dirusak manusia misalnya unntuk dijadikan lahan pertanian, perumahan, industri, dan sebagainya. Flora dan fauna yang jumlahnya sangat terbatas tersebut dinyatakan sebagai flora dan fauna langka. Untuk mencegah semakin punahnya flora dan fauna ini maka dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
a. Ditetapkan tempat perlindungan bagi flora dan fauna agar perkembangbiakannya tidak terganggu. Tempat-tempat perlindungan ini berupa cagar alam bagi flora dan suaka margasatwa bagi fauna.
b. Membangun beberapa pusat rehabilitasi dan tempat-tempat penangkaran bagi hewan-hewan tertentu, seperti:
• Pusat rehabilitasi orang utan di Bohorok dan Tanjung Putting di Sumatera.
• Daerah hutan Wanariset Samboja di Kutai, Kalimantan Timur.
• Pusat rehabilitasi babi rusa dan anoa di Sulawesi.
c. Pembangunan yang berwawasan lingkungan, berarti pembangunan harus memperhatikan keseimbangan yang sehat antara manusia dengan lingkungannya.
d. Menetapkan beberapa jenis binatang yang perlu dilindungi seperti: Soa-soa (biawak), Komodo, Landak Semut Irian, Kanguru Pohon, Bekantan, Orang Utan (Mawas), Kelinci liar, bajing terbang, bajing tanah, Siamang, macan Kumbang, beruang madu, macan dahan kuwuk, Pesut, ikan Duyung, gajah, tapir, badak, anoa, menjangan, banteng, kambing hutan, Sarudung, owa, Sing Puar, Peusing.
e. Melakukan usaha pelestarian hutan, antara lain:
• mencegah pencurian kayu dan penebangan hutan secara liar.
• perbaikan kondisi lingkungan hutan.
• menanam kembali di tempat tumbuhan yang pohonnya di tebang.
• sistem tebang pilih.
f. Melakukan usaha pelestarian hewan, antara lain:
• melindungi hewan dari perburuan dan pembunuhan liar.
• mengembalikan hewan piaraan ke kawasan habitatnya.
• mengawasi pengeluaran hewan ke luar negeri.
g. Melakukan usaha pelestarian biota perairan, antara lain:
• mencegah perusakan wilayah perairan.
• melarang cara-cara penangkapan yang dapat mematikan ikan dan biota lainnya, misalnya dengan bahan peledak.
• melindungi anak ikan dari gangguan dan penangkapan.
Hutan Mangrove 1
Hutan Mangrove
Adalah kumpulan vegetasi yang secara alami hidup dan menyesuaikan terhadap pasang surut air laut.
Syarat Tumbuh Mangrove:
1. Ada lumpur ( Sedimentasi )
2. Kemiringan Lahan Landai
3. Ombak laut tenang ( Muara, sungai , teluk )
4. Terjadi Pasang surut air laut.
Sifat Mangrove:
1. Tahan genangan air laut ( Halofit )
2. Seluruh tubuh terdapat pori ekskresi garam.
3. Anatomi akar napas sebagai penopang.
4. Buah Mudah Kecambah.
Fungsi Hutan Mangrove :
1. Bioekologis : Unsur vital sebagai penyeimbang ekosistem.
2. Konservasi : Sebagai perlindungan untuk daerah pantai
3. Sosek : Hasil non hayati dpt dinikmati, panorama keindahan.
Manfaat Hutan Mangrove :
1. Manfaat Langsung : Kayu, Serat, Tanin
2. Manfaat tak Langsung : Jasa dari fungsi mangrove
3. Makanan ikan
4. Pemijahan dan pembesaran anak ikan.
5. Habitat unggas laut.
6. Perlindungan : Abrasi,sbg tabir angin,redam ombak,penahan intrusi,lokalisir sedimen.
7. Estetika : Sebagai sarana Wisata Pantai.
Kebijakan teknis perlunya Rehabilitasi Hutan Mangrove di Indonesia melalui GERHAN ( Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan ) adalah luas kawasan Mangrove di Indonesia 8,6 Juta hektar terdiri dari :
3,8 juta hektar dalam kawasan hutan —Yang rusak 1,7 juta hektar.
4,8 juta hektar Diluar kawasan hutan—-Yang rusak 4,2 juta hektar.
Dari sinilah perlunya terus menerus diadakan rehabilitasi hutan mangrove untuk memulihkan fungsi hutan mangrove dalam menjaga ekosisitem dan meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat sekitar pantai.
Macam –macam jenis Tanaman Mangrove
1. RHIZOPHORA MUCRONATA ( Bakau )
2. RHIZOPHORA STYLOSA ( Tongke Besar )
3. RHIZOPHORA APICULATA ( Tinjang )
4. BRUGUIERA PARVILOFA ( Bius )
5. BRUGUIERA SEXANGULA ( Tancang )
6. BRUGUIERA GYMNORHIZA ( Tinjang Merah )
7. SONNERATIA ALBA ( Pedada Bogem )
8. SONNERATIA CASEOLATIS ( Padada )
9. XYLOCARPUS GRANATUM ( Nyirih )
10. HERITIERA LITTORALIS ( Bayur Laut )
11. LUMNITZERA RACEMORA (Tarumtum )
12. CARBERA MANGHAS ( Bintaro )
13. NYPA FRUTICANS ( Nipah )
14. AVICENIA SPP ( Api-api )
Adalah kumpulan vegetasi yang secara alami hidup dan menyesuaikan terhadap pasang surut air laut.
Syarat Tumbuh Mangrove:
1. Ada lumpur ( Sedimentasi )
2. Kemiringan Lahan Landai
3. Ombak laut tenang ( Muara, sungai , teluk )
4. Terjadi Pasang surut air laut.
Sifat Mangrove:
1. Tahan genangan air laut ( Halofit )
2. Seluruh tubuh terdapat pori ekskresi garam.
3. Anatomi akar napas sebagai penopang.
4. Buah Mudah Kecambah.
Fungsi Hutan Mangrove :
1. Bioekologis : Unsur vital sebagai penyeimbang ekosistem.
2. Konservasi : Sebagai perlindungan untuk daerah pantai
3. Sosek : Hasil non hayati dpt dinikmati, panorama keindahan.
Manfaat Hutan Mangrove :
1. Manfaat Langsung : Kayu, Serat, Tanin
2. Manfaat tak Langsung : Jasa dari fungsi mangrove
3. Makanan ikan
4. Pemijahan dan pembesaran anak ikan.
5. Habitat unggas laut.
6. Perlindungan : Abrasi,sbg tabir angin,redam ombak,penahan intrusi,lokalisir sedimen.
7. Estetika : Sebagai sarana Wisata Pantai.
Kebijakan teknis perlunya Rehabilitasi Hutan Mangrove di Indonesia melalui GERHAN ( Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan ) adalah luas kawasan Mangrove di Indonesia 8,6 Juta hektar terdiri dari :
3,8 juta hektar dalam kawasan hutan —Yang rusak 1,7 juta hektar.
4,8 juta hektar Diluar kawasan hutan—-Yang rusak 4,2 juta hektar.
Dari sinilah perlunya terus menerus diadakan rehabilitasi hutan mangrove untuk memulihkan fungsi hutan mangrove dalam menjaga ekosisitem dan meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat sekitar pantai.
Macam –macam jenis Tanaman Mangrove
1. RHIZOPHORA MUCRONATA ( Bakau )
2. RHIZOPHORA STYLOSA ( Tongke Besar )
3. RHIZOPHORA APICULATA ( Tinjang )
4. BRUGUIERA PARVILOFA ( Bius )
5. BRUGUIERA SEXANGULA ( Tancang )
6. BRUGUIERA GYMNORHIZA ( Tinjang Merah )
7. SONNERATIA ALBA ( Pedada Bogem )
8. SONNERATIA CASEOLATIS ( Padada )
9. XYLOCARPUS GRANATUM ( Nyirih )
10. HERITIERA LITTORALIS ( Bayur Laut )
11. LUMNITZERA RACEMORA (Tarumtum )
12. CARBERA MANGHAS ( Bintaro )
13. NYPA FRUTICANS ( Nipah )
14. AVICENIA SPP ( Api-api )
Ruang Lingkup Kajian Geografi
RUANG LINGKUP KAJIAN GEOGRAFI
Sebutan geografi sebagai ilmu pengetahuan cukup banyak, antara lain: i). geografi sebagai ilmu holistik yang mempelajari fenomena di permukaan bumi secara utuh menyeluruh, ii) geografi adalah ilmu analitis dan sintesis, yang memadukan unsur lingkungan fisikal dengan unsur manusia dan iii). geografi adalah ilmu wilayah yang mempelajari sumberdaya wilayah secara komprehensif. Tiga sebutan geografi tersebut yang menjadi landasan untuk membahas kajian geografi yang mampu merespon permalasalahan lingkungan yang berdimensi lokal hingga global. Pertanyaan pemandu untuk mengetahui ruang lingkup kajian Geografi pada umumnya adalah:
1) apa (what),
2) dimana (where),
3) berapa (how long/how much),
4) mengapa (why),
5) bagaimana (how),
6) kapan (when),
7) siapa (who) (Widoyo Alfandi, 2001).
Pertanyaan pemandu yang mencerminkan bahwa geografi itu adalah holistik, sintesis dan kewilayahan adalah sebagai berikut:
1) apa, dimana dan kapan (what, where and when), pertanyaan ini menuntun kita untuk mengetahui fenomena geografis dan distribusi spasialnya pada suatu wilayah, serta kapan terjadinya;
2) bagaimana dan mengapa ( how and why), pertanyaan ini bersifat analitis untuk mengetahui sistem, proses, perilaku, ketergantungan, organisasi spasial dan interaksi antar komponen pembentuk geosfer;
3) apakah dampaknya (what is the impact), pertanyaan bersifat analistis, sintesis untuk mengevaluasi fenomena geografi yang mengalami perubahan baik oleh proses alam maupun oleh hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan alamnya;
4) Bagaimana seharusnya (how ought to ), pertanyaan ini menjurus ke sintesis dan evaluasi untuk pemecahan permasalahan lingkungan suatu wilayah dan memberikan keputusan dalam pengelolaan sumberdaya dan lingkungan. Pertanyaan pemandu pertama dalam geografi yang umum tersebut dapat
digunakan untuk proses pembelajaran pada tingkat manapun dengan memperhatikan tingkat kedalaman atau kedetilannya. Pertanyaan pemandu yang kedua dapat ditujukan untuk jenjang pendidikan pada perguruan tinggi, dengan asumsi bahwa wawasan dan penalaran mahasiswa lebih mantap.
Sebutan geografi sebagai ilmu pengetahuan cukup banyak, antara lain: i). geografi sebagai ilmu holistik yang mempelajari fenomena di permukaan bumi secara utuh menyeluruh, ii) geografi adalah ilmu analitis dan sintesis, yang memadukan unsur lingkungan fisikal dengan unsur manusia dan iii). geografi adalah ilmu wilayah yang mempelajari sumberdaya wilayah secara komprehensif. Tiga sebutan geografi tersebut yang menjadi landasan untuk membahas kajian geografi yang mampu merespon permalasalahan lingkungan yang berdimensi lokal hingga global. Pertanyaan pemandu untuk mengetahui ruang lingkup kajian Geografi pada umumnya adalah:
1) apa (what),
2) dimana (where),
3) berapa (how long/how much),
4) mengapa (why),
5) bagaimana (how),
6) kapan (when),
7) siapa (who) (Widoyo Alfandi, 2001).
Pertanyaan pemandu yang mencerminkan bahwa geografi itu adalah holistik, sintesis dan kewilayahan adalah sebagai berikut:
1) apa, dimana dan kapan (what, where and when), pertanyaan ini menuntun kita untuk mengetahui fenomena geografis dan distribusi spasialnya pada suatu wilayah, serta kapan terjadinya;
2) bagaimana dan mengapa ( how and why), pertanyaan ini bersifat analitis untuk mengetahui sistem, proses, perilaku, ketergantungan, organisasi spasial dan interaksi antar komponen pembentuk geosfer;
3) apakah dampaknya (what is the impact), pertanyaan bersifat analistis, sintesis untuk mengevaluasi fenomena geografi yang mengalami perubahan baik oleh proses alam maupun oleh hasil interaksi antara manusia dengan lingkungan alamnya;
4) Bagaimana seharusnya (how ought to ), pertanyaan ini menjurus ke sintesis dan evaluasi untuk pemecahan permasalahan lingkungan suatu wilayah dan memberikan keputusan dalam pengelolaan sumberdaya dan lingkungan. Pertanyaan pemandu pertama dalam geografi yang umum tersebut dapat
digunakan untuk proses pembelajaran pada tingkat manapun dengan memperhatikan tingkat kedalaman atau kedetilannya. Pertanyaan pemandu yang kedua dapat ditujukan untuk jenjang pendidikan pada perguruan tinggi, dengan asumsi bahwa wawasan dan penalaran mahasiswa lebih mantap.
Rabu, 12 Agustus 2009
Pemanfaatan Flora dan fauna
Pemanfaatan Flora dan Fauna
Keberadaan flora dan fauna tak dapat dipisahkan didalam kehidupan manusia. Tumbuhan dan hewan mempunyai manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia. Ada saling ketergantungan antara tumbuhan, hewan dan manusia untuk kelangsungan hidup mereka masing-masing. Sebagian hewan mempunyai andil bagi pertumbuhan dan persebaran tumbuhan. Binatangpun hidup dari tetumbuhan juga. Bahkan binatang karnivora, seperti harimau misalnya, sesungguhnya bergantung pada tumbuhan karena makanannya terdiri dari binatang herbivora yang hidupnya dari tetumbuhan.
Ketergantungan flora dan fauna pada manusia adalah dalam upaya perkembangbiakan, persebaran, dan pelestariannya. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia memanfaatkan flora dan fauna untuk berbagai tujuan. Pemanfaatan flora dan fauna oleh manusia antara lain adalah untuk :
1. Dikonsumsi
Manusia membutuhkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan untuk keperluan tubuhnya agar tetap hidup dan sehat. Oleh sebab itu beberapa jenis tumbuhan dan hewan tertentu dikonsumsi oleh manusia.
2. Tujuan pendidikan dan penelitian
Suaka margasatwa dan cagar alam merupakan tempat yang sangat ideal untuk tujuan pendidikan dan penelitian karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan jenis-jenis tumbuhan, hewan dan ekosistemnya.
3. Sarana rekreasi
Keanekaragaman flora dan fauna digunakan pula untuk tujuan rekreasi sehingga dapat menghasilkan devisa bagi pemerintah. Contohnya Kebon Raya Bogor dan Kebon Raya Cibodas, di Jawa Barat, Pulau Komodo di P. Komodo, Tanjung Puting di Kalimantan, dan Ujung Kulon di Jawa Barat dijadikan tempat wisata dan banyak diminati oleh turis domestik dan luar negeri. Apakah di daerah Anda ada cagar alam atau suaka margasatwa yang dijadikan tempat wisata? Pernahkah kamu mengunjunginya dan manfaat apa yang kamu peroleh di sana?
Fungsi Suaka Margasatwa dan Cagar Alam
Sebelum membicarakan tentang fungsi suaka margasatwa dan cagar alam, terlebih dahulu kita harus mengerti apa yang dimaksud dengan suaka alam, suaka margasatwa, dan cagar alam.
Suaka alam merupakan kawasan di daratan dan perairan yang mempunyai fungsi utama sebagai kawasan perlindungan dan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan hewan serta tata lingkungannya. Suaka alam merupakan usaha konservasi flora dan fauna yang mencakup cagar alam dan suaka margasatwa.
Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ekosistem asli, memiliki ciri khas berupa keanekaragaman dan keunikan jenis satwanya. Suaka margasatwa bertujuan untuk melindungi dan melestarikan kelangsungan hidup satwa tertentu agar tidak punah. Selain itu dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan,pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
Cagar alam merupakan kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan tata lingkungannya. Kawasan ini untuk melindungi dan melestarikan flora dan fauna yang hidup di dalamnya yang mempunyai nilai tertentu agar dapat berkembang sesuai dengan kondisi aslinya. Selain itu cagar alam juga dipergunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan rekreasi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi dari suaka margasatwa dan cagar alam adalah sebagai berikut:
melindungi flora dan fauna dari ancaman kepunahan.
menjaga kesuburan tanah.
mengatur tata air.
menjadi tempat/obyek wisata.
menambah sumber devisa negara.
menjadi tempat belajar di lapangan (praktek).
menjadi tempat penelitian.
Upaya-Upaya Pelestarian Flora dan Fauna
Beberapa jenis flora dan fauna kini semakin sulit ditemui karena banyak diburu untuk tujuan tertentu (dimakan, untuk obat, perhiasan) maupun tempat hidupnya dirusak manusia misalnya unntuk dijadikan lahan pertanian, perumahan, industri, dan sebagainya. Flora dan fauna yang jumlahnya sangat terbatas tersebut dinyatakan sebagai flora dan fauna langka.
Untuk mencegah semakin punahnya flora dan fauna ini maka dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
a. Ditetapkan tempat perlindungan bagi flora dan fauna agar perkembangbiakannya tidak terganggu. Tempat-tempat perlindungan ini berupa cagar alam bagi flora dan suaka margasatwa bagi fauna.
b. Membangun beberapa pusat rehabilitasi dan tempat-tempat penangkaran bagi hewan-hewan tertentu, seperti:
Pusat rehabilitasi orang utan di Bohorok dan Tanjung Putting di Sumatera.
Daerah hutan Wanariset Samboja di Kutai, Kalimantan Timur.
Pusat rehabilitasi babi rusa dan anoa di Sulawesi.
c. Pembangunan yang berwawasan lingkungan, berarti pembangunan harus memperhatikan keseimbangan yang sehat antara manusia dengan lingkungannya.
d. Menetapkan beberapa jenis binatang yang perlu dilindungi seperti: Soa-soa (biawak), Komodo, Landak Semut Irian, Kanguru Pohon, Bekantan, Orang Utan (Mawas), Kelinci liar, bajing terbang, bajing tanah, Siamang, macan Kumbang, beruang madu, macan dahan kuwuk, Pesut, ikan Duyung, gajah, tapir, badak, anoa, menjangan, banteng, kambing hutan, Sarudung, owa, Sing Puar, Peusing.
e. Melakukan usaha pelestarian hutan, antara lain:
mencegah pencurian kayu dan penebangan hutan secara liar.
perbaikan kondisi lingkungan hutan.
menanam kembali di tempat tumbuhan yang pohonnya di tebang.
sistem tebang pilih.
f. Melakukan usaha pelestarian hewan, antara lain:
melindungi hewan dari perburuan dan pembunuhan liar.
mengembalikan hewan piaraan ke kawasan habitatnya.
mengawasi pengeluaran hewan ke luar negeri.
g. Melakukan usaha pelestarian biota perairan, antara lain:
mencegah perusakan wilayah perairan.
melarang cara-cara penangkapan yang dapat mematikan ikan dan biota lainnya, misalnya dengan bahan peledak.
melindungi anak ikan dari gangguan dan penangkapan.
Daerah-daerah Suaka Margasatwa dan Cagar Alam Kenyataan menunjukkan bahwa jumlah tumbuhan dan hewan yang dinyatakan langka semakin bertambah. Coba Anda lihat bagan di bawah ini. Sumber: Buku Geografi , Tim MGMP Geografi SMU. Data di atas belum termasuk flora langkanya atau yang dinyatakan langka. Berarti semakin banyak fauna dan flora di negeri kita yang terancam punah.
Sejak tahun 1980, beberapa kawasan cagar alam atau suaka margasatwa telah diubah statusnya menjadi Taman Nasional. Dewasa ini terdapat 320 tempat untuk Taman Nasional dan Hutan Lindung, antara lain di Sumatera, Irian Jaya, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Taman nasional dan hutan lindung mempunyai fungsi sebagai:
perlindungan sistem penyangga kehidupan.
pengawetan jenis tumbuhan dan hewan.
pelestarian pemanfaatan sumber daya hayati dan tata lingkungan.
Di bawah ini beberapa taman nasional, suaka alam, dan margasatwa di Indonesia.
Keterangan :
* Ditetapkan sejak 1980
** Ditetapkan sejak 1982
Sumber : e-dukasi.net
Keberadaan flora dan fauna tak dapat dipisahkan didalam kehidupan manusia. Tumbuhan dan hewan mempunyai manfaatnya yang besar bagi kehidupan manusia. Ada saling ketergantungan antara tumbuhan, hewan dan manusia untuk kelangsungan hidup mereka masing-masing. Sebagian hewan mempunyai andil bagi pertumbuhan dan persebaran tumbuhan. Binatangpun hidup dari tetumbuhan juga. Bahkan binatang karnivora, seperti harimau misalnya, sesungguhnya bergantung pada tumbuhan karena makanannya terdiri dari binatang herbivora yang hidupnya dari tetumbuhan.
Ketergantungan flora dan fauna pada manusia adalah dalam upaya perkembangbiakan, persebaran, dan pelestariannya. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia memanfaatkan flora dan fauna untuk berbagai tujuan. Pemanfaatan flora dan fauna oleh manusia antara lain adalah untuk :
1. Dikonsumsi
Manusia membutuhkan makanan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan untuk keperluan tubuhnya agar tetap hidup dan sehat. Oleh sebab itu beberapa jenis tumbuhan dan hewan tertentu dikonsumsi oleh manusia.
2. Tujuan pendidikan dan penelitian
Suaka margasatwa dan cagar alam merupakan tempat yang sangat ideal untuk tujuan pendidikan dan penelitian karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan jenis-jenis tumbuhan, hewan dan ekosistemnya.
3. Sarana rekreasi
Keanekaragaman flora dan fauna digunakan pula untuk tujuan rekreasi sehingga dapat menghasilkan devisa bagi pemerintah. Contohnya Kebon Raya Bogor dan Kebon Raya Cibodas, di Jawa Barat, Pulau Komodo di P. Komodo, Tanjung Puting di Kalimantan, dan Ujung Kulon di Jawa Barat dijadikan tempat wisata dan banyak diminati oleh turis domestik dan luar negeri. Apakah di daerah Anda ada cagar alam atau suaka margasatwa yang dijadikan tempat wisata? Pernahkah kamu mengunjunginya dan manfaat apa yang kamu peroleh di sana?
Fungsi Suaka Margasatwa dan Cagar Alam
Sebelum membicarakan tentang fungsi suaka margasatwa dan cagar alam, terlebih dahulu kita harus mengerti apa yang dimaksud dengan suaka alam, suaka margasatwa, dan cagar alam.
Suaka alam merupakan kawasan di daratan dan perairan yang mempunyai fungsi utama sebagai kawasan perlindungan dan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan hewan serta tata lingkungannya. Suaka alam merupakan usaha konservasi flora dan fauna yang mencakup cagar alam dan suaka margasatwa.
Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ekosistem asli, memiliki ciri khas berupa keanekaragaman dan keunikan jenis satwanya. Suaka margasatwa bertujuan untuk melindungi dan melestarikan kelangsungan hidup satwa tertentu agar tidak punah. Selain itu dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan,pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.
Cagar alam merupakan kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan tata lingkungannya. Kawasan ini untuk melindungi dan melestarikan flora dan fauna yang hidup di dalamnya yang mempunyai nilai tertentu agar dapat berkembang sesuai dengan kondisi aslinya. Selain itu cagar alam juga dipergunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan rekreasi.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi dari suaka margasatwa dan cagar alam adalah sebagai berikut:
melindungi flora dan fauna dari ancaman kepunahan.
menjaga kesuburan tanah.
mengatur tata air.
menjadi tempat/obyek wisata.
menambah sumber devisa negara.
menjadi tempat belajar di lapangan (praktek).
menjadi tempat penelitian.
Upaya-Upaya Pelestarian Flora dan Fauna
Beberapa jenis flora dan fauna kini semakin sulit ditemui karena banyak diburu untuk tujuan tertentu (dimakan, untuk obat, perhiasan) maupun tempat hidupnya dirusak manusia misalnya unntuk dijadikan lahan pertanian, perumahan, industri, dan sebagainya. Flora dan fauna yang jumlahnya sangat terbatas tersebut dinyatakan sebagai flora dan fauna langka.
Untuk mencegah semakin punahnya flora dan fauna ini maka dilakukan upaya-upaya sebagai berikut:
a. Ditetapkan tempat perlindungan bagi flora dan fauna agar perkembangbiakannya tidak terganggu. Tempat-tempat perlindungan ini berupa cagar alam bagi flora dan suaka margasatwa bagi fauna.
b. Membangun beberapa pusat rehabilitasi dan tempat-tempat penangkaran bagi hewan-hewan tertentu, seperti:
Pusat rehabilitasi orang utan di Bohorok dan Tanjung Putting di Sumatera.
Daerah hutan Wanariset Samboja di Kutai, Kalimantan Timur.
Pusat rehabilitasi babi rusa dan anoa di Sulawesi.
c. Pembangunan yang berwawasan lingkungan, berarti pembangunan harus memperhatikan keseimbangan yang sehat antara manusia dengan lingkungannya.
d. Menetapkan beberapa jenis binatang yang perlu dilindungi seperti: Soa-soa (biawak), Komodo, Landak Semut Irian, Kanguru Pohon, Bekantan, Orang Utan (Mawas), Kelinci liar, bajing terbang, bajing tanah, Siamang, macan Kumbang, beruang madu, macan dahan kuwuk, Pesut, ikan Duyung, gajah, tapir, badak, anoa, menjangan, banteng, kambing hutan, Sarudung, owa, Sing Puar, Peusing.
e. Melakukan usaha pelestarian hutan, antara lain:
mencegah pencurian kayu dan penebangan hutan secara liar.
perbaikan kondisi lingkungan hutan.
menanam kembali di tempat tumbuhan yang pohonnya di tebang.
sistem tebang pilih.
f. Melakukan usaha pelestarian hewan, antara lain:
melindungi hewan dari perburuan dan pembunuhan liar.
mengembalikan hewan piaraan ke kawasan habitatnya.
mengawasi pengeluaran hewan ke luar negeri.
g. Melakukan usaha pelestarian biota perairan, antara lain:
mencegah perusakan wilayah perairan.
melarang cara-cara penangkapan yang dapat mematikan ikan dan biota lainnya, misalnya dengan bahan peledak.
melindungi anak ikan dari gangguan dan penangkapan.
Daerah-daerah Suaka Margasatwa dan Cagar Alam Kenyataan menunjukkan bahwa jumlah tumbuhan dan hewan yang dinyatakan langka semakin bertambah. Coba Anda lihat bagan di bawah ini. Sumber: Buku Geografi , Tim MGMP Geografi SMU. Data di atas belum termasuk flora langkanya atau yang dinyatakan langka. Berarti semakin banyak fauna dan flora di negeri kita yang terancam punah.
Sejak tahun 1980, beberapa kawasan cagar alam atau suaka margasatwa telah diubah statusnya menjadi Taman Nasional. Dewasa ini terdapat 320 tempat untuk Taman Nasional dan Hutan Lindung, antara lain di Sumatera, Irian Jaya, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi. Taman nasional dan hutan lindung mempunyai fungsi sebagai:
perlindungan sistem penyangga kehidupan.
pengawetan jenis tumbuhan dan hewan.
pelestarian pemanfaatan sumber daya hayati dan tata lingkungan.
Di bawah ini beberapa taman nasional, suaka alam, dan margasatwa di Indonesia.
Keterangan :
* Ditetapkan sejak 1980
** Ditetapkan sejak 1982
Sumber : e-dukasi.net
Senin, 10 Agustus 2009
Pengertian Geografi dan Ilmu Penunjangnya
GEOGRAFI MENURUT PARA AHLI
No. Pendapat Bunyi Kesimpulan
1. Preston E.James Geografi merupakan induk dari ilmu pengetauhan,karena banyak ilmu pengetauhan yang dikaji selalu di mulai dari keadan bumi. Merupakan induk dari ilmu pengetahuan.
2. Prof. Bintarto Geografi adalah ilmu pengetauhan yang menerangkan sifat-sifat bumi, menganalisis gejala-gejala alam dan penduduk,serta mempelajari ciri khas mengenai bumi dalam ruang dan waktu. ilmu pengetauhan yang menerangkan sifat-sifat bumi dan menganalisis gejala-gejala alam.
3. Ullman (1954) Geografi adalah interaksi antar ruang. Geografi adalah interaksi antar ruang.
4. Paul Claval (1976) Geografi selalu ingin menjelaskan gejala-gejala dari segi hubungan keruangan. Selalu menjelaskan gejala-gejala dari segi hubungan keruangan.
5. Strabo Geografi erat kaitannya dengan karakteristik tertentu mengenai suatu tempat dengan memperhatikan juga hubungan antara berbagai tempat secara keseluruhan. Geografi erat kaitannya dengan karakteristik
6. Karl Ritter Geografi ialah studi tentang daerah yang berbeda-beda dipermukaan bumi dalam karagamannya. studi tentang daerah yang berbeda-beda dipermukaan bumi
7. John Hanrath Geografi adalah pengetahuan yang menyelidiki persebaran gejala-gejala fisik biologis dan antropologis pada ruang di permukaan bumi, sebab akibat dan gejal menurut ukuran nilai, motif yang hasilnya dapat dibandingkan. pengetahuan yang menyelidiki persebaran gejala-gejala fisik biologis dan antropologis pada ruang di permukaan bumi.
8. Para pakar geografi pada seminar dan lokakarya di Semarang tahun 1988 Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan. ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan.
ILMU PENUNJANG GEOGRAFI
No. Ilmu Pununjang Pengertian Kesimpulan
1. Geologi Ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan. Kejadian struktur komposisi, sejarah, dan proses perkembangannya
2. Geofisika Ilmu yang mengkaji sifat-sifat bumi bagian dalam dengan metode tehnik fisika. Pengukuran gempa bumi, gravitasi, dam medan magnet.
3. Metereologi Ilmu yang mempelajari atmosfer. Udara, cuaca, suhu, dan angina.
4. Astronomi Ilmu yang mempelajari benda-benda langit di luar atmosfer bumi. Matahari, bulan, bintang, dan ruang angkasa.
5. Biogeografi Studi tentang Penyebaran makhluk hidup secara geografis di muka bumi. Penyebaran makhluk hidup
6. Geomorfologi Studi tentang bentuk-bentuk dan segala proses yang menghasilkan bentuk-bentuk tersebut. Bentuk-bentuk dan segala proses yang menghasilkan bentuk-bentuk tersebut
7. Hidrografi Ilmu yang berhubungan dengan penelitian dan pemetaan air di muka bumi. Pemetaan air
8. Oseanografi Ilmu yang mempelajari lautan. Sifat air laut, pasang surut, arus, dan kedalaman.
9. Paleontologi Ilmu tentang fosil-fosil serta bentuk-bentuk kehidupan di masa purba(prasejarah) yang terdapat dibawah lapisan bumi. Fosil-fosil kehidupan dimasa purba.
10. Antropogeografi Cabang geografi yang mempelajari penyebaran bangsa-bangsa dimuka bumi dilihat dari sudut geografis. Penyebaran bangsa-bangsa dimuka bumi.
11. Geografi Matematik Ilmu geografi yang berkenaan dengan perkiraan bentuk, ukuran, serta gerakan bumi. Lintang dan bujur goegrafi, meridian, parallel, dan luas permukaan bumi.
12. Geografi historik Cabang geografi yang mempelajari bumi ditinjau dari sudut sejarah dan perkembangannya. Mempelajari bumi ditinjau dari sudut sejarah.
13. Geografi Regional Cabang geografi yang mempelajari suatu kawasan tertentu secara khusus. Yang mempelajari suatu kawasan tertentu secara khusus.
14. Geografi Politik Cabang geografi yang khusus mengkaji kondisi-kondisi geografis ditinjau dari sudut polotik atau kepentingan Negara. Khusus mengkaji kondisi-kondisi geografis ditinjau dari sudut politik.
15. Geografi Fisik Cabang geografi yang mengkaji tentang bentuk dan struktur pemukaan bumi, yang mencakup aspek geomorfologi dan hidrologi. Mengkaji tentang bentuk dan struktur pemukaan bumi, yang mencakup aspek geomorfologi dan hidrologi.
16. Geografi Manusia Cabang geografi yang mengkaji tentang aspek sosial ekonomi dan budaya penduduk. Mengkaji tentang aspek sosial, ekonomi, dan budaya penduduk.
No. Pendapat Bunyi Kesimpulan
1. Preston E.James Geografi merupakan induk dari ilmu pengetauhan,karena banyak ilmu pengetauhan yang dikaji selalu di mulai dari keadan bumi. Merupakan induk dari ilmu pengetahuan.
2. Prof. Bintarto Geografi adalah ilmu pengetauhan yang menerangkan sifat-sifat bumi, menganalisis gejala-gejala alam dan penduduk,serta mempelajari ciri khas mengenai bumi dalam ruang dan waktu. ilmu pengetauhan yang menerangkan sifat-sifat bumi dan menganalisis gejala-gejala alam.
3. Ullman (1954) Geografi adalah interaksi antar ruang. Geografi adalah interaksi antar ruang.
4. Paul Claval (1976) Geografi selalu ingin menjelaskan gejala-gejala dari segi hubungan keruangan. Selalu menjelaskan gejala-gejala dari segi hubungan keruangan.
5. Strabo Geografi erat kaitannya dengan karakteristik tertentu mengenai suatu tempat dengan memperhatikan juga hubungan antara berbagai tempat secara keseluruhan. Geografi erat kaitannya dengan karakteristik
6. Karl Ritter Geografi ialah studi tentang daerah yang berbeda-beda dipermukaan bumi dalam karagamannya. studi tentang daerah yang berbeda-beda dipermukaan bumi
7. John Hanrath Geografi adalah pengetahuan yang menyelidiki persebaran gejala-gejala fisik biologis dan antropologis pada ruang di permukaan bumi, sebab akibat dan gejal menurut ukuran nilai, motif yang hasilnya dapat dibandingkan. pengetahuan yang menyelidiki persebaran gejala-gejala fisik biologis dan antropologis pada ruang di permukaan bumi.
8. Para pakar geografi pada seminar dan lokakarya di Semarang tahun 1988 Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan. ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan lingkungan dalam konteks keruangan.
ILMU PENUNJANG GEOGRAFI
No. Ilmu Pununjang Pengertian Kesimpulan
1. Geologi Ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan. Kejadian struktur komposisi, sejarah, dan proses perkembangannya
2. Geofisika Ilmu yang mengkaji sifat-sifat bumi bagian dalam dengan metode tehnik fisika. Pengukuran gempa bumi, gravitasi, dam medan magnet.
3. Metereologi Ilmu yang mempelajari atmosfer. Udara, cuaca, suhu, dan angina.
4. Astronomi Ilmu yang mempelajari benda-benda langit di luar atmosfer bumi. Matahari, bulan, bintang, dan ruang angkasa.
5. Biogeografi Studi tentang Penyebaran makhluk hidup secara geografis di muka bumi. Penyebaran makhluk hidup
6. Geomorfologi Studi tentang bentuk-bentuk dan segala proses yang menghasilkan bentuk-bentuk tersebut. Bentuk-bentuk dan segala proses yang menghasilkan bentuk-bentuk tersebut
7. Hidrografi Ilmu yang berhubungan dengan penelitian dan pemetaan air di muka bumi. Pemetaan air
8. Oseanografi Ilmu yang mempelajari lautan. Sifat air laut, pasang surut, arus, dan kedalaman.
9. Paleontologi Ilmu tentang fosil-fosil serta bentuk-bentuk kehidupan di masa purba(prasejarah) yang terdapat dibawah lapisan bumi. Fosil-fosil kehidupan dimasa purba.
10. Antropogeografi Cabang geografi yang mempelajari penyebaran bangsa-bangsa dimuka bumi dilihat dari sudut geografis. Penyebaran bangsa-bangsa dimuka bumi.
11. Geografi Matematik Ilmu geografi yang berkenaan dengan perkiraan bentuk, ukuran, serta gerakan bumi. Lintang dan bujur goegrafi, meridian, parallel, dan luas permukaan bumi.
12. Geografi historik Cabang geografi yang mempelajari bumi ditinjau dari sudut sejarah dan perkembangannya. Mempelajari bumi ditinjau dari sudut sejarah.
13. Geografi Regional Cabang geografi yang mempelajari suatu kawasan tertentu secara khusus. Yang mempelajari suatu kawasan tertentu secara khusus.
14. Geografi Politik Cabang geografi yang khusus mengkaji kondisi-kondisi geografis ditinjau dari sudut polotik atau kepentingan Negara. Khusus mengkaji kondisi-kondisi geografis ditinjau dari sudut politik.
15. Geografi Fisik Cabang geografi yang mengkaji tentang bentuk dan struktur pemukaan bumi, yang mencakup aspek geomorfologi dan hidrologi. Mengkaji tentang bentuk dan struktur pemukaan bumi, yang mencakup aspek geomorfologi dan hidrologi.
16. Geografi Manusia Cabang geografi yang mengkaji tentang aspek sosial ekonomi dan budaya penduduk. Mengkaji tentang aspek sosial, ekonomi, dan budaya penduduk.
Suaka Margasatwa
Suaka Margasatwa dan Manfaatnya
Keanekaragaman hayati dan hewani di Indonesia membuat perlunya sebuah tempat untuk melindungi dan melestarikan keragaman tersebut. Karenanya, pemerintah Indonesia membuat beberapa tempat, diantaranya adalah cagar alam dan suaka margasatwa. Kawasan Suaka Margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.
Adapun kriteria untuk penunjukkan dan penetapan sebagai kawasan Suaka Margasatwa:
1. merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya;
2. merupakan habitat dari suatu jenis satwa langka dan atau dikhawatirkan akan punah;
3. memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi;
4. merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu; dan atau
5. mempunyai luasan yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan.
Pemerintah bertugas mengelola kawasan Suaka Margasatwa. Suatu kawasan Suaka Margasatwa dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana pengelolaan Suaka Margasatwa sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan.
Upaya pengawetan kawasan Suaka Margasatwa dilaksanakan dalam bentuk kegiatan :
1. perlindungan dan pengamanan kawasan
2. inventarisasi potensi kawasan
3. penelitian dan pengembangan yang menunjang pengawetan.
4. pembinaan habitat dan populasi satwa
Pembinaan habitat dan populasi satwa, meliputi kegiatan :
1. pembinaan padang rumput
2. pembuatan fasilitas air minum dan atau tempat berkubang dan mandi satwa
3. penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan pohon-pohon sumber makanan satwa
4. penjarangan populasi satwa
5. penambahan tumbuhan atau satwa asli, atau
6. pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu.
Beberapa kegiatan yang dilarang karena dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan Suaka Margasatwa alam adalah :
1. melakukan perburuan terhadap satwa yang berada di dalam kawasan
2. memasukan jenis-jenis tumbuhan dan satwa bukan asli ke dalam kawasan
3. memotong, merusak, mengambil, menebang, dan memusnahkan tumbuhan dan satwa dalam dan dari kawasan
4. menggali atau membuat lubang pada tanah yang mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa dalam kawasan, atau
5. mengubah bentang alam kawasan yang mengusik atau mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa
Larangan juga berlaku terhadap kegiatan yang dianggap sebagai tindakan permulaan yang berkibat pada perubahan keutuhan kawasan, seperti :
1. memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan, atau
2. membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, mengangkut, menebang, membelah, merusak, berburu, memusnahkan satwa dan tumbuhan ke dan dari dalam kawasan.
Sesuai dengan fungsinya, Suaka Margasatwa dapat dimanfaatkan untuk
1. penelitian dan pengembangan
2. ilmu pengetahuan
3. pendidikan
4. wisata alam terbatas
5. kegiatan penunjang budidaya.
Kegiatan penelitian di atas, meliputi :
1. penelitian dasar
2. penelitian untuk menunjang pemanfaatan dan budidaya.
Beberapa Suaka Margasatwa di Indonesia :
1. Langkat barat dan langkat selatan di Sumatera Utara
2. Kerumutan di Riau
3. Berbak di Jambi
4. Way Kambas di Lampung
5. Pangandaran di Jawa Barat
6. Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat
Sumber : http://www.ditjenphka.go.id/index.php?a=ks
Keanekaragaman hayati dan hewani di Indonesia membuat perlunya sebuah tempat untuk melindungi dan melestarikan keragaman tersebut. Karenanya, pemerintah Indonesia membuat beberapa tempat, diantaranya adalah cagar alam dan suaka margasatwa. Kawasan Suaka Margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya.
Adapun kriteria untuk penunjukkan dan penetapan sebagai kawasan Suaka Margasatwa:
1. merupakan tempat hidup dan perkembangbiakan dari jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya;
2. merupakan habitat dari suatu jenis satwa langka dan atau dikhawatirkan akan punah;
3. memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi;
4. merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu; dan atau
5. mempunyai luasan yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan.
Pemerintah bertugas mengelola kawasan Suaka Margasatwa. Suatu kawasan Suaka Margasatwa dikelola berdasarkan satu rencana pengelolaan yang disusun berdasarkan kajian aspek-aspek ekologi, teknis, ekonomis dan sosial budaya. Rencana pengelolaan Suaka Margasatwa sekurang-kurangnya memuat tujuan pengelolaan, dan garis besar kegiatan yang menunjang upaya perlindungan, pengawetan dan pemanfaatan kawasan.
Upaya pengawetan kawasan Suaka Margasatwa dilaksanakan dalam bentuk kegiatan :
1. perlindungan dan pengamanan kawasan
2. inventarisasi potensi kawasan
3. penelitian dan pengembangan yang menunjang pengawetan.
4. pembinaan habitat dan populasi satwa
Pembinaan habitat dan populasi satwa, meliputi kegiatan :
1. pembinaan padang rumput
2. pembuatan fasilitas air minum dan atau tempat berkubang dan mandi satwa
3. penanaman dan pemeliharaan pohon-pohon pelindung dan pohon-pohon sumber makanan satwa
4. penjarangan populasi satwa
5. penambahan tumbuhan atau satwa asli, atau
6. pemberantasan jenis tumbuhan dan satwa pengganggu.
Beberapa kegiatan yang dilarang karena dapat mengakibatkan perubahan fungsi kawasan Suaka Margasatwa alam adalah :
1. melakukan perburuan terhadap satwa yang berada di dalam kawasan
2. memasukan jenis-jenis tumbuhan dan satwa bukan asli ke dalam kawasan
3. memotong, merusak, mengambil, menebang, dan memusnahkan tumbuhan dan satwa dalam dan dari kawasan
4. menggali atau membuat lubang pada tanah yang mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa dalam kawasan, atau
5. mengubah bentang alam kawasan yang mengusik atau mengganggu kehidupan tumbuhan dan satwa
Larangan juga berlaku terhadap kegiatan yang dianggap sebagai tindakan permulaan yang berkibat pada perubahan keutuhan kawasan, seperti :
1. memotong, memindahkan, merusak atau menghilangkan tanda batas kawasan, atau
2. membawa alat yang lazim digunakan untuk mengambil, mengangkut, menebang, membelah, merusak, berburu, memusnahkan satwa dan tumbuhan ke dan dari dalam kawasan.
Sesuai dengan fungsinya, Suaka Margasatwa dapat dimanfaatkan untuk
1. penelitian dan pengembangan
2. ilmu pengetahuan
3. pendidikan
4. wisata alam terbatas
5. kegiatan penunjang budidaya.
Kegiatan penelitian di atas, meliputi :
1. penelitian dasar
2. penelitian untuk menunjang pemanfaatan dan budidaya.
Beberapa Suaka Margasatwa di Indonesia :
1. Langkat barat dan langkat selatan di Sumatera Utara
2. Kerumutan di Riau
3. Berbak di Jambi
4. Way Kambas di Lampung
5. Pangandaran di Jawa Barat
6. Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat
Sumber : http://www.ditjenphka.go.id/index.php?a=ks
Rabu, 05 Agustus 2009
Prinsip dan Konsep Dasar Geografi
Prinsip dan Konsep Dasar Geografi
A. Prinsip geografi ada 4, yaitu :
1. Prinsip Penyebaran
Gejala geografi baik tentang alam, tumbuhan, hewan, dan manusia yg tersebar secara tidak merata di muka bumi.
Contoh : Timah di Pulau Bangka, pohon bakau di pantai.
2. Prinsip Interelasi
Hubungan yg saling terkait antara gejala yg satu dgn gejala yg lain dlm satu ruang tertentu.
Contoh : hutan gundul terjadi karena penebangan liar.
3. Prinsip Korologi ( Keruangan )
Bahwa setiap prinsip ini gejala – gejala, fakta – fakta, dan masalah – masalah geografi ditinjau dari penyebarannya, interelasinya, dan interaksinya dan hubungan itu terdapat pada ruang tertentu. Contoh : Padi hidup subur di daerah dataran rendah.
4. Prinsip Deskriptif
Prinsip untuk memberikan pelajaran atau gambaran lebih jauh tentang gejal – gejala, atau masalah – masalah yg diselidiki dlm bentuk tulisan atau kata – kata yg dapat dilengkapi dgn : diagram, grafik, table, gambar, dan peta.
B. Konsep dasar geografi yg esensial, ada 10 yaitu :
1. Konsep Lokasi : Letak suatu tempat di permukaan bumi.
1.1. Lokasi Absolut : Tempatnya tetap.
1.2. Lokasi relative : tempatnya bias berubah karena factor tertentu.
2. Konsep jarak : Jark antara tempat satu ke tempat lain.
2.1. Jarak Absolut : Diukur dgn satuan ukuran.
2.2. Jarak relative : Dikaitkan factor waktu ekonomi dan psikologis.
3. Konsep keterjangkauan :
Hub. Antara satu tempat dgn tempat yg lain, dikaitkan dgn sarana dan prasarana angkutan.
4. Konsep pola :
Berkaitan dgn persebaran fenomena geosfer di permukaan bumi.
Contoh : Persebaran flora dgn fauna.
5. Konsep Morfologi :
Berkaitan dgn fauna bentuk permukaan bumi, sebagai akibat tenaga eksogen dan endogen.
Contoh : Pegunungan, lembah, dataran rendah.
6. Konsep Aglomerasi :
Pemusatan penimbunan suatu kawasan
contoh : kawasan industri, pertanian, pemukiman.
7. Konsep nilai kegunaan :
Suatu nilai guna tempat –tempat di bumi.
Contoh : tempat wisata.
8. Konsep Interaksi dan Interpendensi :
Saling berpengaruh dan ketergantungan antara gejala di muka bumi.
Contoh : Antara desa dgn kota.
9. Konsep Deferensiasi Areal:
Fenomena yg berbeda antara tempat yg satu dgn yg lain.
Contoh : Areal pedesaan khas dan corak persawahan.
10. Konsep keterkaitan keruangan :
Keterkaitan persebaran suatu fenomena dgn fenomena lain.
Contoh : daerah pantai pada umumnya bermata pencaharian nelayan.
A. Prinsip geografi ada 4, yaitu :
1. Prinsip Penyebaran
Gejala geografi baik tentang alam, tumbuhan, hewan, dan manusia yg tersebar secara tidak merata di muka bumi.
Contoh : Timah di Pulau Bangka, pohon bakau di pantai.
2. Prinsip Interelasi
Hubungan yg saling terkait antara gejala yg satu dgn gejala yg lain dlm satu ruang tertentu.
Contoh : hutan gundul terjadi karena penebangan liar.
3. Prinsip Korologi ( Keruangan )
Bahwa setiap prinsip ini gejala – gejala, fakta – fakta, dan masalah – masalah geografi ditinjau dari penyebarannya, interelasinya, dan interaksinya dan hubungan itu terdapat pada ruang tertentu. Contoh : Padi hidup subur di daerah dataran rendah.
4. Prinsip Deskriptif
Prinsip untuk memberikan pelajaran atau gambaran lebih jauh tentang gejal – gejala, atau masalah – masalah yg diselidiki dlm bentuk tulisan atau kata – kata yg dapat dilengkapi dgn : diagram, grafik, table, gambar, dan peta.
B. Konsep dasar geografi yg esensial, ada 10 yaitu :
1. Konsep Lokasi : Letak suatu tempat di permukaan bumi.
1.1. Lokasi Absolut : Tempatnya tetap.
1.2. Lokasi relative : tempatnya bias berubah karena factor tertentu.
2. Konsep jarak : Jark antara tempat satu ke tempat lain.
2.1. Jarak Absolut : Diukur dgn satuan ukuran.
2.2. Jarak relative : Dikaitkan factor waktu ekonomi dan psikologis.
3. Konsep keterjangkauan :
Hub. Antara satu tempat dgn tempat yg lain, dikaitkan dgn sarana dan prasarana angkutan.
4. Konsep pola :
Berkaitan dgn persebaran fenomena geosfer di permukaan bumi.
Contoh : Persebaran flora dgn fauna.
5. Konsep Morfologi :
Berkaitan dgn fauna bentuk permukaan bumi, sebagai akibat tenaga eksogen dan endogen.
Contoh : Pegunungan, lembah, dataran rendah.
6. Konsep Aglomerasi :
Pemusatan penimbunan suatu kawasan
contoh : kawasan industri, pertanian, pemukiman.
7. Konsep nilai kegunaan :
Suatu nilai guna tempat –tempat di bumi.
Contoh : tempat wisata.
8. Konsep Interaksi dan Interpendensi :
Saling berpengaruh dan ketergantungan antara gejala di muka bumi.
Contoh : Antara desa dgn kota.
9. Konsep Deferensiasi Areal:
Fenomena yg berbeda antara tempat yg satu dgn yg lain.
Contoh : Areal pedesaan khas dan corak persawahan.
10. Konsep keterkaitan keruangan :
Keterkaitan persebaran suatu fenomena dgn fenomena lain.
Contoh : daerah pantai pada umumnya bermata pencaharian nelayan.
Habitat Darat
HABITAT DARAT
Pada habitat darat dikenal istilah Bioma yaitu daerah habitat yang meliputi skala yang luas. Berikut ini hanya akan dibahas beberapa bioma utama yaitu:
1. Bioma gurun dan setengah gurun
2. Bioma padang rumput
3. Bioma hutan tropis
4. Bioma hutan gugur
5. Bioma hutan taiga
6. Bioma tundra
7. Bioma sabana
8. Bioma hutan bakau (mangrove) dan
9. Bioma hutan lumut
10. Bioma Hutan Musim
Gbr. Perubahan Bioma Menurut Ketinggian Garis dan Lintang
1. Bioma Gurun dan Setengah Gurun
Bioma gurun dan setengah gurun banyak ditemukan di Amerika Utara, Afrika Utara, Australia dan Asia Barat.
Ciri-ciri:
1. Curah hujan sangat rendah, + 25 cm/tahun
2. Kecepatan penguapan air lebih cepat dari presipitasi
3. Kelembaban udara sangat rendah
4. Perbedaan suhu siang hari dengan malam hari sangat tinggi (siangdapat mencapai 45 C, malam dapat turun sampai 0 C)
5. Tanah sangat tandus karena tidak mampu menyimpan air
Lingkungan biotik:
- Flora: tumbuhan yang tumbuh adalah tumbuhan yang dapat
beradaptasi dengan daerah kering (tumbuhan serofit).
- Fauna: hewan besar yang hidup di gurun umumnya yang mampu
menyimpan air, misalnya unta, sedang untuk hewan-hewan kecil
misalnya kadal, ular, tikus, semut, umumnya hanya aktif hidup pada
pagi hari, pada siang hari yang terik mereka hidup pada lubang-lubang.
2. Bioma Padang Rumput
Bioma padang rumput membentang mulai dari daerah tropis sampai dengan daerah beriklim sedang, seperti Hongaria, Rusia Selatan, Asia Tengah, Amerika Selatan, Australia.
Ciri-ciri:
1. Curah hujan antara 25 - 50 cm/tahun, di beberapa daerah padang rumput curah hujannya dapat mencapai 100 cm/tahun.
2. Curah hujan yang relatif rendah turun secara tidak teratur.
3. Turunnya hujan yang tidak teratur tersebut menyebabkan porositas dan drainase kurang baik sehingga tumbuh-tumbuhan sukar mengambil air.
Lingkungan biotik:
- Flora: tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan daerah dengan
porositas dan drainase kurang baik adalah rumput, meskipun ada pula tumbuhan lain yang hidup selain rumput, tetapi karena mereka
merupakan vegetasi yang dominan maka disebut padang rumput. Nama padang rumput bermacam-macam seperti stepa di Rusia Selatan,
puzta di Hongaria, prairi di Amerika Utara dan pampa di Argentina.
- Fauna: bison dan kuda liar (mustang) di Amerika, gajah dan jerapah di Afrika, domba dan kanguru di Australia.
Karnivora: singa, srigala, anjing liar, cheetah.
3. Bioma Sabana
Bioma sabana adalah padang rumput dengan diselingi oleh gerombolan pepohonan. Berdasarkan jenis tumbuhan yang menyusunnya, sabana dibedakan menjadi dua, yaitu sabana murni dan sabana campuran.
- Sabana murni : bila pohon-pohon yang menyusunnya hanya terdiri
atas satu jenis tumbuhan saja.
- Sabana campuran : bila pohon-pohon penyusunnya terdiri dari
campuran berjenis-jenis pohon.
4. Bioma Hutan Tropis
Bioma hutan tropis merupakan bioma yang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan hewan yang paling tinggi. Meliputi daerah aliran sungai Amazone-Orinaco, Amerika Tengah, sebagian besar daerah Asia Tenggara dan Papua Nugini, dan lembah Kongo di Afrika.
Ciri-ciri:
1. Curah hujannya tinggi, merata sepanjang tahun, yaitu antara 200 - 225 cm/tahun.
2. Matahari bersinar sepanjang tahun.
3. Dari bulan satu ke bulan yang lain perubahan suhunya relatif kecil.
4. Di bawah kanopi atau tudung pohon, gelap sepanjang hari, sehingga tidak ada perubahan suhu antara siang dan malam hari.
- Flora: pada biorna hutan tropis terdapat beratus-ratus spesies
tumbuhan. Pohon-pohon utama dapat mencapai ketinggian 20 - 40 m, dengan cabang-cabang berdaun lebat sehingga membentuk suatu
tudung atau kanopi.
Tumbuhan khas yang dijumpai adalah liana dan epifit. Liana adalah
tumbuhan yang menjalar di permukaan hutan, contoh: rotan. Epifit
adalah tumbuhan yang menempel pada batang-batang pohon, dan
tidak merugikan pohon tersebut, contoh: Anggrek, paku Sarang
Burung.
- Fauna: di daerah tudung yang cukup sinar matahari, pada siang hari
hidup hewan-hewan yang bersifat diurnal yaitu hewan yang aktif pada siang hari, di daerah bawah kanopi dan daerah dasar hidup hewan-
hewan yang bersifat nokfurnal yaitu hewan yang aktif pada malam
hari, misalnya: burung hantu, babi hutan,kucing hutan, macan tutul.
5. Hutan Musim
Di daerah tropis, selain hutan tropis terdapat pula hutan musim.
Ciri tumbuhan yang membentuk formasi hutan musim:
Pohon-pohonnya tahan dari kekeringan dan termasuk tumbuhan tropofit, artinya mampu beradaptasi terhadap keadaan kering dan keadaan basah pada saat musim kemarau (kering), daunnya meranggas, sebaliknya saat musim hujan, daunnya lebat. Hutan musim biasa diberi nama sesuai dengan tumbuhan yang dominan, misalnya: hutan jati, hutan angsana. Di Indonesia, hutan musim dapat ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Fauna yang banyak ditemukan rusa, babi hutan, harimau.
6. Hutan Lumut
Hutan lumut banyak ditemukan di lereng gunung atau pegunungan yang terletak pada ketinggian di atas batas kondensasi uap air. Disebut hutan lumut karena vegetasi yang dominan adalah tumbuhan lumut. Lumut yang tumbuh tidak hanya di permakaan tanah dan bebatuan, tetapi mereka pun menutupi batang-batang pohon berkayu. Jadi pada hutan lumut, yang tumbuh tidak hanya lumut saja, melainkan hutan yang banyak pepohonannya yang tertutup oleh lumut. Sepanjang hari hampir selalu hujan karena kelembaban yang tinggi dan suhu rendah menyebabkan timbulnya embun terus-menerus.
7. Bioma Hutan Gugur (Deciduous Forest)
Ciri khas bioma hutan gugur adalah tumbuhannya sewaktu musim dingin, daun-daunnya meranggas. Bioma ini dapat dijumpai di Amerika Serikat, Eropa Barat, Asia Timur, dan Chili.
Ciri-ciri:
- Curah hujan merata sepanjang tahun, 75 - 100 cm/tahun.
- Mempunyai 4 musim: musim panas, musim dingin, musim gugur dan
musim semi
- Keanekaragaman jenis tumbuhan lebih rendah daripada bioma hutan
tropis.
Musim panas pada bioma hutan gugur, energi radiasi matahari yang diterima cukup tinggi, demikian pula dengan presipitasi (curah hujan) dan kelembaban. Kondisi ini menyebabkan pohon-pohon tinggi tumbuh dengan baik, tetapi cahaya masih dapat menembus ke dasar, karena dedaunan tidak begitu lebat tumbuhnya. Konsumen yang ada di daerah ini adalah serangga, burung, bajing, dan racoon yaitu hewan sebangsa luwak/musang.
Pada saat menjelang musim dingin, radiasi sinar matahari mulai berkurang, subu mulai turun. Tumbuhan mulai sulit mendapatkan air sehingga daun menjadi merah, coklat akhirnya gugur, sehingga musim itu disebut musim gugur.
Pada saat musim dingin, tumbuhan gundul dan tidak melakukan kegiatan fotosentesis. Beberapa jenis hewan melakukan hibernasi (tidur pada musim dingin). Menjelang musim panas, suhu naik, salju mencair, tumbuhan mulai berdaun kembali (bersemi) sehingga disebut musim semi.
8. Bioma Hutan Taiga / Hutan Homogen
Bioma ini kebanyakan terdapat di daerah antara subtropika dengan daerah kutub, seperti di daerah Skandinavia, Rusia, Siberia, Alaska, Kanada.
Ciri-ciri bioma hutan taiga:
1. Perbedaan antara suhu musim panas dan musim dingin cukup tinggi, pada musim panas suhu tinggi, pada musim dingin suhu sangat rendah.
2. Pertumbuhan tanaman terjadi pada musim panas yang berlangsung antara 3 sampai 6 bulan.
3. Flora khasnya adalah pohon berdaun jarum/pohon konifer, contoh pohon konifer adalah Pinus merkusii (pinus). Keanekaragaman tumbuhan di bioma taiga rendah, vegetasinya nyaris seragam, dominan pohon-pohon konifer karena nyaris seragam, hutannya disebut hutan homogen. Tumbuhannya hijau sepanjang tahun, meskipun dalam musim dingin dengan suhu sangat rendah.
4. Fauna yang terdapat di daerah ini adalah beruang hitam, ajak, srigala dan burung-burung yang bermigrasi kedaerah tropis bila musim dingin tiba. Beberapa jenis hewan seperti tupai dan mammalia kecil lainnya maupun berhibernasi pada saat musim dingin.
9. Bioma Hutan Tundra
Bioma ini terletak di kawasan lingkungan Kutub Utara sehingga iklimnya adalah iklim kutub. Istilah tundra berarti dataran tanpa pohon, vegetasinya didominasi oleh lumut dan lumut kerak, vegetasi lainnya adalah rumput-rumputan dan sedikit tumbuhan berbunga berukuran kecil.
Ciri-ciri:
1. Mendapat sedikit energi radiasi matahari, musim dingin sangat panjang dapat berlangsung selama 9 bulan dengan suasana gelap.
2. Musim panas berlangsung selama 3 bulan, pada masa inilah vegetasi mengalami pertumbuhan.
3. Fauna khas bioma tundra adalah "Muskoxem" (bison berhulu tebal) dan Reindeer/Caribou (rusa kutub).
10. Hutan Bakau / Mangrove
Hutan bakau/mangrove banyak ditemukan di sepanjang pantai yang landai di daerah tropik dan subtropik. Tumbuhan yang dominan adalah pohon bakau (Rhizophora sp), sehingga nama lainnya adalah hutan bakau, selain pohon bakau ditemukan pula pohon Kayu Api (Avicennia) dan pohon Bogem (Bruguiera).
Ciri-ciri:
1. Kadar garam air dan tanahnya tinggi.
2. Kadar O2 air dan tanahaya rendah.
3. Saat air pasang, lingkungannya banjir, saat air surut lingkungannya becek dan herlumpur.
Dengan kondisi kadar garam tinggi, menyebabkan tumbuhan bakau sukar menyerap air meskipun lingkungan sekitar banyak air, keadaan ini dikenal dengan nama kekeringan fisiologis. Untuk menyesuaikan dengan lingkungan tersebut tumbuhan bakau memiliki dedaunan yang tebal dan kaku, berlapiskan kutikula sehingga dapat mencegah terjadinya penguapan yang terlalu besar.
Untuk menyesuaikan diri dengan kadar O2 rendah, tumbuhan bakau memiliki akar nafas yang berfungsi menyerap O2 langsung dari udara. Agar individu baru tidak dihanyutkan oleh arus air akibat adanya pasang naik dan pasang surut terutama pada bakau kita dapati suatu fenomena yang dikenal dengan nama VIVIPARI yang artinya adalah berkecambahnya biji selagi biji masih terdapat dalam buah, belum tanggal dari pohon induknya, dapat membentuk akar yang kadang-kadang dapat mencapai 1 meter panjangnya.
Jika biji yang sudah berkecambah tadi lepas dari pohon induknya maka dengan akar yang panjang tersebut dapat menancap cukup dalam di dalam lumpur, sehingga tidak akan terganggu dengan arus air yang terjadi pada gerakan pasang dan surut.
Hutan bakau di Indonesia terdapat di sepanjang pantai timur Sumatra, pantai barat dan selatan Kalimantan dan sepanjang pantai Irian, di Pulau Jawa hutan bakau yang agak luas masih tersisa di sekitar Segara Anakan dekat Cilacap yang merupakan muara sungai Citanduy.
Jenis-jenis hewan yang dapat ditemukan dalam lingkungan hutan bakau terutama adalah ikan dan hewan-hewan melata (buaya, biawak) dan burung-burung yang bersarang di atas pohon-pohon bakau.
Pada habitat darat dikenal istilah Bioma yaitu daerah habitat yang meliputi skala yang luas. Berikut ini hanya akan dibahas beberapa bioma utama yaitu:
1. Bioma gurun dan setengah gurun
2. Bioma padang rumput
3. Bioma hutan tropis
4. Bioma hutan gugur
5. Bioma hutan taiga
6. Bioma tundra
7. Bioma sabana
8. Bioma hutan bakau (mangrove) dan
9. Bioma hutan lumut
10. Bioma Hutan Musim
Gbr. Perubahan Bioma Menurut Ketinggian Garis dan Lintang
1. Bioma Gurun dan Setengah Gurun
Bioma gurun dan setengah gurun banyak ditemukan di Amerika Utara, Afrika Utara, Australia dan Asia Barat.
Ciri-ciri:
1. Curah hujan sangat rendah, + 25 cm/tahun
2. Kecepatan penguapan air lebih cepat dari presipitasi
3. Kelembaban udara sangat rendah
4. Perbedaan suhu siang hari dengan malam hari sangat tinggi (siangdapat mencapai 45 C, malam dapat turun sampai 0 C)
5. Tanah sangat tandus karena tidak mampu menyimpan air
Lingkungan biotik:
- Flora: tumbuhan yang tumbuh adalah tumbuhan yang dapat
beradaptasi dengan daerah kering (tumbuhan serofit).
- Fauna: hewan besar yang hidup di gurun umumnya yang mampu
menyimpan air, misalnya unta, sedang untuk hewan-hewan kecil
misalnya kadal, ular, tikus, semut, umumnya hanya aktif hidup pada
pagi hari, pada siang hari yang terik mereka hidup pada lubang-lubang.
2. Bioma Padang Rumput
Bioma padang rumput membentang mulai dari daerah tropis sampai dengan daerah beriklim sedang, seperti Hongaria, Rusia Selatan, Asia Tengah, Amerika Selatan, Australia.
Ciri-ciri:
1. Curah hujan antara 25 - 50 cm/tahun, di beberapa daerah padang rumput curah hujannya dapat mencapai 100 cm/tahun.
2. Curah hujan yang relatif rendah turun secara tidak teratur.
3. Turunnya hujan yang tidak teratur tersebut menyebabkan porositas dan drainase kurang baik sehingga tumbuh-tumbuhan sukar mengambil air.
Lingkungan biotik:
- Flora: tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan daerah dengan
porositas dan drainase kurang baik adalah rumput, meskipun ada pula tumbuhan lain yang hidup selain rumput, tetapi karena mereka
merupakan vegetasi yang dominan maka disebut padang rumput. Nama padang rumput bermacam-macam seperti stepa di Rusia Selatan,
puzta di Hongaria, prairi di Amerika Utara dan pampa di Argentina.
- Fauna: bison dan kuda liar (mustang) di Amerika, gajah dan jerapah di Afrika, domba dan kanguru di Australia.
Karnivora: singa, srigala, anjing liar, cheetah.
3. Bioma Sabana
Bioma sabana adalah padang rumput dengan diselingi oleh gerombolan pepohonan. Berdasarkan jenis tumbuhan yang menyusunnya, sabana dibedakan menjadi dua, yaitu sabana murni dan sabana campuran.
- Sabana murni : bila pohon-pohon yang menyusunnya hanya terdiri
atas satu jenis tumbuhan saja.
- Sabana campuran : bila pohon-pohon penyusunnya terdiri dari
campuran berjenis-jenis pohon.
4. Bioma Hutan Tropis
Bioma hutan tropis merupakan bioma yang memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan hewan yang paling tinggi. Meliputi daerah aliran sungai Amazone-Orinaco, Amerika Tengah, sebagian besar daerah Asia Tenggara dan Papua Nugini, dan lembah Kongo di Afrika.
Ciri-ciri:
1. Curah hujannya tinggi, merata sepanjang tahun, yaitu antara 200 - 225 cm/tahun.
2. Matahari bersinar sepanjang tahun.
3. Dari bulan satu ke bulan yang lain perubahan suhunya relatif kecil.
4. Di bawah kanopi atau tudung pohon, gelap sepanjang hari, sehingga tidak ada perubahan suhu antara siang dan malam hari.
- Flora: pada biorna hutan tropis terdapat beratus-ratus spesies
tumbuhan. Pohon-pohon utama dapat mencapai ketinggian 20 - 40 m, dengan cabang-cabang berdaun lebat sehingga membentuk suatu
tudung atau kanopi.
Tumbuhan khas yang dijumpai adalah liana dan epifit. Liana adalah
tumbuhan yang menjalar di permukaan hutan, contoh: rotan. Epifit
adalah tumbuhan yang menempel pada batang-batang pohon, dan
tidak merugikan pohon tersebut, contoh: Anggrek, paku Sarang
Burung.
- Fauna: di daerah tudung yang cukup sinar matahari, pada siang hari
hidup hewan-hewan yang bersifat diurnal yaitu hewan yang aktif pada siang hari, di daerah bawah kanopi dan daerah dasar hidup hewan-
hewan yang bersifat nokfurnal yaitu hewan yang aktif pada malam
hari, misalnya: burung hantu, babi hutan,kucing hutan, macan tutul.
5. Hutan Musim
Di daerah tropis, selain hutan tropis terdapat pula hutan musim.
Ciri tumbuhan yang membentuk formasi hutan musim:
Pohon-pohonnya tahan dari kekeringan dan termasuk tumbuhan tropofit, artinya mampu beradaptasi terhadap keadaan kering dan keadaan basah pada saat musim kemarau (kering), daunnya meranggas, sebaliknya saat musim hujan, daunnya lebat. Hutan musim biasa diberi nama sesuai dengan tumbuhan yang dominan, misalnya: hutan jati, hutan angsana. Di Indonesia, hutan musim dapat ditemukan di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Fauna yang banyak ditemukan rusa, babi hutan, harimau.
6. Hutan Lumut
Hutan lumut banyak ditemukan di lereng gunung atau pegunungan yang terletak pada ketinggian di atas batas kondensasi uap air. Disebut hutan lumut karena vegetasi yang dominan adalah tumbuhan lumut. Lumut yang tumbuh tidak hanya di permakaan tanah dan bebatuan, tetapi mereka pun menutupi batang-batang pohon berkayu. Jadi pada hutan lumut, yang tumbuh tidak hanya lumut saja, melainkan hutan yang banyak pepohonannya yang tertutup oleh lumut. Sepanjang hari hampir selalu hujan karena kelembaban yang tinggi dan suhu rendah menyebabkan timbulnya embun terus-menerus.
7. Bioma Hutan Gugur (Deciduous Forest)
Ciri khas bioma hutan gugur adalah tumbuhannya sewaktu musim dingin, daun-daunnya meranggas. Bioma ini dapat dijumpai di Amerika Serikat, Eropa Barat, Asia Timur, dan Chili.
Ciri-ciri:
- Curah hujan merata sepanjang tahun, 75 - 100 cm/tahun.
- Mempunyai 4 musim: musim panas, musim dingin, musim gugur dan
musim semi
- Keanekaragaman jenis tumbuhan lebih rendah daripada bioma hutan
tropis.
Musim panas pada bioma hutan gugur, energi radiasi matahari yang diterima cukup tinggi, demikian pula dengan presipitasi (curah hujan) dan kelembaban. Kondisi ini menyebabkan pohon-pohon tinggi tumbuh dengan baik, tetapi cahaya masih dapat menembus ke dasar, karena dedaunan tidak begitu lebat tumbuhnya. Konsumen yang ada di daerah ini adalah serangga, burung, bajing, dan racoon yaitu hewan sebangsa luwak/musang.
Pada saat menjelang musim dingin, radiasi sinar matahari mulai berkurang, subu mulai turun. Tumbuhan mulai sulit mendapatkan air sehingga daun menjadi merah, coklat akhirnya gugur, sehingga musim itu disebut musim gugur.
Pada saat musim dingin, tumbuhan gundul dan tidak melakukan kegiatan fotosentesis. Beberapa jenis hewan melakukan hibernasi (tidur pada musim dingin). Menjelang musim panas, suhu naik, salju mencair, tumbuhan mulai berdaun kembali (bersemi) sehingga disebut musim semi.
8. Bioma Hutan Taiga / Hutan Homogen
Bioma ini kebanyakan terdapat di daerah antara subtropika dengan daerah kutub, seperti di daerah Skandinavia, Rusia, Siberia, Alaska, Kanada.
Ciri-ciri bioma hutan taiga:
1. Perbedaan antara suhu musim panas dan musim dingin cukup tinggi, pada musim panas suhu tinggi, pada musim dingin suhu sangat rendah.
2. Pertumbuhan tanaman terjadi pada musim panas yang berlangsung antara 3 sampai 6 bulan.
3. Flora khasnya adalah pohon berdaun jarum/pohon konifer, contoh pohon konifer adalah Pinus merkusii (pinus). Keanekaragaman tumbuhan di bioma taiga rendah, vegetasinya nyaris seragam, dominan pohon-pohon konifer karena nyaris seragam, hutannya disebut hutan homogen. Tumbuhannya hijau sepanjang tahun, meskipun dalam musim dingin dengan suhu sangat rendah.
4. Fauna yang terdapat di daerah ini adalah beruang hitam, ajak, srigala dan burung-burung yang bermigrasi kedaerah tropis bila musim dingin tiba. Beberapa jenis hewan seperti tupai dan mammalia kecil lainnya maupun berhibernasi pada saat musim dingin.
9. Bioma Hutan Tundra
Bioma ini terletak di kawasan lingkungan Kutub Utara sehingga iklimnya adalah iklim kutub. Istilah tundra berarti dataran tanpa pohon, vegetasinya didominasi oleh lumut dan lumut kerak, vegetasi lainnya adalah rumput-rumputan dan sedikit tumbuhan berbunga berukuran kecil.
Ciri-ciri:
1. Mendapat sedikit energi radiasi matahari, musim dingin sangat panjang dapat berlangsung selama 9 bulan dengan suasana gelap.
2. Musim panas berlangsung selama 3 bulan, pada masa inilah vegetasi mengalami pertumbuhan.
3. Fauna khas bioma tundra adalah "Muskoxem" (bison berhulu tebal) dan Reindeer/Caribou (rusa kutub).
10. Hutan Bakau / Mangrove
Hutan bakau/mangrove banyak ditemukan di sepanjang pantai yang landai di daerah tropik dan subtropik. Tumbuhan yang dominan adalah pohon bakau (Rhizophora sp), sehingga nama lainnya adalah hutan bakau, selain pohon bakau ditemukan pula pohon Kayu Api (Avicennia) dan pohon Bogem (Bruguiera).
Ciri-ciri:
1. Kadar garam air dan tanahnya tinggi.
2. Kadar O2 air dan tanahaya rendah.
3. Saat air pasang, lingkungannya banjir, saat air surut lingkungannya becek dan herlumpur.
Dengan kondisi kadar garam tinggi, menyebabkan tumbuhan bakau sukar menyerap air meskipun lingkungan sekitar banyak air, keadaan ini dikenal dengan nama kekeringan fisiologis. Untuk menyesuaikan dengan lingkungan tersebut tumbuhan bakau memiliki dedaunan yang tebal dan kaku, berlapiskan kutikula sehingga dapat mencegah terjadinya penguapan yang terlalu besar.
Untuk menyesuaikan diri dengan kadar O2 rendah, tumbuhan bakau memiliki akar nafas yang berfungsi menyerap O2 langsung dari udara. Agar individu baru tidak dihanyutkan oleh arus air akibat adanya pasang naik dan pasang surut terutama pada bakau kita dapati suatu fenomena yang dikenal dengan nama VIVIPARI yang artinya adalah berkecambahnya biji selagi biji masih terdapat dalam buah, belum tanggal dari pohon induknya, dapat membentuk akar yang kadang-kadang dapat mencapai 1 meter panjangnya.
Jika biji yang sudah berkecambah tadi lepas dari pohon induknya maka dengan akar yang panjang tersebut dapat menancap cukup dalam di dalam lumpur, sehingga tidak akan terganggu dengan arus air yang terjadi pada gerakan pasang dan surut.
Hutan bakau di Indonesia terdapat di sepanjang pantai timur Sumatra, pantai barat dan selatan Kalimantan dan sepanjang pantai Irian, di Pulau Jawa hutan bakau yang agak luas masih tersisa di sekitar Segara Anakan dekat Cilacap yang merupakan muara sungai Citanduy.
Jenis-jenis hewan yang dapat ditemukan dalam lingkungan hutan bakau terutama adalah ikan dan hewan-hewan melata (buaya, biawak) dan burung-burung yang bersarang di atas pohon-pohon bakau.
Sabtu, 18 Juli 2009
Pendekatan Keruangan
Pendekatan Keruangan.
Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997).
Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?
5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?
6. Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.
Pola keruangan berkenaan dengan distribusi elemen-elemen pembentuk ruang. Fenomena titik, garis, dan areal memiliki kedudukan sendiri-sendiri, baik secara implisit maupun eksplisit dalam hal agihan keruangan (Coffey, 1989). Beberapa contoh seperti cluster pattern, random pattern, regular pattern, dan cluster linier pattern untuk kenampakan-kenampakan titik dapat diidentifikasi (Whynne-Hammond, 1985; Yunus, 1989).
Agihan kenampakan areal (bidang) dapat berupa kenampakan yang memanjang (linier/axial/ribon); kenampakan seperti kipas (fan-shape pattern), kenampakan membulat (rounded pattern), empat persegi panjang (rectangular pattern), kenampakan gurita (octopus shape pattern), kenampakan bintang (star shape pattern), dan beberapa gabungan dari beberapa yang ada. Keenam bentuk pertanyaan geografi dimuka selalu disertakan dalam setiap analisisnya.
Proses keruangan berkenaan dengan perubahan elemen-elemen pembentuk ruang dana ruang. Oleh karena itu analisis perubahan keruangan selalu terkait dengan dengan dimensi kewaktuan (temporal dimension). Dalam hal ini minimal harus ada dua titik waktu yang digunakan sebagai dasar analisis terhadap fenomena yang dipelajari.
Kerangka analisis pendekatan keruangan dapat dicontohkan sebagai berikut.
“....belakangan sering dijumpai banjir dan tanah longsor. Bencana itu terjadi di kawasan hulu sungai Konto Pujon Malang. Bagaimana memecahkan permasalahan tersebut dengan menggunakan pendekatan keruangan?
Untuk itu diperlukan kerangka kerja studi secara mendalam tentang kondisi alam dan masyarakat di wilayah hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap pertama perlu dilihat struktur, pola, dan proses keruangan kawasan hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap ini dapat diidentifikasi fenomena/obyek-obyek yang terdapat di kawasan hulu sungai Konto. Setelah itu, pada tahap kedua dapat dilakukan zonasi wilayah berdasarkan kerakteristik kelerengannya. Zonasi itu akan menghasilkan zona-zona berdasarkan kemiringannya, misalnya curam, agak curam, agak landai, landai, dan datar. Berikut pada tahap ketiga ditentukan pemanfaatan zona tersebut untuk keperluan yang tepat. Zona mana yang digunakan untuk konservasi, penyangga, dan budidaya. Dengan demikian tidak terjadi kesalahan dalam pemanfaatan ruang tersebut. Erosi dan tanah langsung dapat dicegah, dan bersamaan dengan itu dapat melakukan budidaya tanaman pertanian pada zona yang sesuai.
Studi fisik demikian saja masih belum cukup. Karakteristik penduduk di wilayah hulu sungai Konto itu juga perlu dipelajari. Misalnya jenis mata pencahariannya, tingkat pendidikannya, ketrampilan yang dimiliki, dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Informasi itu dapat digunakan untuk pengembangan kawasan yang terbaik yang berbasis masyarakat setempat. Jenis tanaman apa yang perlu ditanam, bagaimana cara penanamannya, pemeliharaannya, dan pemanfaatannya. Dengan pendekatan itu terlihat interelasi, interaksi, dan intergrasi antara kondisi alam dan manusia di situ untuk memecahkan permasalahan banjir dan tanah longsor.
b. Pendekatan Kelingkungan (Ecological Approach).
Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada eksistensi ruang, namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan varaibel lingkungan yang ada. Dalam pendekatan kelingkungan, kerangka analisisnya tidak mengkaitkan hubungan antara makluk hidup dengan lingkungan alam saja, tetapi harus pula dikaitkan dengan (1) fenomena yang didalamnya terliput fenomena alam beserta relik fisik tindakan manusia. (2) perilaku manusia yang meliputi perkembangan ide-ide dan nilai-nilai geografis serta kesadaran akan lingkungan.
Dalam sistematika Kirk ditunjukkan ruang lingkup lingkungan geografi sebagai berikut. Lingkungan geografi memiliki dua aspek, yaitu lingkungan perilaku (behavior environment) dan lingkungan fenomena (phenomena environment). Lingkungan perilaku mencakup dua aspek, yaitu pengembangan nilai dan gagasan, dan kesadaran lingkungan. Ada dua aspek penting dalam pengembangan nilai dan gagasan geografi, yaitu lingkungan budaya gagasan-gagasan geografi, dan proses sosial ekonomi dan perubahan nilai-nilai lingkungan. Dalam kesadaran lingkungan yang penting adalah perubahan pengetahuan lingkungan alam manusianya.
Lingkungan fenomena mencakup dua aspek, yaitu relik fisik tindakan manusia dan fenomena alam. Relic fisik tindakan manusia mencakup penempatan urutan lingkungan dan manusia sebagai agen perubahan lingkungan. Fenomena lingkungan mencakup produk dan proses organik termasuk penduduk dan produk dan proses anorganik.
Studi mandalam mengenai interelasi antara fenomena-fenomena geosfer tertentu pada wilayah formal dengan variabel kelingkungan inilah yang kemudian diangap sebagai ciri khas pada pendekatan kelingkungan. Keenam pertanyaan geografi tersebut selalu menyertai setiap bentuk analisis geografi. Sistematika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Kerangka umum analisis pendekatan kelingkungan dapat dicontohkan sebagai berikut.
Masalah yang terjadi adalah banjir dan tanah longsor di Ngroto Pujon Malang. Untuk mempelajari banjir dengan pendekatan kelingkungan dapat diawali dengan tindakan sebagai berikut. (1) mengidentifikasi kondisi fisik di lokasi tempat terjadinya banjir dan tanah longsor. Dalam identifikasi itu juga perlu dilakukan secara mendalam, termasuk mengidentifikasi jenis tanah, tropografi, tumbuhan, dan hewan yang hidup di lokasi itu. (2) mengidentifikasi gagasan, sikap dan perilaku masyarakat setempat dalam mengelola alam di lokasi tersebut. (3) mengidentifikasi sistem budidaya yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup (cara bertanam, irigasi, dan sebagainya). (4) menganalisis hubungan antara sistem budidaya dengan hasil dan dampak yang ditimbulkan. (5) mencari alternatif pemecahan atas permasalahan yang terjadi.
Dalam geografi lingkungan, pendekatan kelingungan mendapat peran yang penting untuk memahami fenomena geosfer. Dengan pendekatan itu fenomena geosfer dapat dipahami secara holistik sehingga pemecahan terhadap masalah yang timbul juga dapat dikonsepsikan secara baik.
c. Pendekatan Kompleks Wilayah
Permasalahan yang terjadi di suatu wilayah tidak hanya melibatkan elemen di wilayah itu. Permasalahan itu terkait dengan elemen di wilayah lain, sehingga keterkaitan antar wilayah tidak dapat dihindarkan. Selain itu, setiap masalah tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Faktor determinannya bersifat kompleks. Oleh karena itu ada kebutuhan memberikan analisis yang kompleks itu untuk memecahkan permasalahan secara lebih luas dan kompleks pula.
Untuk menghadapi permasalahan seperti itu, salah satu alternatif dengan menggunakan pendekatan kompleks wilayah. Pendekatan itu merupakan kombinasi antara pendekatan yang pertama dan pendekatan yang kedua. Oleh karena sorotan wilayahnya sebagai obyek bersifat multivariate, maka kajian bersifat hirisontal dan vertikal. Kajian horisontal merupakan analisis yang menekankan pada keruangan, sedangkan kajian yang bersifat vertikal menekankan pada aspek kelingkungan. Adanya perbedaan antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain telah menciptakan hubungan fungsional antara unit-unit wilayah sehingga tercipta suatu wilayah, sistem yang kompleks sifatnya dan pengkajiannya membutuhkan pendekatan yang multivariate juga.
Kerangka umum analisis pendekatan kompleks wilayah dapat dicontohkan sebagai berikut.
Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana memecahkan masalah urbanisasi. Masalah itu merupakan masalah yang kompleks, melibatkan dua wilayah, yaitu wilayah desa dan kota. Untuk memecahkan masalah itu dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut.
1. menerapkan pendekatan keruangan, seperti dicontohkan pada pendekatan pertama
2. menerapkan pendekatan kelingkungan, sebagaimana dicontohkan pada pendekatan kedua
3. menganalisis keterkaitan antara faktor-faktor di wilayah desa dengan di kota
Arti Penting Pendekatan dalam Paradigma Geografi
Dalam menghampiri, menganalisis gejala dan permasalahan suatu ilmu (sains), maka diperlukan suatu metode pendekatan (approach method). Metode pendekatan inilah yang digunakan untuk membedakan kajian geografi dengan ilmu lainnya, meskipun obyek kajiannya sama. Metode pendekatan ini terbagi 3 macam bentuk pendekatan antara lain: pendekatan keruangan, pendekatan ekologi/kelingkungan dan pendekatan kewilayahan.
1. Keruangan, analisis yang perlu diperhatikan adalah penyebaran, penggunaan ruang dan perencanaan ruang. Dalam analisis peruangan dikumpulkan data ruang disuatu tempat atau wilayah yang terdiri dari data titik (point), data bidang (areal) dan data garis (line) meliputi jalan dan sungai.
2. Kelingkungan, yaitu menerapkan konsep ekosistem dalam mengkaji suatu permasalahan geografi, fenomena, gaya dan masalah mempunyai keterkaitan aspek fisik dengan aspek manusia dalam suatu ruang.
3. Kewilayahan, yang dikaji yaitu tentang penyebaran fenomena, gaya dan masalah dalam ruangan, interaksi antar/variabel manusia dan variabel fisik lingkungannya yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lainnya. Karena pendekatan kewilayahan merupakan perpaduan antara pendekatan keruangan dan kelingkungan, maka kajiannya adalah perpaduan antara keduanya.
Pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan dan pendekatan kewilayahan dalam kerjanya merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan yang terpadu inilah yang disebut pendekatan geografi. Jadi fenomena, gejala dan masalah ditinjau penyebaran keruangannya, keterkaitan antara berbagai unit ekosistem dalam ruang. Penerapan pendekatan geografi terhadap gejala dan permasalahan dapat menghasilkan berbagai alternatif-alternatif pemecahan.
Oleh Budi Handoyo
Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksisitensi ruang dalam perspektif geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial processess) (Yunus, 1997).
Dalam konteks fenomena keruangan terdapat perbedaan kenampakan strutkur, pola dan proses. Struktur keruangan berkenaan dengan dengan elemen-elemen penbentuk ruang. Elemen-elemen tersebut dapat disimbulkan dalam tiga bentuk utama, yaitu: (1) kenampakan titik (point features), (2) kenampakan garis (line features), dan (3) kenampakan bidang (areal features).
Kerangka kerja analisis pendekatan keruangan bertitik tolak pada permasalahan susunan elemen-elemen pembentuk ruang. Dalam analisis itu dilakukan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. What? Struktur ruang apa itu?
2. Where? Dimana struktur ruang tesebut berada?
3. When? Kapan struktur ruang tersebut terbentuk sperti itu?
4. Why? Mengapa struktur ruang terbentuk seperti itu?
5. How? Bagaimana proses terbentukknya struktur seperti itu?
6. Who suffers what dan who benefits whats? Bagaimana struktur
Keruangan tersebut didayagunakan sedemikian rupa untuk kepentingan manusia. Dampak positif dan negatif dari keberadaan ruang seperti itu selalu dikaitkan dengan kepentingan manusia pada saat ini dan akan datang.
Pola keruangan berkenaan dengan distribusi elemen-elemen pembentuk ruang. Fenomena titik, garis, dan areal memiliki kedudukan sendiri-sendiri, baik secara implisit maupun eksplisit dalam hal agihan keruangan (Coffey, 1989). Beberapa contoh seperti cluster pattern, random pattern, regular pattern, dan cluster linier pattern untuk kenampakan-kenampakan titik dapat diidentifikasi (Whynne-Hammond, 1985; Yunus, 1989).
Agihan kenampakan areal (bidang) dapat berupa kenampakan yang memanjang (linier/axial/ribon); kenampakan seperti kipas (fan-shape pattern), kenampakan membulat (rounded pattern), empat persegi panjang (rectangular pattern), kenampakan gurita (octopus shape pattern), kenampakan bintang (star shape pattern), dan beberapa gabungan dari beberapa yang ada. Keenam bentuk pertanyaan geografi dimuka selalu disertakan dalam setiap analisisnya.
Proses keruangan berkenaan dengan perubahan elemen-elemen pembentuk ruang dana ruang. Oleh karena itu analisis perubahan keruangan selalu terkait dengan dengan dimensi kewaktuan (temporal dimension). Dalam hal ini minimal harus ada dua titik waktu yang digunakan sebagai dasar analisis terhadap fenomena yang dipelajari.
Kerangka analisis pendekatan keruangan dapat dicontohkan sebagai berikut.
“....belakangan sering dijumpai banjir dan tanah longsor. Bencana itu terjadi di kawasan hulu sungai Konto Pujon Malang. Bagaimana memecahkan permasalahan tersebut dengan menggunakan pendekatan keruangan?
Untuk itu diperlukan kerangka kerja studi secara mendalam tentang kondisi alam dan masyarakat di wilayah hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap pertama perlu dilihat struktur, pola, dan proses keruangan kawasan hulu sungai Konto tersebut. Pada tahap ini dapat diidentifikasi fenomena/obyek-obyek yang terdapat di kawasan hulu sungai Konto. Setelah itu, pada tahap kedua dapat dilakukan zonasi wilayah berdasarkan kerakteristik kelerengannya. Zonasi itu akan menghasilkan zona-zona berdasarkan kemiringannya, misalnya curam, agak curam, agak landai, landai, dan datar. Berikut pada tahap ketiga ditentukan pemanfaatan zona tersebut untuk keperluan yang tepat. Zona mana yang digunakan untuk konservasi, penyangga, dan budidaya. Dengan demikian tidak terjadi kesalahan dalam pemanfaatan ruang tersebut. Erosi dan tanah langsung dapat dicegah, dan bersamaan dengan itu dapat melakukan budidaya tanaman pertanian pada zona yang sesuai.
Studi fisik demikian saja masih belum cukup. Karakteristik penduduk di wilayah hulu sungai Konto itu juga perlu dipelajari. Misalnya jenis mata pencahariannya, tingkat pendidikannya, ketrampilan yang dimiliki, dan kebiasaan-kebiasaan mereka. Informasi itu dapat digunakan untuk pengembangan kawasan yang terbaik yang berbasis masyarakat setempat. Jenis tanaman apa yang perlu ditanam, bagaimana cara penanamannya, pemeliharaannya, dan pemanfaatannya. Dengan pendekatan itu terlihat interelasi, interaksi, dan intergrasi antara kondisi alam dan manusia di situ untuk memecahkan permasalahan banjir dan tanah longsor.
b. Pendekatan Kelingkungan (Ecological Approach).
Dalam pendekatan ini penekanannya bukan lagi pada eksistensi ruang, namun pada keterkaitan antara fenomena geosfera tertentu dengan varaibel lingkungan yang ada. Dalam pendekatan kelingkungan, kerangka analisisnya tidak mengkaitkan hubungan antara makluk hidup dengan lingkungan alam saja, tetapi harus pula dikaitkan dengan (1) fenomena yang didalamnya terliput fenomena alam beserta relik fisik tindakan manusia. (2) perilaku manusia yang meliputi perkembangan ide-ide dan nilai-nilai geografis serta kesadaran akan lingkungan.
Dalam sistematika Kirk ditunjukkan ruang lingkup lingkungan geografi sebagai berikut. Lingkungan geografi memiliki dua aspek, yaitu lingkungan perilaku (behavior environment) dan lingkungan fenomena (phenomena environment). Lingkungan perilaku mencakup dua aspek, yaitu pengembangan nilai dan gagasan, dan kesadaran lingkungan. Ada dua aspek penting dalam pengembangan nilai dan gagasan geografi, yaitu lingkungan budaya gagasan-gagasan geografi, dan proses sosial ekonomi dan perubahan nilai-nilai lingkungan. Dalam kesadaran lingkungan yang penting adalah perubahan pengetahuan lingkungan alam manusianya.
Lingkungan fenomena mencakup dua aspek, yaitu relik fisik tindakan manusia dan fenomena alam. Relic fisik tindakan manusia mencakup penempatan urutan lingkungan dan manusia sebagai agen perubahan lingkungan. Fenomena lingkungan mencakup produk dan proses organik termasuk penduduk dan produk dan proses anorganik.
Studi mandalam mengenai interelasi antara fenomena-fenomena geosfer tertentu pada wilayah formal dengan variabel kelingkungan inilah yang kemudian diangap sebagai ciri khas pada pendekatan kelingkungan. Keenam pertanyaan geografi tersebut selalu menyertai setiap bentuk analisis geografi. Sistematika tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.
Kerangka umum analisis pendekatan kelingkungan dapat dicontohkan sebagai berikut.
Masalah yang terjadi adalah banjir dan tanah longsor di Ngroto Pujon Malang. Untuk mempelajari banjir dengan pendekatan kelingkungan dapat diawali dengan tindakan sebagai berikut. (1) mengidentifikasi kondisi fisik di lokasi tempat terjadinya banjir dan tanah longsor. Dalam identifikasi itu juga perlu dilakukan secara mendalam, termasuk mengidentifikasi jenis tanah, tropografi, tumbuhan, dan hewan yang hidup di lokasi itu. (2) mengidentifikasi gagasan, sikap dan perilaku masyarakat setempat dalam mengelola alam di lokasi tersebut. (3) mengidentifikasi sistem budidaya yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup (cara bertanam, irigasi, dan sebagainya). (4) menganalisis hubungan antara sistem budidaya dengan hasil dan dampak yang ditimbulkan. (5) mencari alternatif pemecahan atas permasalahan yang terjadi.
Dalam geografi lingkungan, pendekatan kelingungan mendapat peran yang penting untuk memahami fenomena geosfer. Dengan pendekatan itu fenomena geosfer dapat dipahami secara holistik sehingga pemecahan terhadap masalah yang timbul juga dapat dikonsepsikan secara baik.
c. Pendekatan Kompleks Wilayah
Permasalahan yang terjadi di suatu wilayah tidak hanya melibatkan elemen di wilayah itu. Permasalahan itu terkait dengan elemen di wilayah lain, sehingga keterkaitan antar wilayah tidak dapat dihindarkan. Selain itu, setiap masalah tidak disebabkan oleh faktor tunggal. Faktor determinannya bersifat kompleks. Oleh karena itu ada kebutuhan memberikan analisis yang kompleks itu untuk memecahkan permasalahan secara lebih luas dan kompleks pula.
Untuk menghadapi permasalahan seperti itu, salah satu alternatif dengan menggunakan pendekatan kompleks wilayah. Pendekatan itu merupakan kombinasi antara pendekatan yang pertama dan pendekatan yang kedua. Oleh karena sorotan wilayahnya sebagai obyek bersifat multivariate, maka kajian bersifat hirisontal dan vertikal. Kajian horisontal merupakan analisis yang menekankan pada keruangan, sedangkan kajian yang bersifat vertikal menekankan pada aspek kelingkungan. Adanya perbedaan antara wilayah yang satu dengan wilayah yang lain telah menciptakan hubungan fungsional antara unit-unit wilayah sehingga tercipta suatu wilayah, sistem yang kompleks sifatnya dan pengkajiannya membutuhkan pendekatan yang multivariate juga.
Kerangka umum analisis pendekatan kompleks wilayah dapat dicontohkan sebagai berikut.
Permasalahan yang dihadapi adalah bagaimana memecahkan masalah urbanisasi. Masalah itu merupakan masalah yang kompleks, melibatkan dua wilayah, yaitu wilayah desa dan kota. Untuk memecahkan masalah itu dapat dilakukan dengan langkah sebagai berikut.
1. menerapkan pendekatan keruangan, seperti dicontohkan pada pendekatan pertama
2. menerapkan pendekatan kelingkungan, sebagaimana dicontohkan pada pendekatan kedua
3. menganalisis keterkaitan antara faktor-faktor di wilayah desa dengan di kota
Arti Penting Pendekatan dalam Paradigma Geografi
Dalam menghampiri, menganalisis gejala dan permasalahan suatu ilmu (sains), maka diperlukan suatu metode pendekatan (approach method). Metode pendekatan inilah yang digunakan untuk membedakan kajian geografi dengan ilmu lainnya, meskipun obyek kajiannya sama. Metode pendekatan ini terbagi 3 macam bentuk pendekatan antara lain: pendekatan keruangan, pendekatan ekologi/kelingkungan dan pendekatan kewilayahan.
1. Keruangan, analisis yang perlu diperhatikan adalah penyebaran, penggunaan ruang dan perencanaan ruang. Dalam analisis peruangan dikumpulkan data ruang disuatu tempat atau wilayah yang terdiri dari data titik (point), data bidang (areal) dan data garis (line) meliputi jalan dan sungai.
2. Kelingkungan, yaitu menerapkan konsep ekosistem dalam mengkaji suatu permasalahan geografi, fenomena, gaya dan masalah mempunyai keterkaitan aspek fisik dengan aspek manusia dalam suatu ruang.
3. Kewilayahan, yang dikaji yaitu tentang penyebaran fenomena, gaya dan masalah dalam ruangan, interaksi antar/variabel manusia dan variabel fisik lingkungannya yang saling terkait dan mempengaruhi satu sama lainnya. Karena pendekatan kewilayahan merupakan perpaduan antara pendekatan keruangan dan kelingkungan, maka kajiannya adalah perpaduan antara keduanya.
Pendekatan keruangan, pendekatan kelingkungan dan pendekatan kewilayahan dalam kerjanya merupakan satu kesatuan yang utuh. Pendekatan yang terpadu inilah yang disebut pendekatan geografi. Jadi fenomena, gejala dan masalah ditinjau penyebaran keruangannya, keterkaitan antara berbagai unit ekosistem dalam ruang. Penerapan pendekatan geografi terhadap gejala dan permasalahan dapat menghasilkan berbagai alternatif-alternatif pemecahan.
Oleh Budi Handoyo
Langganan:
Postingan (Atom)