LANGUAGE

MAU SUKSES BELAJAR , YA BELAJAR!! JANGAN LUPA SHOLAT

Bonus Anda

Selasa, 20 Juli 2010

Pengertian Geografi

Pengertian Geografi
Prof. Bintarto : Geografi mempelajari hubungan kausal gejala-gejala di muka bumi dan peristiwa-peristiwa yang terjadi di muka bumi baik yang fisikal maupun yang menyangkut mahkluk hidup beserta permasalahannya, melalui pendekatan keruangan, ekologikal dan regional untuk kepentingan program, proses dan keberhasilan pembangunan.
Claudius Ptolomeus : mempelajari hal, baik yang disebabkan oleh alam atau manusia dan mempelajari akibat yang disebabkan dari perbedaan yang terjadi itu.
Erastothenes : geografi berasal dari kata geographica yang berarti penulisan atau penggambaran mengenai bumi.
Ellsworth Hunthington: memandang manusia sebagai figur yang pasif sehingga hidupnya dipengaruhi oleh alam sekitarnya.
Menurut Erastothenes, geografi berasal dari kata geographica yang berarti penulisan atau penggambaran mengenai bumi.
Menurut Claudius Ptolomaeus, geografi adalah suatu penyajian melalui peta dari sebagian dan seluruh permukaan bumi.
John Mackinder (1861-1947) seorang pakar geografi memberi definisi geografi sebagai satu kajian mengenai kaitan antara manusia dengan alam sekitarnya.
Ekblaw dan Mulkerne mengemukakan, bahwa geografi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari bumi dan kehidupannnya, mempengaruhi pandangan hidup kita, makanan yang kita konsumsi, pakaian yang kita gunakan, rumah yang kita huni dan tempat rekreasi yang kita nikmati.
Preston E. James mengemukakan geografi berkaitan dengan sistem keruangan, ruang yang menempati permukaan bumi. Geografi selalu berkaitan dengan hubungan timbal balik antara manusia dan habitatnya.
Menurut Ullman (1954), Geografi adalah interaksi antar ruang.
Maurice Le Lannou (1959)mengemukakan bahwa Objek study geografi adalah kelompok manusia dan organisasinya di muka bumi.
Paul Claval (1976) berpendapat bahwa Geografi selalu ingin menjelaskan gejala gejala dari segi hubungan keruangan.
Suatu definisi yang lain adalah hasil semlok (seminar dan lokakarya) di Semarang tahun 1988. Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan.
UNESCO (1956) mendifinasikan geografi sebagai: 1. satu agen sintesis; 2. satu kajian perhubungan ruang; 3. sains dalam penggunaan tanah.
Sumber : http://djunijanto.wordpress.com

Minggu, 11 Juli 2010

Arah Qiblat Sholat

INILAH SAAT MATAHARI tepat berada di atas Ka’bah
Setiap tahun ada dua waktu Matahari tepat di atas Ka'bah. Yaitu pada tanggal 28 Mei pukul 16:18 WIB dan tanggal 16 Juli pukul 16:27 WIB. IngaT-ingaT!
Pada saat tersebut arah kiblat kita sama dengan datangnya sinar matahari
MARI KITA KOREKSI ARAH QIBLAT MASJID KITA, supaya sholat kita afdhol.

Menghadap Kiblat ; Hal ini berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala:
"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (Al-Baqarah: 144)
Syarat-syarat Shalat
Yaitu syarat-syarat yang harus terpenuhi sebelum
shalat (terkecuali niat, yaitu syarat yang ke delapan,
maka yang lebih utama dilaksanakan bersamaan
dengan takbir) dan wajib bagi orang yang shalat untuk
memenuhi syarat-syarat itu. Apabila ada salah satu syarat
yang ditinggalkan, maka shalatnya batal.
Adapun syarat-syarat itu adalah sebagai berikut:
1. Islam; Maka tidak sah shalat yang dilakukan oleh orang
kafir, dan tidak diterima. Begitu pula halnya semua amalan
yang mereka lakukan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
"Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik itu untuk
memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui
bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia
pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam Neraka." (At-Taubah:17)
2. Berakal Sehat; Maka tidaklah wajib shalat itu bagi orang
gila, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam:

Tuntunan Sholat Menurut Al-Qur`an & As-Sunnah 11
"Ada tiga golongan manusia yang telah diangkat pena darinya
(tidak diberi beban syari'at) yaitu; orang yang tidur sampai dia
terjaga, anak kecil sampai dia baligh dan orang yang gila sampai dia
sembuh." (HR. Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)
3. Baligh; Maka, tidaklah wajib shalat itu bagi anak kecil
sampai dia baligh, sebagaimana disebutkan dalam hadits di
atas. Akan tetapi anak kecil itu hendaknya dipe-rintahkan
untuk melaksanakan shalat sejak berumur tujuh tahun dan
shalatnya itu sunnah baginya, sebagaimana sabda Rasulullah
shallallaahu alaihi wasallam:
"Perintahkanlah anak-anak untuk melaksanakan shalat apabila
telah berumur tujuh tahun, dan apabila dia telah berumur sepuluh
tahun, maka pukullah dia kalau tidak melaksanakannya." (HR.
Abu Daud dan lainnya, hadits shahih)
4. Suci Dari Hadats Kecil dan Hadats Besar; Hadats kecil
ialah tidak dalam keadaan berwudhu dan hadats besar
adalah belum mandi dari junub. Dalilnya adalah firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan
shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku, dan
Al-�All�mah �Abdull�h bin �Abdul �Az�z Jibr�n 12
sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai kedua mata kaki,
dan jika kamu junub maka mandilah." (Al-Maidah: 6)
Sabda Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam:
"Allah tidak akan menerima shalat yang tanpa disertai bersuci".
(HR. Muslim)
5. Suci Badan, Pakaian dan Tempat Untuk Shalat ; Adapun
dalil tentang suci badan adalah sabda Rasulullah shallallaahu
alaihi wasallam terhadap perempuan yang keluar darah
istihadhah:
"Basuhlah darah yang ada pada badanmu kemudian laksanakanlah
shalat." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Adapun dalil tentang harusnya suci pakaian, yaitu firman
Allah Subhanahu wa Ta'ala:
"Dan pakaianmu, maka hendaklah kamu sucikan." (Al-Muddatstsir: 4)
Adapun dalil tentang keharusan sucinya tempat shalat yaitu
hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata:
"Telah berdiri seorang laki-laki dusun kemudian dia kencing di
masjid Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam , sehingga orangorang
ramai berdiri untuk memukulinya, maka bersabdalah
Tuntunan Sholat Menurut Al-Qur`an & As-Sunnah 13
Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam, 'Biarkanlah dia dan
tuangkanlah di tempat kencingnya itu satu timba air,
sesungguhnya kamu diutus dengan membawa kemudahan dan
tidak diutus dengan membawa kesulitan." (HR. Al-Bukhari).
6. Masuk Waktu Shalat ; Shalat tidak wajib dilaksanakan
terkecuali apabila sudah masuk waktunya, dan tidak sah
hukumnya shalat yang dilaksanakan sebelum masuk
waktunya. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wa
Ta'ala:
"Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang diten-tukan
waktunya atas orang-orang yang beriman." (An-Nisa': 103)
Maksudnya, bahwa shalat itu mempunyai waktu tertentu.
Dan malaikat Jibril pun pernah turun, untuk mengajari Nabi
shallallaahu alaihi wasallam tentang waktu-waktu shalat.
Jibril mengimaminya di awal waktu dan di akhir waktu,
kemu-dian ia berkata kepada Nabi shallallaahu alaihi
wasallam: "Di antara keduanya itu adalah waktu shalat."
7. Menutup aurat; Hal ini berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala:
Al-�All�mah �Abdull�h bin �Abdul �Az�z Jibr�n 14
"Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap
(memasuki) masjid." (Al-A'raf: 31)
Yang dimaksud dengan pakaian yang indah adalah yang
menutup aurat. Para ulama sepakat bahwa menutup aurat
adalah merupakan syarat sahnya shalat, dan barangsiapa
shalat tanpa menutup aurat, sedangkan ia mampu untuk
menutupinya, maka shalatnya tidak sah.
8. Niat ; Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu alaihi
wasallam: "Sesungguhnya segala amal perbuatan itu tergantung
niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan men-dapatkan
(balasan) sesuai dengan niatnya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
9. Menghadap Kiblat ; Hal ini berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala:
"Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan." (Al-
Baqarah: 144)

Sumber : http://ebook2.jw.lt/jowo/tuntunansholat.txt

Jumat, 09 Juli 2010

LESSON STUDY

LESSON STUDY
1. Lesson Study merupakan salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan pada prinsip-psrinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun komunitas belajar.
2. Tujuan Lesson Study adalah : (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalui inkuiri kolaboratif. (4) membangun sebuah pengetahuan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
3. Ciri-ciri dari Lesson Study yaitu adanya: (a) tujuan bersama untuk jangka panjang; (b) materi pelajaran yang penting; (c) studi tentang siswa secara cermat; dan (d) observasi pembelajaran secara langsung
4. Lesson study memberikan banyak manfaat bagi para guru, antara lain: (a) guru dapat mendokumentasikan kemajuan kerjanya, (b) guru dapat memperoleh umpan balik dari anggota/komunitas lainnya, dan (c) guru dapat mempublikasikan dan mendiseminasikan hasil akhir dari Lesson Study
5. Penyelenggaraan Lesson Study dapat dilakukan dalam dua tipe: (a) Lesson Study berbasis sekolah; dan (a) Lesson Study berbasis MGMP.
6. Lesson Study dilaksanakan berdasarkan tahapan-tahapan secara siklik, meliputi : (a) tahapan perencanaan (plan); (b) pelaksanaan (do); (c) refleksi (check); dan (d) tindak lanjut (act).
Sumber Bacaan:
Bill Cerbin & Bryan Kopp. A Brief Introduction to College Lesson Study. Lesson Study Project. online: http ://www.uwlax.edu/sotl/lsp/index2.htm
Catherine Lewis (2004) Does Lesson Study Have a Future in the United States?. Online: http://www.sowi-online.de/journal/2004-1/lesson_lewis.htm
Lesson Study Research Group online: http://www.tc.edu/lessonstudy/whatislessonstudy.html
Slamet Mulyana. 2007. Lesson Study (Makalah). Kuningan: LPMP-Jawa Barat
Wikipedia.2007. Lesson Study. Online: http://en.wikipedia.org/wiki/Lesson_study
Sumber : http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/22/lesson-study-untuk-meningkatkan-proses-dan-hasil-pembelajaran/

Selasa, 06 Juli 2010

Prakiraan CH bulan AGUSTUS 2010

Siklon Tropis

Tentang Siklon Tropis
Siklon tropis adalah sistem tekanan rendah yang membentuk atas perairan tropis yang hangat dan memiliki kekuatan angin badai (berkelanjutan angin 63 km / jam atau lebih dan hembusan lebih dari 90 km / jam) dekat pusatnya. Secara teknis mereka didefinisikan sebagai sebuah sistem non-frontal tekanan rendah skala sinoptik di perairan hangat berkembang memiliki terorganisir konveksi dan angin berarti kecepatan maksimum 34 knot atau lebih besar memperluas lebih dari separuh jalan di sekitar dekat pusat dan bertahan selama sedikitnya enam jam .

Kekuatan angin badai dapat memperpanjang ratusan kilometer dari pusat topan. Jika angin terus menerus sekitar pusat mencapai 118 km / h (embusan yang melebihi 165 km / jam). maka sistem disebut siklon tropis yang parah. Ini disebut sebagai badai atau topan di negara-negara lain.

Lingkaran mata atau pusat dari siklon tropis adalah daerah ditandai dengan angin cahaya dan sering oleh langit yang jelas. Eye diameter biasanya 40 km, tetapi dapat berkisar dari kurang dari 10 km ke lebih dari 100 km. Mata dikelilingi oleh cincin awan padat sekitar 16 km tinggi yang dikenal sebagai dinding mata yang menandai sabuk angin kuat dan hujan terberat.

Siklon tropis energi mereka berasal dari lautan tropis yang hangat dan tidak membentuk kecuali suhu permukaan laut di atas 26,5 ° C, meskipun sekali terbentuk, mereka dapat bertahan selama lebih rendah suhu permukaan laut. siklon tropis dapat bertahan selama beberapa hari dan dapat mengikuti jalan cukup tidak menentu. Mereka biasanya menghilangkan atas tanah, atau dingin lautan.

Siklon bahaya dan dampak

Siklon tropis sangat berbahaya karena mereka menghasilkan angin yang merusak, hujan deras dengan banjir dan badai merusak lonjakan yang dapat menyebabkan penggenangan dataran rendah daerah pesisir.
Embusan angin siklon memiliki lebih dari 90 km / jam di sekitar pusat mereka dan, dalam badai yang paling parah, embusan dapat melebihi 280 km / jam Angin ini sangat merusak dapat menyebabkan kerusakan properti ekstensif dan mengubah udara menjadi puing-puing rudal berpotensi mematikan. Penting untuk diingat bahwa, selama bagian dari pusat siklon atau mata, akan ada jeda sementara di angin, tapi yang ini akan segera digantikan oleh angin merusak dari arah lain.

Berat curah hujan yang terkait dengan bagian dari sebuah siklon tropis bisa menghasilkan banjir yang luas. Hal ini dapat menyebabkan kerusakan lebih lanjut dan kematian karena tenggelam. Hujan deras dapat bertahan sebagai siklon bergerak pedalaman dan membusuk, maka banjir akibat topan membusuk dapat terjadi jauh dari pantai tropis sebagai sisa-sisa topan bergerak ke bagian tengah dan selatan benua itu.

Angin siklon tropis merusak atas juga memproduksi laut fenomenal, yang berbahaya baik untuk kapal di laut dan mereka tertambat di pelabuhan. Ini laut juga dapat menyebabkan erosi serius foreshores.

Badai gelombang dan pasang surut

Berpotensi, fenomena yang paling merusak yang terkait dengan siklon tropis yang membuat daratan adalah gelombang badai. Storm surge adalah kubah mengangkat air sekitar 60 sampai 80 km di dan biasanya sekitar 2 sampai 5 meter lebih tinggi dari tingkat pasang yang normal. Jika gelora terjadi pada saat yang sama dengan gelombang tinggi, maka daerah dapat terendam cukup luas, terutama di sepanjang garis pantai dataran rendah.
Sumber : http://maritim.bmg.go.id/cyclones/AboutTC.htm?

Rabu, 26 Mei 2010

Copy and answer BELOW!

Copy and answer BELOW!

1. All life on this earth will form the interaction network of environmental elements. Humans are part of a network of interacting elements - the environmental elements. In that environment antarunsur human interaction has the ability to meet its working ... ... ..
2. Some experts make sense of the environment one of which reads as follows: "Environment is the sum of all the objects and conditions that exist in the space we occupy that affect our lives." The statement is the notion of living according to the Environment ... ... ... ....
3. An overall environmental elements or components to be around individuals that affect the lives and development of the individual concerned. The following are elements of living environment that includes ... ... ... ....
4. Interaction network elements such as the forest environment as a factor supporting life. Forest trees in the process of photosynthesis, which produces ... ... ... ...
5. The environment component of some natural and artificial. Below are components of an artificial environment, ... ... ....
6. Consider the following statement: "Environment is a unit of space with all the objects, resources, circumstances, and living things including humans, and its behavior, which affects the livelihood and sustainability of human welfare as well as other living creatures." Environmental Statement is a sense of life according to ... ... ....
7. One expert statement about understanding the environment is as following: "Environment is any object, condition, circumstances, and influences contained in the room that we live in and affect the living things including human life." The statement is an understanding of the environment by ... ... ... ....
8. Components of aquatic ecosystems there are two fresh water and sea water, freshwater ekosisten components include ... ... ....
Nine. Consider the following statement: "Development that meets the needs of current generations without compromising the ability of future generations to meet their own needs" The statement is the definition of ... .... ... ..
10. Sustainable Development has terms that are quite strict. Conditions that must be met for a sustainable development process is as follows, ... ... ... ...
11. Utilization of natural resources must consider the legal aspects of one of them is according to the 1945 Constitution. To utilize natural resources as stipulated in the Constitution of 1945, the government tried, ... ... ....
12. We should not arbitrarily take advantage of Natural Resources. The objective use of natural resources as stated in the Constitution of 1945 is as follows, ... ... ...
13. The environment is an object to meet human needs. None of the human needs in this world that does not depend on the environment. For the utilization of the environment must be ... ... ... ... ... ... ...
14. Observe the following statement:
First: the notion needs especially the needs of the essence, the world's poor should be given priority.
Second: the idea of limitations, which is based on technological conditions and social organization on environmental capabilities to meet the needs of present and future.
The statement is the concept of ... ... ... ... ....
15. Coasts and coastal areas are closely related with the components of sea water ecosystems. Marine aquatic ecosystems, among others, ... ... ...
16. Forests have a vital role in preserving the ecosystem and humans. To maintain the forest functions, forest management can be divided into three groups, namely ... ... ...
17. The definition of quality physical environment is ... ... ..
18. The basic human needs vary. In the hierarchy, basic needs / human subject can be divided into three is ... ... ..
19. A concerted effort to preserve the environmental functions, including policy reform, utilization, development, maintenance, restoration, monitoring, and environmental control. The statement is an understanding of ... ... ... ... ... ... ... ..
20. In the management of Natural Resources must consider the principles of management of Natural Resources. Efforts that can be done in principle to reduce the impact of natural resource management, among others, land resource management is ... ... ... ... ....

Senin, 17 Mei 2010

Latihan soal kenaikan Kelas X

Jawablah pertanyaan berikut ini pada buku catatan anda dan kirimkan ke email saya
1 Jelaskan lapisan-lapisan bumi
2 Sebutkan macam-macam batuan beku dalam
3 Sebutkan macam-macam batuan metamorf
4 Deskripsikan terjadinya patahan
5 Bedakan tenaga orogenesa dan epirogenesa
6 Jelaskan bentukan intrusi magma
7 Identifikasikan tipe gunung strato
8 Jelaskan berbagai tipe gunung api dengan gambar dan penjelasannya
9 Jelaskan gejala pravulkanik
10 Deskripsikan terjadinya gempa tektonik
11 Jelaskan istilah hiposentrum
12 Jelaskan pelapukan biologi
13 Jelaskan macam pelapukan dengan penjelasan dan contohnya
14 Deskripsikan meander
15 Deskripsikan terjadinya tombolo
16 Sebutkan sedimentasi eoalis
17 Sebutkan faktor pembentuk tanah
18 Jelaskan unsur iklim yang menentukan terbentuknya tanah
19 Jelaskan horizon tanah O
20 Jelaskan tanah gambut
21 Identifikasikan jenis erosi
22 Jelaskan metode vegetatif dalam mencegah erosi
23 Jelaskan metode pergiliran tanaman dalam menjaga kesuburan tanaman
24 Jelaskan studi kasus penyebab hilangnya kesuburan tanah dan cara mengatasinya
25 Jelaskan metode mekanik dalam menjcegah erosi
26 Jelaskan Gas penyusun atmosfer
27 Jelaskan gas pencemar yang terdapat di atmosfer
28 Jelaskan urutan atmosfer dari bawah ke atas
29 Jelaskan letak lapisan ozon dalam atmosfer
30 Hitung turunnya suhu jika ketinggian tempat itu 1000 m
31 Jelaskan faktor yang menyebabkan perbedaan suhu antara Solo dengan Tawangmangu
32 Jelaskan kaitan suhu dengan tekanan udara
33 Deskripsikan dengan gambar angin gunung dengan angin lembah
34 Jelaskan angin darat
35 Sebutkan bunyi hukum buys balot
36 Deskripsikan awan kumulonimbus
37 Jelaskan hujan orografis
38 Deskripsikan iklim Junghuhn
39 Deskripsikan gambar siklus air
40 Deskripsikan siklus air dengan bagan dan penjelasannya
41 Jelaskan sungai periodik
42 Jelaskan sungai anteseden
43 Jelaskan sungai konsekuen
44 Deskripsikan gambar sungai dendritik
45 Jelaskan daerah aliran sungai (DAS)
46 Jelaskan terjadinya sumur artesis
47 Jelaskan lokasi danau dolina
48 Jelaskan klasifikasi laut menurut kedalamannya
49 Jelaskan penyebab terjadinya gelombang laut
50 Identifikasikan morfologi dasar laut

Persiapan ulangan kenaikan kelas XI

Catat soal ini dan segera kerjakan pada pada buku catatan anda dan kirimkan ke email saya
1 Rumuskan pengertian ekologi
2 Sebutkan pengertian lingkungan hidup menurut Otto Sumarwoto
3 Sebutkan pengertian lingkungan hidup menurut Emil Salim
4 Sebutkan pengertian lingkungan hidup menurut Undang-undang
5 Jelaskan unsur-unsur lingkungan hidup
6 Jelaskan jaringan interaksi unsur-unsur lingkungan
7 Jelaskan fungsi hutan sebagai faktor pendukung kehidupan
8 Jelaskan komponen-komponen lingkungan hidup alamiah
9 Jelaskan komponen-komponen lingkungan hidup buatan
10 Sebutkan komponen ekosistem air tawar
11 Sebutkan komponen ekosistem air laut
12 Sebutkan pengertian kualitas lingkungan hidup
13 Sebutkan definisi pembangunan berkelanjutan
14 Jelaskan konsep pembangunan berkelanjutan
15 Sebutkan Syarat-syarat pembangunan berkelanjutan
16 Sebutkan Pemanfaatan Sumber daya alam menurut Undang-undang
17 Sebutkan tujuan pemanfaatan sumber daya alam
18 Sebutkan obyek kebutuhan manusia
19 Sebutkan kebutuhan pokok hidup manusia
20 Jelaskan upaya pengelolaan lingkungan hidup
21 Jelaskan prinsip-prinsip pengelolaan SDA
22 Jelaskan Sistem pengelolaan formal dan informal Lingkungan hidup
23 Jelaskan peran pemerintah dalam pengelolaan lingkungan hidup
24 Jelaskan peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup
25 Sebutkan pengertian kualitas lingkungan hidup
26 Sebutkan kualitas lingkungan fisik
27 Sebutkan pengertian kualitas lingkungan budaya
28 Jelaskan pengertian kualitas lingkungan lingkungan sosial
29 Sebutkan dan uraikan tentang pencemaran lingkungan
30 Sebutkan dan peranan hutan dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup
31 Jelaskan usaha penegndalian lahan kritis
32 Jelaskan upaya mengurangi pencemaran udara
33 Jelaskan akibat dari pemanasan global
34 Jelaskan dampak dari pemansan global
35 Jelaskan strategi pengelolaan sumber daya alam
36 Sebutkan dan jelaskan manfaat amdal
37 Jelaskan manfaat dari amdal bagi lingkungan hidup
38 Jelaskan perubahan sikap manusia terhadap lingkungan
39 Sebutkan dan jelaskan pendekatan terhadap etika lingkungan
40 Sebutkan dan jelaskan macam-macam pendekatan etika lingkungan
41 Jelaskan pendekatan etika lingkungan antroposentris
42 Mendefinisikan Pembangunan berkelanjutan menurut WCED (world Commission on Environment and Development ) yang berjudul "Our Common Future)
43 Sebutkan dan uraikan akibat dari setiap pembangunan
44 Jelaskan daya dukung lingkungan terhadap pembangunan
45 Jelaskan konservasi sumber daya alam
46 Sebutkan pengertian lingkungan hidup menurut Emil Salim
47 Sebutkan prinsip-prinsip ekologi
48 Menguraikan tujuan pengelolaan lingkungan hidup berdasar UU No. 23/1997
49 Jelaskan pelaksanaan pembangunan berwawasan lingkungan
50 Jelaskan tentang etika lingkungan
JIKA ANDA INGIN SUKSES JANGAN BANYAK MENGELUH

Rabu, 05 Mei 2010

Environment

Environment
INTRODUCTION
Environment, all of the external factors affecting an organism. These factors may be other living organisms (biotic factors) or nonliving variables (abiotic factors), such as temperature, rainfall, day length, wind, and ocean currents. The interactions of organisms with biotic and abiotic factors form an ecosystem. Even minute changes in any one factor in an ecosystem can influence whether or not a particular plant or animal species will be successful in its environment.
Organisms and their environment constantly interact, and both are changed by this interaction. Like all other living creatures, humans have clearly changed their environment, but they have done so generally on a grander scale than have all other species. Some of these human-induced changes—such as the destruction of the world’s tropical rain forests to create farms or grazing land for cattle—have led to altered climate patterns (see Global Warming). In turn, altered climate patterns have changed the way animals and plants are distributed in different ecosystems.

Scientists study the long-term consequences of human actions on the environment, while environmentalists—professionals in various fields, as well as concerned citizens—advocate ways to lessen the impact of human activity on the natural world.
Environment
I INTRODUCTION
Environment, all of the external factors affecting an organism. These factors may be other living organisms (biotic factors) or nonliving variables (abiotic factors), such as temperature, rainfall, day length, wind, and ocean currents. The interactions of organisms with biotic and abiotic factors form an ecosystem. Even minute changes in any one factor in an ecosystem can influence whether or not a particular plant or animal species will be successful in its environment.
Organisms and their environment constantly interact, and both are changed by this interaction. Like all other living creatures, humans have clearly changed their environment, but they have done so generally on a grander scale than have all other species. Some of these human-induced changes—such as the destruction of the world’s tropical rain forests to create farms or grazing land for cattle—have led to altered climate patterns (see Global Warming). In turn, altered climate patterns have changed the way animals and plants are distributed in different ecosystems.
Scientists study the long-term consequences of human actions on the environment, while environmentalists—professionals in various fields, as well as concerned citizens—advocate ways to lessen the impact of human activity on the natural world.
II UNDERSTANDING THE ENVIRONMENT
The science of ecology attempts to explain why plants and animals live where they do and why their populations are the sizes they are. Understanding the distribution and population size of organisms helps scientists evaluate the health of the environment.
In 1840 German chemist Justus von Liebig first proposed that populations cannot grow indefinitely, a basic principle now known as the Law of the Minimum. Biotic and abiotic factors, singly or in combination, ultimately limit the size that any population may attain. This size limit, known as a population’s carrying capacity, occurs when needed resources, such as food, breeding sites, and water, are in short supply. For example, the amount of nutrients in soil influences the amount of wheat that grows on a farm. If just one soil nutrient, such as nitrogen, is missing or below optimal levels, fewer healthy wheat plants will grow.
Population size and distribution may also be affected, either directly or indirectly, by the way species in an ecosystem interact with one another. In an experiment performed in the late 1960s in the rocky tidal zone along the Pacific Coast of the United States, American ecologist Robert Paine studied an area that contained 15 species of invertebrates, including starfish, mussels, limpets, barnacles, and chitons. Paine found that in this ecosystem one species of starfish preyed heavily on a species of mussel, preventing that mussel population from multiplying and monopolizing space in the tidal zone. When Paine removed the starfish from the area, he found that the mussel population quickly increased in size, crowding out most other organisms from rock surfaces. The number of invertebrate species in the ecosystem soon dropped to eight species. Paine concluded that the loss of just one species, the starfish, indirectly led to the loss of an additional six species and a transformation of the ecosystem.
Typically, the species that coexist in ecosystems have evolved together for many generations. These populations have established balanced interactions with each other that enable all populations in the area to remain relatively stable. Occasionally, however, natural or human-made disruptions occur that have unforeseen consequences to populations in an ecosystem. For example, 17th-century sailors routinely introduced goats to isolated oceanic islands, intending for the goats to roam freely and serve as a source of meat when the sailors returned to the islands during future voyages. As nonnative species free from all natural predators, the goats thrived and, in the process, overgrazed many of the islands. With a change in plant composition, many of the native animal species on the islands were driven to extinction. A simple action, the introduction of goats to an island, yielded many changes in the island ecosystem, demonstrating that all members of a community are closely interconnected.
To better understand the impact of natural and human disruptions on the Earth, in 1991 the National Aeronautics and Space Administration (NASA) began to use artificial satellites to study global change. NASA’s undertaking, called Earth Science Enterprise, is part of an international effort linking numerous satellites into a single Earth Observing System (EOS). EOS collects information about the interactions occurring in the atmosphere, on land, and in the oceans, and these data help scientists and lawmakers make sound environmental policy decisions.
III FACTORS THREATENING THE ENVIRONMENT
The problems facing the environment are vast and diverse. Global warming, the depletion of the ozone layer in the atmosphere, and destruction of the world’s rain forests are just some of the problems that many scientists believe will reach critical proportions in the coming decades. All of these problems will be directly affected by the size of the human population.
A Population Growth
Human population growth is at the root of virtually all of the world’s environmental problems. Although the growth rate of the world’s population has slowed slightly since the 1990s, the world’s population increases by about 77 million human beings each year. As the number of people increases, crowding generates pollution, destroys more habitats, and uses up additional natural resources.
The Population Division of the United Nations (UN) predicts that the world’s population will increase from 6.23 billion people in 2000 to 9.3 billion people in 2050. The UN estimates that the population will stabilize at more than 11 billion in 2200. Other experts predict that numbers will continue to rise into the foreseeable future, to as many as 19 billion people by the year 2200.
Although rates of population increase are now much slower in the developed world than in the developing world, it would be a mistake to assume that population growth is primarily a problem of developing countries. In fact, because larger amounts of resources per person are used in developed nations, each individual from the developed world has a much greater environmental impact than does a person from a developing country. Conservation strategies that would not significantly alter lifestyles but that would greatly lessen environmental impact are essential in the developed world.
In the developing world, meanwhile, the most important factors necessary to lower population growth rates are democracy and social justice. Studies show that population growth rates have fallen in developing areas where several social conditions exist. In these areas, literacy rates have increased and women receive economic status equal to that of men, enabling women to hold jobs and own property. In addition, birth control information in these areas is more widely available, and women are free to make their own reproductive decisions.
B Global Warming
Like the glass panes in a greenhouse, certain gases in the Earth’s atmosphere permit the Sun’s radiation to heat Earth. At the same time, these gases retard the escape into space of the infrared energy radiated back out by Earth. This process is referred to as the greenhouse effect. These gases, primarily carbon dioxide, methane, nitrous oxide, and water vapor, insulate Earth’s surface, helping to maintain warm temperatures. Without these gases, Earth would be a frozen planet with an average temperature of about -18°C (about 0°F) instead of a comfortable 15°C (59°F). If the concentration of these gases rises, they trap more heat within the atmosphere, causing worldwide temperatures to rise.
Within the last century, the amount of carbon dioxide in the atmosphere has increased dramatically, largely because people burn vast amounts of fossil fuels—coal and petroleum and its derivatives. Average global temperature also has increased—by about 0.6 Celsius degree (1 Fahrenheit degree) within the past century. Atmospheric scientists have found that at least half of that temperature increase can be attributed to human activity. They predict that unless dramatic action is taken, global temperature will continue to rise by 1.4 to 5.8 Celsius degrees (2.5 to 10.4 Fahrenheit degrees) over the next century. Although such an increase may not seem like a great difference, during the last ice age the global temperature was only 2.2 Celsius degrees (4 Fahrenheit degrees) cooler than it is presently.
The consequences of such a modest increase in temperature may be devastating. Already scientists have detected a 40 percent reduction in the average thickness of Arctic ice. Other problems that may develop include a rise in sea levels that will completely inundate a number of low-lying island nations and flood many coastal cities, such as New York and Miami. Many plant and animal species will probably be driven into extinction, agriculture will be severely disrupted in many regions, and the frequency of severe hurricanes and droughts will likely increase.
C Depletion of the Ozone Layer
The ozone layer, a thin band in the stratosphere (layer of the upper atmosphere), serves to shield Earth from the Sun’s harmful ultraviolet rays. In the 1970s, scientists discovered that chlorofluorocarbons (CFCs)—chemicals used in refrigeration, air-conditioning systems, cleaning solvents, and aerosol sprays—destroy the ozone layer. CFCs release chlorine into the atmosphere; chlorine, in turn, breaks down ozone molecules. Because chlorine is not affected by its interaction with ozone, each chlorine molecule has the ability to destroy a large amount of ozone for an extended period of time.
The consequences of continued depletion of the ozone layer would be dramatic. Increased ultraviolet radiation would lead to a growing number of skin cancers and cataracts and also reduce the ability of immune systems to respond to infection. Additionally, growth of the world’s oceanic plankton, the base of most marine food chains, would decline. Plankton contains photosynthetic organisms that break down carbon dioxide. If plankton populations decline, it may lead to increased carbon dioxide levels in the atmosphere and thus to global warming. Recent studies suggest that global warming, in turn, may increase the amount of ozone destroyed. Even if the manufacture of CFCs is immediately banned, the chlorine already released into the atmosphere will continue to destroy the ozone layer for many decades.
In 1987 an international pact called the Montréal Protocol on Substances that Deplete the Ozone Layer set specific targets for all nations to achieve in order to reduce emissions of chemicals responsible for the destruction of the ozone layer. Many people had hoped that this treaty would cause ozone loss to peak and begin to decline by the year 2000. In fact, in the fall of 2000, the hole in the ozone layer over Antarctica was the largest ever recorded. The hole the following year was slightly smaller, leading some to believe that the depletion of ozone had stabilized. Even if the most stringent prohibitions against CFCs are implemented, however, scientists expect that it will take at least 50 more years for the hole over Antarctica to close completely.
D Habitat Destruction and Species Extinction
Plant and animal species are dying out at an unprecedented rate (see Endangered Species). Estimates range that from 4,000 to as many as 50,000 species per year become extinct. The leading cause of extinction is habitat destruction, particularly of the world’s richest ecosystems—tropical rain forests and coral reefs. If the world’s rain forests continue to be cut down at the current rate, they may completely disappear by the year 2030. In addition, if the world’s population continues to grow at its present rate and puts even more pressure on these habitats, they might well be destroyed sooner.
E Air Pollution
A significant portion of industry and transportation burns fossil fuels, such as gasoline. When these fuels burn, chemicals and particulate matter are released into the atmosphere. Although a vast number of substances contribute to air pollution, the most common air pollutants contain carbon, sulfur, and nitrogen. These chemicals interact with one another and with ultraviolet radiation in sunlight in dangerous ways. Smog, usually found in urban areas with large numbers of automobiles, forms when nitrogen oxides react with hydrocarbons in the air to produce aldehydes and ketones. Smog can cause serious health problems.
Acid rain forms when sulfur dioxide and nitrous oxide transform into sulfuric acid and nitric acid in the atmosphere and come back to Earth in precipitation. Acid rain has made numerous lakes so acidic that they no longer support fish populations. Acid rain is also responsible for the decline of many forest ecosystems worldwide, including Germany’s Black Forest and forests throughout the eastern United States.
F Water Pollution
Estimates suggest that nearly 1.5 billion people worldwide lack safe drinking water and that at least 5 million deaths per year can be attributed to waterborne diseases. Water pollution may come from point sources or nonpoint sources. Point sources discharge pollutants from specific locations, such as factories, sewage treatment plants, and oil tankers. The technology exists to monitor and regulate point sources of pollution, although in some areas this occurs only sporadically. Pollution from nonpoint sources occurs when rainfall or snowmelt moves over and through the ground. As the runoff moves, it picks up and carries away pollutants, such as pesticides and fertilizers, depositing the pollutants into lakes, rivers, wetlands, coastal waters, and even underground sources of drinking water. Pollution arising from nonpoint sources accounts for a majority of the contaminants in streams and lakes.
With almost 80 percent of the planet covered by oceans, people have long acted as if those bodies of water could serve as a limitless dumping ground for wastes. However, raw sewage, garbage, and oil spills have begun to overwhelm the diluting capabilities of the oceans, and most coastal waters are now polluted, threatening marine wildlife. Beaches around the world close regularly, often because the surrounding waters contain high levels of bacteria from sewage disposal.
G Groundwater Depletion and Contamination
Water that collects beneath the ground is called groundwater. Worldwide, groundwater is 40 times more abundant than fresh water in streams and lakes. In the United States, approximately half the drinking water comes from groundwater. Although groundwater is a renewable resource, reserves replenish relatively slowly. Presently, groundwater in the United States is withdrawn approximately four times faster than it is naturally replaced. The Ogallala Aquifer, a huge underground reservoir stretching under eight states of the Great Plains, is drawn down at rates exceeding 100 times the replacement rate. Agricultural practices depending on this source of water need to change within a generation in order to save this groundwater source.
In addition to groundwater depletion, scientists worry about groundwater contamination, which arises from leaking underground storage tanks, poorly designed industrial waste ponds, and seepage from the deep-well injection of hazardous wastes into underground geologic formations. By some estimates, on average, 25 percent of usable groundwater is contaminated, and in some areas as much as 75 percent is contaminated.
H Chemical Risks
A number of toxic substances that humans encounter regularly may pose serious health risks. Pesticide residues on vegetable crops, mercury in fish, and many industrially produced chemicals may cause cancer, birth defects, genetic mutations, or death. Many chemicals have been found to mimic estrogen, the hormone that controls the development of the female reproductive system in a large number of animal species. Preliminary results indicate that these chemicals, in trace amounts, may disrupt development and lead to a host of serious problems in both males and females, including infertility, increased mortality of offspring, and behavioral changes such as increased aggression.
I Environmental Racism
Studies have shown that not all individuals are equally exposed to pollution. For example, worldwide toxic-waste sites are more prevalent in poorer communities. In the United States the single most important factor in predicting the location of hazardous-waste sites is the ethnic composition of a neighborhood. Three of the five largest commercial hazardous-waste landfills in America are in predominantly black or Hispanic neighborhoods, and three out of every five black or Hispanic Americans live in the vicinity of an uncontrolled toxic-waste site. The wealth of a community is not nearly as good a predictor of hazardous-waste locations as the ethnic background of the residents, suggesting that the selection of sites for hazardous-waste disposal involves racism.
Environmental racism takes international forms as well. American corporations often continue to produce dangerous, U.S.-banned chemicals and ship them to developing countries. Additionally, the developed world has shipped large amounts of toxic waste to developing countries for less-than-safe disposal. For instance, experts estimate that 50 to 80 percent of electronic waste produced in the United States, including computer parts, is shipped to waste sites in developing countries, such as China and India. At a waste site in Giuyu, China, laborers with no protective clothing regularly burn plastics and circuit boards from old computers. They pour acid on electronic parts to extract silver and gold, and they smash cathode-ray tubes from computer monitors to remove lead. These activities so pollute the groundwater beneath the site that drinking water is trucked in to the area from a town 29 km (18 mi) away.
J Energy Production
The limited supply of fossil fuels, coupled with their contributions to global warming, air pollution, and acid rain, makes it clear that alternative forms of energy will be needed to fuel industrial production and transportation. A number of energy alternatives are available, but many of these options are unlikely to replace fossil fuels in the foreseeable future because they cost more, produce less energy than fossil fuels, or pose safety risks.
A handful of countries produce a portion of their electricity using nuclear energy. But many people oppose nuclear energy because an accident can cause massive devastation. The 1986 accident at the Chernobyl’ nuclear power plant in the Ukraine scattered radioactive contamination over a large part of Europe (see Chernobyl’ Accident). Approximately 200,000 people were evacuated, and human health has been dramatically affected. Studies in 1999 found that the rate of thyroid cancer in young Ukrainian children was ten times higher than was the norm prior to the accident.
One reasonable solution combines conservation strategies with the increased use of solar energy. The price of solar energy relative to traditional fuels has steadily dropped, and if environmental concerns were factored into the cost, solar power would already be significantly cheaper.
IV EFFORTS TO PROTECT THE ENVIRONMENT
Most scientists agree that if pollution and other environmental deterrents continue at their present rates, the result will be irreversible damage to the ecological cycles and balances in nature upon which all life depends. Scientists warn that fundamental, and perhaps drastic, changes in human behavior will be required to avert an ecological crisis.
To safeguard the healthful environment that is essential to life, humans must learn that Earth does not have infinite resources. Earth’s limited resources must be conserved and, where possible, reused. Furthermore, humans must devise new strategies that mesh environmental progress with economic growth. The future growth of developing nations depends upon the development of sustainable conservation methods that protect the environment while also meeting the basic needs of citizens.
Many nations have acted to control or reduce environmental problems. For example, Great Britain has largely succeeded in cleaning up the waters of the Thames and other rivers, and London no longer suffers the heavy smogs caused by industrial pollutants. Japan has some of the world’s strictest standards for the control of water and air pollution. In Canada, the Department of Commerce has developed comprehensive programs covering environmental contaminants.
In the United States, the Environmental Protection Agency (EPA) was established in 1970 to protect the nation’s natural resources. In addition, the U.S. Congress has provided governmental agencies with legislation designed to protect the environment. Many U.S. states have also established environmental protection agencies. Citizen groups, such as the Sierra Club and the National Audubon Society, educate the public, support environment-friendly legislation, and help assure that federal and state laws are enforced by pointing out violations.
A Environmentalism in the United States
In the United States the modern environmental movement is rooted in a 19th-century New England philosophical movement called transcendentalism, whose leaders included the poet and essayist Ralph Waldo Emerson and the naturalist and author Henry David Thoreau. In their writings, both men expressed a reverence for the natural world, believing that humans and nature shared a divine spirit. Emerson asserted that nature was eternal and capable of recovering from mistreatment at the hands of humans. Thoreau, more protective and pessimistic, has been quoted as saying, “Thank God, men cannot yet fly and lay waste the sky as well as the earth.”
Although Emerson and Thoreau wrote eloquently about the value of nature and its spiritual importance to humans, neither of them undertook a systematic analysis of the effects that humans have on their environment. That task was left for 19th-century American diplomat George Perkins Marsh. In 1864 Marsh published Man and Nature; or, Physical Geography as Modified by Human Action, considered the first book to demonstrate that human activity could cause dramatic and irreversible damage to Earth. Marsh explained how some agricultural practices had led to deforestation, loss of wetlands, desertification (the process of land becoming desert), species extinction, and changes in weather patterns.
In the early 20th century, U.S. president Theodore Roosevelt greatly expanded both the national forest and national park systems and created a system of national wildlife refuges. Roosevelt appointed forestry expert Gifford Pinchot as head of the U.S. Forest Service, and together they molded the foundation of the American conservation movement, developing methods for the sustainable use and protection of natural resources. Roosevelt and Pinchot recognized that even the vast natural resources of the United States were not limitless and thus had to be managed carefully, and they believed that those resources should be used for the betterment of the American people. Roosevelt, thinking broadly about resources, claimed that one of the most valuable natural assets was the American people themselves, and he argued that the protection of human health was a central and valid focus for the conservation movement.
Roosevelt also was a friend of Scottish American naturalist and essayist John Muir, founder of the Sierra Club. Muir’s philosophical approach to the environment was very different from Pinchot’s: Muir valued nature for its own sake and argued forcefully to protect species and preserve wilderness, whereas Pinchot was much more concerned with the use of natural resources to serve human needs. Their perspectives fully diverged in the debate over California’s Hetch Hetchy Valley, often considered a twin to the Yosemite Valley, also in California. Pinchot wanted to dam the Tuolumne River and flood the valley to provide water and electricity to San Francisco, while Muir thought the destruction of such a natural wonder an abomination. Eventually Pinchot’s view won and the dam was authorized in 1913.
When Franklin D. Roosevelt assumed the U.S. presidency in 1933, he continued and expanded on the conservation efforts begun earlier in the century during the administration of Theodore Roosevelt. Franklin Roosevelt expanded national parks and national forests. During the 1930s, he faced the twin challenges of massive unemployment in the Great Depression and environmental havoc wreaked by the Dust Bowl conditions in the Midwest. In response, Roosevelt created the Civilian Conservation Corps to replant forests and improve recreational opportunities on public land and the Soil Conservation Service to protect valuable topsoil.
In 1962 in her book Silent Spring, American biologist Rachel Carson warned of the grave dangers posed by the indiscriminate use of dichlorodiphenyltrichloroethane (DDT) and related pesticides. The book’s title suggested a time when birds, their populations greatly reduced by pesticides, could no longer be heard singing in the spring. Carson, by arguing that humans as well as wildlife were at risk, issued a call to action. Silent Spring combined solid science, a reverence for nature as strong as that of the transcendentalists, and a wonderfully poetic style that moved people to a new level of environmental awareness and activism.
By the late 1960s environmental awareness had become much more commonplace. Numerous grassroots environmental organizations were established to work for political change, including the Environmental Defense Fund in 1967 (now known as Environmental Defense), Friends of the Earth in 1968, the Natural Resources Defense Council in 1970, and the Sierra Club Legal Defense Fund in 1971. On April 22, 1970, the first Earth Day, approximately 20 million Americans gathered at various sites across the country to protest corporate and governmental abuse of the environment.
B U.S. Legislation
The strong environmental sentiments that led to Earth Day yielded dramatic changes in American legislation and reflected an expanded set of priorities. In 1964 the Congress of the United States passed the Wilderness Act in an attempt to set aside, in the words of the act, “an area where Earth and its community of life are untrammeled by man”; the lands designated as wilderness areas were to be “affected primarily by nature.” In 1968 Congress adopted the Wild and Scenic Rivers Act to ensure that at least some of the scenic and recreational value of the country’s rivers was preserved in the face of a growing number of dams and riverside development.
In 1970 the United States government established the Environmental Protection Agency (EPA), and attention began to shift toward pollution control and the establishment of national environmental quality standards. The EPA is responsible for the environmental well-being of the country as defined through numerous specific pieces of legislation. One of these, the Clean Air Act of 1970, became the model for future measures. The act established national air-quality standards, gave states the responsibility for developing and enforcing plans to use these standards, and set up compliance schedules. Additionally, the act made federal funding available to states to assist in their efforts. The National Environmental Protection Act (NEPA), also enacted in 1970, required an environmental assessment of all federally funded projects.
The Occupational Safety and Health Administration (OSHA) was formed in 1971, although it was placed under the control of the Department of Labor rather than the EPA. Reflecting Theodore Roosevelt’s belief that human health was a natural resource worthy of protection, OSHA’s mission was “to assure so far as possible every working man and woman in the Nation safe and healthful working conditions.”
In 1972 Congress passed the Clean Water Act, designed to do for the nation’s water supply what the Clean Air Act accomplished for the atmosphere. The Endangered Species Act was passed the following year and has been described by the Supreme Court of the United States as “the most comprehensive legislation for the preservation of endangered species ever enacted by any nation.” The U.S. Fish and Wildlife Service, which enforces the Endangered Species Act, lists over 1,200 plants and animals in the United States in danger of extinction. Organisms listed as endangered receive federal protection and funding to establish conservation programs. As a result of this act, the populations of some endangered species, such as the American alligator and Robbins’ cinquefoil (a rare plant found in the White Mountains of New Hampshire), have recovered and have been removed from the endangered list. Others species, including the dusky seaside sparrow and the Maryland darter, received aid too late and these animals have become extinct.
The Resource Conservation and Recovery Act (RCRA) was adopted in 1976 with the twin goals of protecting human health and the environment and conserving valuable natural resources. Through this act, the federal government took a more active role in controlling solid and hazardous waste, as well as in promoting recycling. Despite the good intentions of RCRA, numerous hazardous-waste sites were created throughout the country. To combat the dangers posed by these sites, Congress passed the Comprehensive Environmental Response, Compensation, and Liability Act (CERCLA) of 1980. Known as Superfund, the act created a $15-billion fund of public money, to be increased by taxes paid by polluting industries. Despite its large funding, Superfund remains inadequate to deal with the thousands of hazardous sites in need of cleanup. The vast majority of these sites occur on federal military reservations. Of the more than 43,000 sites screened since the passage of CERCLA in 1980, the EPA has earmarked 1,200 sites for remediation. Of these, cleanup has been completed on fewer than 800.
C U.S. Politics and Environmental Regulation
In the United States, federal environmental legislation often faces heated debates between Republicans, who believe industry and development are being unnecessarily stifled, and Democrats who contend that the environment is being irreparably damaged. For example, environmental legislation came under attack during the conservative Republican presidencies of Ronald Reagan and George H. W. Bush in the 1980s and early 1990s. During this time, as each piece of environmental legislation was modified or came before Congress for reauthorization, battles developed between Republicans and Democrats. Conservatives in Congress successfully argued that too much public money was being spent on the environment and that the federal government should play a much-reduced role in environmental regulation.
The federal government took a more active role in protecting the environment during the presidency of Democrat Bill Clinton (1993-2001). During Clinton’s administration, the United States participated in the development of international agreements targeting global warming, logging and mining were prohibited in areas that had no roads, and the United States and Canada signed an agreement to clean up toxic substances in the Great Lakes. Clinton also protected more federal lands from development than any president since Theodore Roosevelt.
President George W. Bush, elected in 2001, advocated that government should be less involved in environmental protection and that environmental restrictions that stymie business are bad for the economy. To ease environmental restrictions placed on industries, Bush relaxed air quality and fuel efficiency standards, and he took steps to open roadless areas to logging and mining. The Bush energy policy promoted the construction of new power plants while encouraging oil exploration, often in environmentally sensitive areas.
Early in his administration, Bush declined to endorse the Kyōto Protocol, an international agreement that limits emissions of heat-trapping gases. Bush argued that the emissions reductions called for by the Kyōto Protocol are unfair because they do not affect nations, especially China and India, that are also major producers of gas emissions. Bush also argued that the emissions reductions would be too costly and would adversely affect the U.S. economy.
D Global Efforts
During the late 1960s and early 1970s nations began to work together to develop worldwide approaches for monitoring and restricting global pollution. The first major international conference on environmental issues was held in Stockholm, Sweden, in 1972 and was sponsored by the United Nations. This meeting, at which the United States took a leading role, was controversial because many developing countries were fearful that a focus on environmental protection was a means for the developed world to keep the undeveloped world in an economically subservient position. The most important outcome of the conference was the creation of the United Nations Environmental Program (UNEP).
UNEP was designed to be “the environmental conscience of the United Nations,” and, in an attempt to allay fears of the developing world, it became the first UN agency to be headquartered in a developing country, with offices in Nairobi, Kenya. In addition to attempting to achieve scientific consensus about major environmental issues, a major focus for UNEP has been the study of ways to encourage sustainable development—increasing standards of living without destroying the environment.
D1 International Treaties
Dozens of international agreements have been reached in recent decades in an effort to improve the world’s environmental status. In 1975 the Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) went into effect to reduce commerce in animals and plants on the edge of extinction. In 1982 the International Whaling Commission agreed to a moratorium on all commercial whaling. Perhaps the most important international agreement was the 1987 Montréal Protocol on Substances that Deplete the Ozone Layer. For the first time, an international pact set specific targets for reducing emissions of chemicals responsible for the destruction of Earth’s ozone layer. The international community again came together in 1989 to form the Basel Convention on the Control of Transboundary Movements of Hazardous Wastes and Their Disposal, a treaty that limits the movement of hazardous wastes between countries.
In 1992 the UN Conference on Environment and Development was held in Rio de Janeiro, Brazil. Popularly known as the Earth Summit, this meeting was the largest gathering of world leaders in history. The conference produced two major treaties. The first was an agreement for nations to voluntarily reduce emission of gases leading to global warming, and the second was a pact on biodiversity requiring countries to develop plans to protect endangered species and habitats. At the insistence of the United States, however, the final version of the global warming treaty was dramatically scaled back. The United States was also one of the very few countries that refused to sign the biodiversity treaty. United States representatives objected to a part of the treaty that specified that money to come from the use of natural resources from protected ecosystems, such as rain forests, should be shared equally between the source country and the corporation or institution removing the materials.
The 1992 agreement on global warming limited each industrialized nation to emissions in the year 2000 that were equal to or below 1990 emissions. However, these limits were voluntary and with no enforcement provisions included in the agreement it became clear by 1997 that these goals would never be met. At a follow-up conference in Kyōto, Japan, representatives from 160 countries signed the Kyōto Protocol. This agreement called for industrialized nations to reduce emissions to an average of about 5 percent below 1990 emission levels and to reach this goal between the years 2008 and 2012. For this accord to become international law, however, it had to be ratified by at least 55 countries. The United States has refused to ratify the accord, but Japan and the 15 countries that make up the European Union have ratified it. Even if the Kyōto Protocol does become international law, however, scientists expect that its emission requirements are too minimal to be effective. Some experts predict that a 60 percent reduction in emissions will be necessary to stabilize the world’s climate.
In 2002 delegates from nearly 200 countries convened at the World Summit on Sustainable Development in Johannesburg, South Africa, to establish new sustainable development goals for the 21st century. They also negotiated to strengthen commitments from the governments of developed nations to provide aid for sustainable development. Among the outcomes, the 2002 summit created an action plan that called on nations to reduce by half the proportion of people who lack sanitation by 2015, to minimize health and environmental problems caused by chemical pollution by 2020, and to reduce significantly the number of endangered species by 2010.
D2 Green Parties
A desire for environmental change led to the creation of various political parties around the world whose emphasis was largely on environmental protection. The first of these organizations, collectively known as green parties, was the Values Party in New Zealand, created in 1972. In 1993, 23 green parties from eastern and western Europe came together to form the European Federation of Green Parties. They hoped that together they would have the leverage necessary to demand that environmental issues such as pollution control, population growth, and sustainable development be more fully addressed by various national governments and international bodies.
By far the most successful green party has been Bündnis 90/Die Grünen, the green party of Germany. In 1998 Bündnis 90/Die Grünen formed a coalition with the newly elected Social Democratic Party of German chancellor Gerhard Schröder, marking the first time that the green party had entered Germany’s national government.
Green parties have developed in almost all countries that have open elections, but they have had the largest impact in those nations where proportional representation within a parliamentary system occurs. Thus, the green parties have not played a significant role in American politics. However, some experts believe that in the disputed presidential election of 2000, the votes received by Green Party candidate Ralph Nader split the vote so that George W. Bush was able to win enough electoral votes to capture the presidency.
V FUTURE PROSPECTS
Global environmental collapse is not inevitable. But the developed world must work with the developing world to ensure that new industrialized economies do not add to the world’s environmental problems. Politicians must think of sustainable development rather than economic expansion. Conservation strategies have to become more widely accepted, and people must learn that energy use can be dramatically diminished without sacrificing comfort. In short, with the technology that currently exists, the years of global environmental mistreatment can begin to be reversed.

Contributed By:
Michael Zimmerman
Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Selasa, 27 April 2010

Lat soal

1. Sebutkan beberapa factor yang mempengaruhi lingkungan hidup !
2. Apakah akibat dari penggundulan hutan ?
3. Apakah fungsi ozon terhadap kehidupan manusia ?
4. Mengapa kita tidak boleh menggunakan gas Freon dalam peralatan rumah tangga ?
5. Sebutkan beberapa penyebab pencemaran lingkungan sekitar kita !
6. Sebutkan aspek-aspek pembangunan lingkungan hidup!
7. Jelaskan yang dimaksud dengan pembangunan lingkungan hidup yang berkelanjutan!
8. Sebutkan persoalan utama yang dihadapi dalam pengelolaan lingkungan hidup!
9. Sebutkan bentuk keruskan hutan yang diakibatkan oleh kegiatan manusia
10. Sebutkan kelompok masyarakat yang mudah menerima arus globalisasi!
(jawaban boleh dikirim lewat email : Triyono66@gmail.com

Selasa, 06 April 2010

Lava koheren

Lava koheren
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari

Artikel atau bagian ini memiliki beberapa masalah. Bantulah kami memperbaiki artikel ini atau mendiskusikannya di halaman pembicaraan.

* Artikel ini perlu dikategorikan.

Lava koheren dapat terbentuk sebagai akibat pergerakan magma ke luar ke permukaan bumi. Dalam pergerakan tersebut magma dapat benar-benar keluar ke permukaan bumi secara meleleh (effusive eruptions), atau membeku di dekat permukaan, atau sebagian membeku di bawah dan sebagian lagi membeku di permukaan bumi. Magma yang membeku di dekat permukaan dikenal sebagai batuan beku intrusi dangkal. Padanan kata batuan beku intrusi dangkal ini banyak sekali, antara lain batuan intrusi sub-gunungapi, batuan semi gunungapi, subvolcanic intrusions, high level intrusives, shallow intrusions, low level intrusions, syn-volcanic intrusions, dll.

Mengenai kedangkalan dari pembekuan magma ini belum ada angka kedalaman yang pasti, tetapi diperkirakan tidak lebih dari 10 km di bawah kawah/kaldera gunungapi. Sebagai contoh kedalaman dapur magma dangkal G. Merapi hanya 1 km di bawah puncak sedangkan dapur magma dalam berkisar antara 3 - 4 km di bawah puncak. Siebett (1988) menuturkan bahwa tubuh intrusi di bawah gunungapi komposit dan berasosiasi dengan lapangan panas bumi mempunyai kedalaman 8 - 9 km. Pembekuan magma di dekat permukaan ini dimungkinkan karena pertama, magma sudah membeku terlebih dahulu sebelum pergerakannya mencapai ke permukaan bumi. Kedua, tidak semua magma keluar ke permukaan bumi sewaktu gunungapi bererupsi atau meletus, tetapi juga tidak kembali ke dapurnya jauh di dalam bumi setelah erupsi gunungapi berhenti. Sebagian magma itu tersisa dan membeku di sepanjang perjalanan dari dapur magma ke permukaan bumi yang dalam hal ini adalah kawah/kaldera gunungapi. Kelompok batuan sub-gunungapi ini antara lain membentuk retas (dikes), sill atau kubah lava bawah permukaan (cryptodomes). Magma yang membeku di pipa kepundan sehingga bagian atasnya menyembul ke permukaan sedang bagian bawahnya berada di bawah permukaan disebut leher gunungapi (volcanic necks) atau sumbat lava (lava plugs).

Pada literatur lama berbahasa Indonesia retas ini disebut batuan gang dan leher gunungapi disebut batuan korok. Seluruh batuan beku intrusi dangkal disebut sebagai hypabyssal rocks. Batuan terobosan dangkal ini tersingkap di dalam atau pada dinding kawah/kaldera gunungapi atau pada daerah batuan gunungapi yang sudah tererosi cukup lanjut.

Berhubung sebagai batuan beku terobosan (sekalipun dangkal), maka ciri-ciri litologi yang sangat penting adalah bagaimana bentuk geometrinya, bagaimana kenampakan kontaknya dengan batuan samping atau yang diterobos, bagaimana warna, tekstur, struktur dan komposisi, serta ciri-ciri rinci khusus atau penunjang lainnya. Bentuk geometri mungkin dapat diamati berdasar penginderaan jauh dan peta rupa bumi, tetapi kenampakan kontak dengan batuan samping mutlak harus ditunjukkan berdasar data singkapan langsung di lapangan yang secara lebih rinci dapat dibantu dengan analisis secara mikroskopik dan bila perlu secara kimia. Secara deskripsi di bawah ini dijelaskan beberapa bentuk tubuh intrusi dangkal sebagai bagian dari lava koheren batuan gunungapi.

Retas dicirikan, antara lain:

1. Bentuk terobosan berupa bidang memanjang (tabular in shape) serta memotong perlapisan batuan yang diterobosnya.
2. Efek kontak di kedua sisi retas terhadap batuan yang diterobos mungkin mengalami efek bakar, atau bagian tepi retas yang mengalami oksidasi, keduanya umumnya berwarna merah coklat atau merah bata, sangat tergantung tingginya temperatur magma saat menerobos, jenis batuan yang diterobos dan oksigen yang dikandungnya.
3. Dari bagian tengah menuju ke tepi retas secara berangsur semakin bertekstur gelas. Hal ini akan semakin nyata pada tubuh retas yang cukup tebal. Pada kontak dapat pula terbentuk breksi sebagai akibat pendinginan sangat cepat sehingga menimbulkan perekahan yang kemudian terisi oleh cairan magma dari bagian tengah retas, atau masuknya batuan samping ke dalam cairan magma retas.
4. Terdapat struktur paralel secara vertikal di bagian tepi tubuh retas sebagai akibat segregasi dan tingkat kristalisasi yang berbeda selama pendinginan, di mana bagian tepi/luar lebih cepat mendingin daripada bagian dalam. Struktur kekar yang memotong tegak lurus retas biasanya juga dapat dijumpai. Bila magma mengandung banyak gas, atau menerobos batuan karbonat, mungkin terbentuk struktur lubang berbentuk elip yang menunjukkan aliran ke atas. Struktur aliran dapat pula ditunjukkan oleh penjajaran feokris atau bentuk struktur aliran lainnya.
5. Komposisi retas bagian tengah lebih banyak kristal, sedang ke arah tepi semakin banyak gelas gunungapi. Alterasi dan mineralisasi mungkin dapat terjadi di bagian tepi dari retas tersebut.

Sill atau kubah lava bawah permukaan dicirikan antara lain oleh:

1. Bentuk terobosan pipih atau cembung menyisip secara selaras (concordant) di antara perlapisan batuan. Bentuk itu sangat tergantung kemampuan magma mendesak perlapisan batuan di sekitarnya. Apabila berbentuk cembung mengakibatkan perlapisan batuan di atasnya terlipat ke atas seperti struktur antiklin. Jika hal ini terjadi sangat dekat dengan permukaan dan di lereng kerucut gunungapi maka bagian itu akan mengalami penggembungan (bulging). Namun dalam beberapa hal bentuk intrusi dangkal ini bisa saja tidak beraturan.
2. Efek kontak mirip seperti yang terjadi pada retas, hanya letaknya ada di bawah atau di atas tubuh sill.
3. Semakin ke bagian tepi tubuh sill semakin bertekstur halus atau gelas dan di beberapa bagian membentuk breksi (autoklastika).
4. Struktur segregasi berbentuk konsentris atau kelopak atau struktur kulit bawang. Struktur rekahan mungkin dijumpai di bagian permukaan dengan pola radier.
5. Tingkat kristalinitas semakin tinggi menuju ke bagian tengah tubuh sill. Dengan kata lain komposisi gelas semakin banyak menuju ke tepi tubuh sill.

Leher gunungapi dan sumbat lava dicirikan antara lain oleh:

1. Bentuk terobosan seperti pipa, kedudukan memotong (discordant) bidang perlapisan batuan di sekelilingnya.
2. Efek kontak terhadap batuan di sekitarnya terjadi di sekeliling tubuh terobosan.
3. Ke arah bagian tepi tubuh semakin bertekstur gelas atau membentuk breksi (autoklastika).
4. Struktur segregasi berarah paralel vertikal pada pandangan dari samping, tetapi menjadi konsentris pada pandangan dari atas. Struktur lubang dijumpai, terutama di bagian atas tubuh intrusi.
5. Secara umum, komposisi banyak tersusun oleh gelas karena ukurannya yang relatif kecil.
6. Berhubung terjadi dekat di bawah atau bahkan di dalam kawah gunungapi, biasanya batuan di sekitarnya sudah mengalami alterasi hidrotermal.

Bentuk-bentuk lava koheren yang benar-benar keluar ke permukaan bumi dapat berupa kubah lava (lava domes) atau aliran lava (lava flows). Kubah lava terbentuk bila lava relatif kental sehingga begitu keluar ke permukaan segera membeku dan menumpuk langsung di atas lubang kepundan membentuk kubah. Kubah lava ini ke bawahnya dapat berhubungan dengan leher gunungapi atau retas. Perbedaan antara sumbat lava dengan kubah lava hanya pada bentuk, yang pertama berbentuk sumbat sedang yang kedua berbentuk kubah. Ukuran sumbat selalu lebih kecil dari kubah lava.

Ciri-ciri kubah lava antara lain:

1. Bentuk ideal seperti kubah (setengah bola membundar ke atas), walaupun kenyataannya dapat tidak teratur, tetapi yang penting menumpuk di dalam kawah gunungapi.
2. Efek kontak hanya terjadi dengan batuan yang ditindih (di bawahnya) yang biasanya sudah teralterasi karena berada di dalam kawah/kaldera gunungapi.
3. Tekstur batuan semakin kristalin ke bagian tengah tubuh kubah. Pada bagian permukaan, tepi dan dasar kubah dapat terjadi breksiasi karena pendinginan yang sangat cepat (breksi autoklastika).
4. Pada bagian permukaan kubah dijumpai struktur lubang dan rekahan yang berpola radier menjauhi pusat kubah. Pada bagian tengah kubah terbentuk aliran dan struktur kelopak (kulit bawang).
5. Bila belum tererosi, pada permukaan kubah yang terbentuk di dasar laut (dalam) terbentuk kerak kaca (glassy crust) dan atau hyaloclastite.

Hyaloclastite berasal dari kata ‘hyaline’ (gelas) dan ‘clast’ (butiran/fragmen). Mengacu pendapat McPhie dkk. (1993), hyaloclastite (hialoklastit ?) berarti mempunyai pengertian: Clastic aggregates formed by non-explosive fracturing and disintegration of quenched lavas and intrusions that are extruded under (sea) water (bahan klastika yang terbentuk oleh disintegrasi dan perekahan non letusan karena pendinginan yang sangat cepat pada lava dan intrusi di dasar air (laut). Istilah ini digunakan baik untuk bahan yang masih lepas-lepas maupun sudah membatu. Dengan demikian hyaloclastite adalah batuan klastika gunungapi yang seluruh komponen penyusunnya terdiri dari butiran gelas. Secara genesa hyaloclastite terbentuk sebagai hasil erupsi gunungapi lelehan (non eksplosif) di dalam air (laut dalam), akibatnya terjadi pendinginan yang sangat cepat dan fragmentasi sehingga mineral tidak sempat mengkristal. Secara tekstur hyaloclastites dapat berupa breksi gunungapi atau batupasir gunungapi berkomposisi gelas.

Aliran lava mempunyai tipe beragam, yakni aliran lava bongkah (blocky lava flows), aliran lava aa’, aliran lava pahoe-hoe dan aliran lava bantal. Aliran lava bongkah adalah yang paling umum di Indonesia dimana lavanya relatif kental berkomposisi basa, menengah sampai asam. Aliran lava aa’ dan pahoe-hoe khas terdapat di Hawaii dimana selalu berkomposisi basal dan encer. Aliran lava bantal mencirikan aliran lava yang terbentuk di lingkungan air (laut dalam) dan es, umumnya berkomposisi basal.

Aliran lava bongkah dicirikan antara lain oleh:

1. Berbentuk bahan aliran, memanjang atau seperti kipas, tergantung bentuk bentang alam awal yang dilaluinya. Bentuk memanjang sempit biasanya terjadi bila lava mengalir di lembah sungai, sedang bentuk kipas bila melalui bentang alam relatif datar. Dari bentuk geometri ini sering juga nampak struktur aliran.
2. Efek kontak hanya terjadi pada batuan yang ditindihnya, dapat berupa efek bakar atau oksidasi.
3. Tekstur permukaan sangat kasar, berbongkah-bongkah dengan diameter mencapai 3 – 5 m, ke bawah membreksi sedang di bagian tengah tubuh lava berupa batuan beku masif. Mendekati dasar aliran batuan beku ini kembali membreksi dan berbongkah namun ukurannya lebih kecil dari yang ada di permukaan.
4. Bagian atas membentuk struktur berlubang, semakin encer dan basa bentuk lubang menyerupai elip yang berguna untuk menunjukkan arah aliran. Apabila aliran lava cukup tebal, di bagian tengah dapat terbentuk kekar kolom, sedang di bagian bawah membentuk kekar lembar. Pada batuan gunungapi tua dimana bagian permukaan aliran lava sudah mengalami erosi, maka identifikasi efek kontak, tekstur dan struktur di bagian bawah menjadi sangat penting.

Aliran lava bantal dicirikan antara lain oleh:

1. Bentuk memanjang agak membulat, seperti bantal guling atau sosis, sekaligus menunjukkan struktur aliran.
2. Di bagian permukaan tubuh aliran terdapat kulit kaca (glassy skin), sedang ke arah tengah semakin banyak kristal, atau paling tidak bertekstur afanit.
3. Struktur rekahan dan aliran (ropy wrinkle) terdapat dipermukaan, sedang dari penampang terlihat struktur konsentris dan rekahan radier.
4. Batuan umumnya berkomposisi basal, mungkin berasosiasi dengan hyaloclastites.

Selasa, 02 Maret 2010

PEMBANGUNAN

Pembangunan adalah sebagai suatu perubahan, mewujudkan suatu kondisi kehidupan bernegara dan bermasyarakat yang lebih baik dari kondisi sekarang, sedangkan pembangunan sebagai suatu pertumbuhan menunjukkan kemam¬puan suatu kelompok untuk terus berkembang, baik secara kuali¬tatif maupun kuantitatif dan merupakan sesuatu yang mutlak ha¬rus terjadi dalam pembangunan.
konsep pembangunan adalah sebuah proses perubahan yang dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan manusia
Konsep Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang berprinsip "memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan" (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987. Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris, sustainable development. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.
Pembangunan berkelanjutan dirumuskan sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan hak pemenuhan kebutuhan generasi mendatang. Pembangunan berkelanjutan mengandung makna jaminan mutu kehidupan manusia dan tidak melampaui kemampuan ekosistem untuk mendukungnya. Dengan demikian pengertian pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pada saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi yang akan datang dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka

Latihan soal mid Semester Genap kelas X 0910

SOAL LATIHAN ULANGAN GEOGRAFI KELAS X MID SEMESTER GENAP 2009/2010
1. Jelaskan dengan gambar penampang lapisan bumi dan berikan penjelasan masing-masing lapisan mengenai nama lapisan dan karakteristik lapisan tersebut !.
2. Sebutkan dan jelaskan klasifikasi batuan penyusun kerak bumi dan berilah contoh masing-masing !
3. Jelaskan tentang : Batuan beku, batuan metamorf, dan batuan sedimen !
4. Gambarlah dan jelaskan bentukan akibat tenaga endogen berikut :
a. Tektonisme : patahan, lipatan tegak, lipatan miring dan rebah
b. Vulkanisme : gambarkan dan jelaskan macam–macam intrusi magma,
c. Seisme :Sebutkan dan jelaskan macam-macam gempa bumi dan bagaimana terjadinya!
5. Jelaskan beberapa hal mengenai tenaga eksogen berikut
a. Sebutkandan jelaskan macam-macam pelapukan beserta contohnya!
b. Sebutkan dan jelaskan dampak pengikisan lahan bagi bidang pertanian!
c. Sebutkandan jelaskan macam pengendapan atau sedimentasi !
6. Sebutkan dan jelaskan bentukan akibat erosi oleh tenaga berikut :
a. Oleh air laut
b. Oleh air sungai
c. Oleh angin
7. Sebutkan dan Jelaskan faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses pembentukan tanah!
8. Jelaskan macam-macam tanah di Indonesia dan pemanfataannya!
9. Apa dampak erosi tanah bagi kehidupan dan bagaimana metode mengatasi erosi tanah?
10. Apa penyebab utama dari peristiwa tanah longsor di Perkebunan teh di Kab. Bandung


Untuk Siswa SMA BATIK 1 Surakarta Program RSBI kelas X, silahkan jawab latihan soal ini dan kirim ke Email : Triyono66@gmail.com.
Terima kasih semoga sukses

Kamis, 18 Februari 2010

UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

UPAYA PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DALAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Melestarikan lingkungan hidup merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda lagi dan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau pemimpin negara saja, melainkan tanggung jawab setiap insan di bumi, dari balita sampai manula. Setiap orang harus melakukan usaha untuk menyelamatkan lingkungan hidup di sekitar kita sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Sekecil apa pun usaha yang kita lakukan sangat besar manfaatnya bagi terwujudnya bumi yang layak huni bagi generasi anak cucu kita kelak.
Upaya pemerintah untuk mewujudkan kehidupan adil dan makmur bagi rakyatnya tanpa harus menimbulkan kerusakan lingkungan ditindaklanjuti dengan menyusun program pembangunan berkelanjutan yang sering disebut sebagai pembangunan berwawasan lingkungan.
Pembangunan berwawasan lingkungan adalah usaha meningkatkan kualitas manusia secara bertahap dengan memerhatikan faktor lingkungan. Pembangunan berwawasan lingkungan dikenal dengan nama Pembangunan Berkelanjutan. Konsep pembangunan berkelanjutan merupakan kesepakatan hasil KTT Bumi di Rio de Jeniro tahun 1992. Di dalamnya terkandung 2 gagasan penting, yaitu:
a. Gagasan kebutuhan, khususnya kebutuhan pokok manusia untuk menopang hidup.
b. Gagasan keterbatasan, yaitu keterbatasan kemampuan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan baik masa sekarang maupun masa yang akan datang.
Adapun ciri-ciri Pembangunan Berwawasan Lingkungan adalah sebagai berikut:
a. Menjamin pemerataan dan keadilan.
b. Menghargai keanekaragaman hayati.
c. Menggunakan pendekatan integratif.
d. Menggunakan pandangan jangka panjang.
Pada masa reformasi sekarang ini, pembangunan nasional dilaksanakan tidak lagi berdasarkan GBHN dan Propenas, tetapi berdasarkan UU No. 25 Tahun 2000, tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN).
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mempunyai tujuan di antaranya:
a. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan.
b. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat.
c. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan.
1. Upaya yang Dilakukan Pemerintah
Pemerintah sebagai penanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya memiliki tanggung jawab besar dalam upaya memikirkan dan mewujudkan terbentuknya pelestarian lingkungan hidup. Hal-hal yang dilakukan pemerintah antara lain:
a. Mengeluarkan UU Pokok Agraria No. 5 Tahun 1960 yang mengatur tentang Tata Guna Tanah.
b. Menerbitkan UU No. 4 Tahun 1982, tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup.
c. Memberlakukan Peraturan Pemerintah RI No. 24 Tahun 1986, tentang AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan).
d. Pada tahun 1991, pemerintah membentuk Badan Pengendalian Lingkungan, dengan tujuan pokoknya:
1) Menanggulangi kasus pencemaran.
2) Mengawasi bahan berbahaya dan beracun (B3).
3) Melakukan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).
e. Pemerintah mencanangkan gerakan menanam sejuta pohon.
2. Upaya Pelestarian Lingkungan Hidup oleh Masyarakat Bersama Pemerintah
Sebagai warga negara yang baik, masyarakat harus memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian lingkungan hidup di sekitarnya sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Beberapa upaya yang dapat dilakuklan masyarakat berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup antara lain:
a. Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan)
Terjadinya bencana tanah longsor dan banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan masalah tanah. Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Jika hal tersebut dibiarkan terus berlangsung, maka bukan mustahil jika lingkungan berubah menjadi padang tandus. Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan dengan cara menggalakkan kegiatan menanam pohon atau penghijauan kembali (reboisasi) terhadap tanah yang semula gundul. Untuk daerah perbukitan atau pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering atau sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan.
b. Pelestarian udara
Udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. Kalian mengetahui bahwa dalam udara terkandung beranekaragam gas, salah satunya oksigen.
Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme. Maka perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih dan sehat antara lain:
1) Menggalakkan penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita
Tanaman dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu memproduksi oksigen melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan tanaman lenyap sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu tumbuhan juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga.
2) Mengupayakan pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran, baik pembakaran hutan maupun pembakaran mesin Asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan cerobong asap merupakan penyumbang terbesar kotornya udara di perkotaan dan kawasan industri. Salah satu upaya pengurangan emisi gas berbahaya ke udara adalah dengan menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasangan filter pada cerobong asap pabrik.
3) Mengurangi atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfer Gas freon yang digunakan untuk pendingin pada AC maupun kulkas serta dipergunakan di berbagai produk kosmetika, adalah gas yang dapat bersenyawa dengan gas ozon, sehingga mengakibatkan lapisan ozon menyusut. Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer yang berperan sebagai filter bagi bumi, karena mampu memantulkan kembali sinar ultraviolet ke luar angkasa yang dipancarkan oleh matahari. Sinar ultraviolet yang berlebihan akan merusakkan jaringan kulit dan menyebabkan meningkatnya suhu udara. Pemanasan global terjadi di antaranya karena makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer.
c. Pelestarian hutan
Eksploitasi hutan yang terus menerus berlangsung sejak dahulu hingga kini tanpa diimbangi dengan penanaman kembali, menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak. Pembalakan liar yang dilakukan manusia merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan. Padahal hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air.
Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan:
1) Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul.
2) Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.
3) Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon.
4) Menerapkan sistem tebang–tanam dalam kegiatan penebangan hutan.
5) Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan.
d. Pelestarian laut dan pantai
Seperti halnya hutan, laut juga sebagai sumber daya alam potensial. Kerusakan biota laut dan pantai banyak disebabkan karena ulah manusia. Pengambilan pasir pantai, karang di laut, pengrusakan hutan bakau, merupakan kegatan-kegiatan manusia yang mengancam kelestarian laut dan pantai. Terjadinya abrasi yang mengancam kelestarian pantai disebabkan telah hilangnya hutan bakau di sekitar pantai yang merupakan pelindung alami terhadap gempuran ombak.
Adapun upaya untuk melestarikan laut dan pantai dapat dilakukan dengan cara:
1) Melakukan reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar pantai.
2) Melarang pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut.
3) Melarang pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan.
4) Melarang pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan.
e. Pelestarian flora dan fauna
Kehidupan di bumi merupakan sistem ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan.
Oleh karena itu, kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna di antaranya adalah:
1) Mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa.
2) Melarang kegiatan perburuan liar.
3) Menggalakkan kegiatan penghijauan.

KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP

KERUSAKAN LINGKUNGAN HIDUP
Berdasarkan faktor penyebabnya, bentuk kerusakan lingkungan hidup dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Bentuk Kerusakan Lingkungan Hidup Akibat Peristiwa Alam
Berbagai bentuk bencana alam yang akhir-akhir ini banyak melanda Indonesia telah menimbulkan dampak rusaknya lingkungan hidup. Dahsyatnya gelombang tsunami yang memporak-porandakan bumi Serambi Mekah dan Nias, serta gempa 5 skala Ritcher yang meratakan kawasan DIY dan sekitarnya, merupakan contoh fenomena alam yang dalam sekejap mampu merubah bentuk muka bumi.
Peristiwa alam lainnya yang berdampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:
a. Letusan gunung berapi
Letusan gunung berapi terjadi karena aktivitas magma di perut bumi yang menimbulkan tekanan kuat keluar melalui puncak gunung berapi.
Bahaya yang ditimbulkan oleh letusan gunung berapi antara
lain berupa:
1) Hujan abu vulkanik, menyebabkan gangguan pernafasan.
2) Lava panas, merusak, dan mematikan apa pun yang dilalui.
3) Awan panas, dapat mematikan makhluk hidup yang dilalui.
4) Gas yang mengandung racun.
5) Material padat (batuan, kerikil, pasir), dapat menimpa perumahan, dan lain-lain.
b. Gempa bumi
Gempa bumi adalah getaran kulit bumi yang bisa disebabkan karena beberapa hal, di antaranya kegiatan magma (aktivitas gunung berapi), terjadinya tanah turun, maupun karena gerakan lempeng di dasar samudra. Manusia dapat mengukur berapa intensitas gempa, namun manusia sama sekali tidak dapat memprediksikan kapan terjadinya gempa.
Oleh karena itu, bahaya yang ditimbulkan oleh gempa lebih dahsyat dibandingkan dengan letusan gunung berapi. Pada saat gempa berlangsung terjadi beberapa peristiwa sebagai akibat langsung maupun tidak langsung, di antaranya:
1) Berbagai bangunan roboh.
2) Tanah di permukaan bumi merekah, jalan menjadi putus.
3) Tanah longsor akibat guncangan.
4) Terjadi banjir, akibat rusaknya tanggul.
5) Gempa yang terjadi di dasar laut dapat menyebabkan tsunami (gelombang pasang).
c. Angin topan
Angin topan terjadi akibat aliran udara dari kawasan yang bertekanan tinggi menuju ke kawasan bertekanan rendah.
Perbedaan tekanan udara ini terjadi karena perbedaan suhu udara yang mencolok. Serangan angin topan bagi negara-negara di kawasan Samudra Pasifik dan Atlantik merupakan hal yang biasa terjadi. Bagi wilayah-wilayah di kawasan California, Texas, sampai di kawasan Asia seperti Korea dan Taiwan, bahaya angin topan merupakan bencana musiman. Tetapi bagi Indonesia baru dirasakan di pertengahan tahun 2007. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan iklim di Indonesia yang tak lain disebabkan oleh adanya gejala pemanasan global.
Bahaya angin topan bisa diprediksi melalui foto satelit yang menggambarkan keadaan atmosfer bumi, termasuk gambar terbentuknya angin topan, arah, dan kecepatannya. Serangan angin topan (puting beliung) dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup dalam bentuk:
1) Merobohkan bangunan.
2) Rusaknya areal pertanian dan perkebunan.
3) Membahayakan penerbangan.
4) Menimbulkan ombak besar yang dapat menenggelamkan kapal.
2. Kerusakan Lingkungan Hidup karena Faktor Manusia
Manusia sebagai penguasa lingkungan hidup di bumi berperan besar dalam menentukan kelestarian lingkungan hidup. Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang berakal budi mampu merubah wajah dunia dari pola kehidupan sederhana sampai ke bentuk kehidupan modern seperti sekarang ini. Namun sayang, seringkali apa yang dilakukan manusia tidak diimbangi dengan pemikiran akan masa depan kehidupan generasi berikutnya. Banyak kemajuan yang diraih oleh manusia membawa dampak buruk terhadap kelangsungan lingkungan hidup.
Beberapa bentuk kerusakan lingkungan hidup karena faktor manusia, antara lain:
a. Terjadinya pencemaran (pencemaran udara, air, tanah, dan suara) sebagai dampak adanya kawasan industri.
b. Terjadinya banjir, sebagai dampak buruknya drainase atau sistem pembuangan air dan kesalahan dalam menjaga daerah aliran sungai dan dampak pengrusakan hutan.
c. Terjadinya tanah longsor, sebagai dampak langsung dari rusaknya hutan.
Beberapa ulah manusia yang baik secara langsung maupun tidak langsung membawa dampak pada kerusakan lingkungan hidup antara lain:
a. Penebangan hutan secara liar (penggundulan hutan).
b. Perburuan liar.
c. Merusak hutan bakau.
d. Penimbunan rawa-rawa untuk pemukiman.
e. Pembuangan sampah di sembarang tempat.
f. Bangunan liar di daerah aliran sungai (DAS).
g. Pemanfaatan sumber daya alam secara berlebihan di luar batas.

Bromo Caldera, East Java, Indonesia