LANGUAGE

MAU SUKSES BELAJAR , YA BELAJAR!! JANGAN LUPA SHOLAT

Bonus Anda

Rabu, 03 Februari 2010

Sangiran Jejak Purba


Jejak Purba di Sangiran
Oleh : Harry Widianto
Ahli Arkeologi/Paleoantropologi, Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran
Dimuat di harian Kompas, 13 Juni 2008

KISAH panjang mengenai evolusi manusia di dunia tampaknya tidak dapat dilepaskan sama sekali dari sebuah bentangan lahan perbukitan tandus yang terletak di tengah perbatasan Kabupaten Sragen dan Karanganyar, Jawa tengah.

Lahan seluas 8 x 7 kilometer persegi, yang saat ini dikenal dengan nama Situs Sangiran itu telah mencuatkan kisah yang menggema lantang ke seluruh dunia. Terutama sejak ditemukan oleh GHR von Koenigswald melalui temuan alat-alat serpih pada tahun 1934.

Di sini telah muncul salah satu pusat evolusi manusia di dunia, yang sanggup menorehan cerita panjang tentang kemanusiaan sejak 1,5 juta tahun lalu. Itu sebabnya, Sangiran dimasukkan sebagai salah satu warisan budaya dunia oleh UNESCO pada 1996.

Situs Sangiran merupakan suatu kubah raksasa yang tererosi bagian puncaknya sehingga menghasilkan cekungan besar di pusat kubah. Akibatnya, lapisan-lapisan tanah berumur tua tersingkap secara alamiah, menampakkan lapisan-lapisan berfosil, baik fosil manusia purba maupun binatang.

Okupasi manusia purba dari tokson Homo erectus secara intens telah meninggalkan jejak-jejaknya, seperti artefak batu ataupun lingkungan faunanya, dalam lingkungan purba yang terbentuk selama 2 juta tahun terakhir tanpa terputus. Inilah napas dan arti mendalam dari Situs Sangiran sebagai salah satu situs akbar dalama kajian evolusi manusia di dunia.

Lingkungan laut dan rawa
Lempung biru yang membentuk apa yang disebut kalangan arkeolog sebagai Formasi Kalibeng di bagian paling bawah adalah endapan paling tua. Endapan itu tercipta sejak 2,4 juta tahun lalu ketika daerah ini masih merupakan lingkungan laut dalam.

Pada awal Kala Plestosen Bawah, sekitar 1,8 juta tahun lalu, terjadi letusan gunung api yang hebat. Mungkin berasal dari Gunung Lawu purba sehingga diendapkan lahar vulkanik yag mengisi laguna Sangiran. Letusan gunung api ini telah mengubah bentang alam menjadi laut dangkal, menandai dimulainya perubahan lingkungan laut ke lingkungan darat, sekaligus awal dari mundurnya laut dari Sangiran. Rawa dan hutan bakau mendominasi lanskap Sangiran hingga sekitar 0,9 juta tahun yang lalu, dicirikan oleh endapan lempung hitam yang diistilah sebagai Formasi Pucangan.

Manusia purba paling tua hidup di pinggir-pinggir sungai, yang menembus rawa dan hutan bakau saat itu, berdampingan dengan binatang vertebrata yagn msikin spesiesnya. Di antaranya Hexaprotodon simplex (sejenis kuda air), Tetralophodon bumiajuensis (sejenis gajah) dan akhir-akhir ini ditemukan pula Crocodillus sp (sejenis buaya). Sejak 1 juta tahun lalu, Hexaprotodon simplex kandas dan digantikan oleh Hexaprotodon sivalensis. Fauna pendatang baru, pada bagian atas Formasi Pucangan, adalah Panthera trinilensis (macan) dan Axis lyndekkeri (rusa).

Manusia pada tingkatan ini menunjukkan fisik yang luar biasa kekar dan kuat sehingga dalam tingkatan evolusi fisiknya dimasukkan sebagai Homo erectus kekar. Mereka telah menciptakan alat-alat dari batuan kalsedon yang berupa serpih, berukuran sangat kecil dengan diameter 2-4 sentimeter.

Saat ini peralatan mereka telah ditemukan di Desa Dayu, dari sebuah endapan sungai purba yang mengalir di antara bentangan rawa pada 1,2 juta tahun yang lalu. Alat-alat batu dari Formasi Pucangan di Desa Dayu ini maerupakan budaya Homo erectus arkaik dari Kala Plestosen Bawah, sekaligus merupakan budaya paling tua di Indonesia.

Menjadi daratan
Pada sekitar 0,9 tahun lalu, terjadi erosi pecahan gamping pisoid dari Pegunungan Selatan yang terletak di selatan Sangiran dan kerikil-kerikal vulkanik dari Pegunungan Kendeng di utaranya. Material erosi tersebut menyatu di Sangiran sehingga membentuk suatu lapisan keras setebal 1-4 meter, yang disebut grenzbank alias lapisan pembatas. Pengendapan grenzbank menandai perubahan lingkungan rawa menjadi lingkungan darat secara permanen di Sangiran.

Sekitar 0,8 juta tahun lalu, tidak lagi dijumpai rawa di Sangiran. Juga tak lagi terdapat daerah peralihan antara laut dan darat. Manusia kekar Meganthropus paleojavanicus masih hidup dan berdampingan hidpunya dengan Homo erectus yang lebih ramping. Kemampuan membuat alat serpih tetap dilanjutkan.

Pada periode berikutnya terjadi letusan gunung yang hebat di sekitar Sangiran, berasal dari Gunung Lawu, Merapi dan Merbabu purba. Letusan hebat telah memuntahkan jutaan kubik endapan pasir vulkanik, kemudian diendapkan oleh aliran sungai yang ada di sekitarnya saat itu.

Aktivitas vulkanik tersebut tidak hanya terjadi dalam waktu yang singkat, tetapi susul-menyusul dalam periode lebih dari 500.000 tahun. Aktivitas alam ni meninggalkan endapan pasir fluvio-volkanik setebal tidak kurang dari 4o meter, dikenal sebagai Formasi Kabuh. Lapisan ini mengindikasikan daerah Sangiran sebagai lingkungan sungai yang luas saat itu: ada sungai utama dan ada pula cabang-cabangnya dalam suatu lingkungan vegetasi terbuka. Salah satu sungai purba yang masih bertahan adalah Kali Cemoro.

Berbagai manusia purba yang hidup di daerah Sangiran mulai 700.000 hingga 300.000 tahun kemudian terpintal oleh aliran pasir ini. "Mereka" diendapkan pada sejumlah tempat di Sangiran. Badak, antilop dan rusa yang ada di grenzbank masih tetap ada pada Formasi Kabuh. Stegodon sp ditemani jenis lain, Elephas hysudrindicus dan Epileptobos groeneveldtii (banteng). Lapisan ini merupakan lapisan yang paling banyak menghasilkan fosil manusia dan binatang.

Saat itu mereka masih meneruskan tradisi pembuatan alat serpih bilah. Pada Kala Plestosen Tengah inilah Sangiran menunjukkan lingkungan yang paling indah: hutan terbuka dengan berbagai sungai yang mengalir, puncak dari kehidupan Homo erectus beserta lingkungan fauna dan budayanya.

Letusan terus berlangsung
Pada sekitar 250.000 tahun yang lalu, lahar vulkanik diendapkan kembali di daerah Sangiran, yang juga mengangkut material batuan andesit berukuran kerikil hingga bongkah. Pengendapan lahar ini tampaknya berlangsung cukup singkat, sekitar 70.000 tahun.

Di atasnya kemudian diendapkan lapisan pasir vulkanik, yang saat ini menjadi bagian dari apa yang disebut Formasi Notopuro. Manusia purba saat itu telah memanfaatkan batu-batu andesit sebagai bahan pembuatan alat-alat masif, seperti kapak penetak, kapak perimbas, kapak genggam, bola-bola batu dan kapak pembelah. Setelah pembentukan Formasi Notopuro, terjadilah pelipatan morfologi secara umum di Sangiran, yang mengakibatkan pengangkatan Sangiran ke dalam bentuk kubah raksasa. Erosi berlangsung terus-menerus di puncak kubah sehingga menhasilkan cekungan besar yang saat ini menjadi ciri khas dari morfologi situs Sangiran.

Di sinilah lokasi laboratorium alam terbesar di dunia setelah endapan-endapan purba di Afrika dan di sini pula pusat evolusi manusia itu terjadi. Sangiran dan seluruh kandungannya merupakan aset sangat berharga bagi pemahaman kehidupan manusia selama Kala Plestosen di dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Bromo Caldera, East Java, Indonesia