LANGUAGE

MAU SUKSES BELAJAR , YA BELAJAR!! JANGAN LUPA SHOLAT

Bonus Anda

Rabu, 27 Mei 2009

Kiamat Sudah Dekat

Tiga Tanda Kiamat Yang Harus Diantisipasi Dewasa Ini
Sabtu, 23/05/2009 21:28 WIB
Ada tiga tanda fenomenal dari tanda-tanda Kiamat yang perlu diantisipasi
dewasa ini oleh umat manusia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Dua
di antara ketiga tanda itu masuk dalam kategori tanda-tanda besar Kiamat.
Satu lagi kadang dimasukkan ke dalam tanda besar, namun ada pula yang
menyebutnya sebagai tanda penghubung antara tanda- tanda-tanda kecil Kiamat
dengan tanda-tanda besar Kiamat.
Tanda penghubung antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar
Kiamat ialah diutusnya Imam Mahdi. Imam Mahdi merupakan tanda Kiamat yang
menghubungkan antara tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar
Kiamat karena datang pada saat dunia sudah menyaksikan munculnya seluruh
tanda-tanda kecil Kiamat yang mendahului tanda-tanda besar Kiamat. Allah
tidak akan mengizinkan tanda-tanda besar Kiamat datng sebelum berbagai tanda
kecil Kiamat telah tuntas kemunculannya.
Banyak orang barangkali belum menyadari bahwa kondisi dunia dewasa ini ialah
dalam kondisi dimana hampir segenap tanda-tanda kecil Kiamat yang
diprediksikan oleh Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam telah
bermunculan semua. Coba perhatikan beberapa contoh tanda-tanda kecil Kiamat
berikut ini:
Dan perceraian banyak terjadi ويكثر الطلاق
Dan banyak terjadi kematian mendadak (tiba-tiba) و الموت الفجاء
Dan banyak mushaf diberi hiasan (ornamen) و حلية المصاحف
Dan masjid-masjid dibangun megah-megah و زخرفت المساجد
Dan berbagai perjanjian dan transaksi dilanggar sepihak و نقضت العهود
Dan berbagai peralatan musik dimainkan و استعملت المأزف
Dan berbagai jenis khamr diminum manusia و شربت الخمور
Dan perzinaan dilakukan terang-terangan و فخش الزنا
Dan para pengkhianat dipercaya (diberi jabatan kepemimpinan) و اؤتمن
الخائن
Dan orang yang amanah dianggap pengkhianat (penjahat/teroris) و خون الأمين
Tersebarnya Pena (banyak buku diterbitkan) ظهور القلم
Pasar-pasar (Mall, Plaza, Supermarket) Berdekatan تتقارب الأسواق
Penumpahan darah dianggap ringan استخفاف بالدم
Makan riba أكل الربا
Jadi kalau kita perhatikan, contoh-contoh di atas jelas sudah kita jumpai di
zaman kita dewasa ini. Bahkan bila kita buka kitab para Ulama yang
menghimpun hadits-hadits mengenai tanda-tanda kecil Kiamat, lalu kita baca
satu per satu hadits-hadits tersebut hampir pasti setiap satu hadits selesai
kita baca kita akan segera bergumam di dalam hati: “Wah, yang ini sudah..!”
Hal ini akan selalu terjadi setiap habis kita baca satu hadits. Laa haula wa
laa quwwata illa billah....
Jika tanda-tanda kecil Kiamat sudah hampir muncul seluruhnya berarti kondisi
dunia dewasa ini berada di ambang menyambut kedatangan tanda-tanda besar
Kiamat. Dan bila asumsi ini benar, berarti dalam waktu dekat kita semua
sudah harus bersiap-siap untuk menyambut datangnya tanda penghubung antara
tanda-tanda kecil Kiamat dengan tanda-tanda besar Kiamat, yaitu diutusnya
Imam Mahdi ke tengah ummat Islam. Hal ini menjadi selaras dengan isyarat
yang diungkapakan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam mengenai dua
pra-kondisi menjelang diutusnya Imam Mahdi.
أُبَشِّرُكُمْ بِالْمَهْدِيِّ يُبْعَثُ فِي أُمَّتِي عَلَى اخْتِلَافٍ مِنْ
النَّاسِ
وَزَلَازِلَ فَيَمْلَأُ الْأَرْضَ قِسْطًا وَعَدْلًا كَمَا مُلِئَتْ جَوْرًا
وَظُلْمًا
“Aku kabarkan berita gembira mengenai Al-Mahdi yang diutus Allah ke tengah
ummatku ketika banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan gempa-gempa.
Ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kejujuran sebagaimana sebelumnya
dipenuhi dengan kese-wenang-wenangan dan kezaliman.” (HR Ahmad)
Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan adanya dua prakondisi
menjelang diutusnya Imam Mahdi ke tengah ummat Islam. Kedua prakondisi
tersebut ialah pertama, banyak terjadi perselisihan antar-manusia dan kedua,
terjadinya gempa-gempa. Subhaanallah. Jika kita amati kondisi dunia saat ini
sudah sangat sarat dengan perselisihan antar-manusia, baik yang bersifat
antar-pribadi maupun antar-kelompok. Demikian pula dengan fenomena gempa
sudah sangat tinggi frekuensi berlangsungnya belakangan ini.
Berarti kedatangan Imam Mahdi merupakan tanda Akhir Zaman yang jelas-jelas
harus kita antisipasi dalam waktu dekat ini. Dan jika sudah terjadi berarti
kitapun harus segera mempersiapkan diri untuk mematuhi perintah Rasulullah
shollallahu ’alaih wa sallam yang berkaitan dengan kemunculan Imam Mahdi.
Kita diperintahkan untuk segera berbai’at dan bergabung ke dalam barisannya
sebab episode-episode berikutnya merupakan rangkaian perang yang dipimpin
Imam Mahdi untuk menaklukkan negeri-negeri yang dipimpin oleh para Mulkan
Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak
Allah dan RasulNya).
فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَبَايِعُوهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَإِنَّهُ
خَلِيفَةُ اللَّهِ الْمَهْدِيُّ
“Ketika kalian melihatnya (Imam Mahdi) maka ber-bai’at-lah dengannya
walaupun harus merangkak-rangkak di atas salju karena sesungguhnya dia
adalah Khalifatullah Al-Mahdi.” (HR Ibnu Majah)
Imam Mahdi akan mengibarkan panji-panji Al-Jihad Fi Sabilillah untuk
memerdekakan negeri-negeri yang selama ini dikuasai oleh para Mulkan
Jabriyyan (Para penguasa yang memaksakan kehendak dan mengabaikan kehendak
Allah dan RasulNya). Beliau akan mengawali suatu proyek besar membebaskan
dunia dari penghambaan manusia kepada sesama manusia untuk hanya menghamba
kepada Allah semata, Penguasa Tunggal dan Sejati langit dan bumi. Beliau
akan memastikan bahwa dunia diisi dengan sistem dan peradaban yang
mencerminkan kalimatthoyyibah Laa ilaha illAllah Muhammadur Rasulullah dari
ujung paling timur hingga ujung paling barat.
Ghazawaat (perang-perang) tersebut akan dimulai dari jazirah Arab kemudian
Persia (Iran) kemudian Ruum (Eropa dan Amerika) kemudian terakhir melawan
pasukan Yahudi yang dipimpin langsung oleh puncak fitnah, yaitu Dajjal. Dan
uniknya pasukan Imam Mahdi Insya Allah akan diizinkan Allah untuk senantiasa
meraih kemenangan dalam berbagai perang tersebut.
تَغْزُونَ جَزِيرَةَ الْعَرَبِ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ فَارِسَ
فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ
ثُمَّ تَغْزُونَ الرُّومَ فَيَفْتَحُهَا اللَّهُ ثُمَّ تَغْزُونَ الدَّجَّالَ
فَيَفْتَحُهُ اللَّهُ
“Kalian akan perangi jazirah Arab dan Allah akan beri kemenangan kalian
atasnya, kemudian kalian akan menghadapi Persia dan Allah akan beri
kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan perangi Ruum dan Allah akan
beri kemenangan kalian atasnya, kemudian kalian akan perangi Dajjal dan
Allah akan beri kemenangan kalian atasnya.” (HR Muslim)
Lalu kapan Nabiyullah Isa ’alihis-salaam akan turun dari langit diantar oleh
dua malaikat di kanan dan kirinya? Menurut hadits-hadits yang ada Nabi Isa
putra Maryam ’alihis-salaam akan datang sesudah pasukan Imam Mahdi selesai
memerangi pasukan Ruum menjelang menghadapi perang berikutnya melawan
pasukan Dajjal. Pada saat itulah Nabi Isa ’alihis-salaam akan Allah
taqdirkan turun ke muka bumi untuk digabungkan ke dalam pasukan Imam Mahdi
dan membunuh Dajjal dengan izin Allah.
Begitu Imam Mahdi dan pasukannya mendengar kabar bahwa Dajjal telah hadir
dan mulai merajalela menebar fitnah dan kekacauan di muka bumi, maka Imam
Mahdi mengkonsolidasi pasukannya ke kota Damaskus. Lalu pada saat pasukan
Imam Mahdi menjelang sholat Subuh di sebuah masjid yang berlokasi di sebelah
timur kota Damaskus tiba-tiba turunlah Nabi Isa ’alihis-salaam diantar dua
malaikat di menara putih masjid tersebut. Maka Imam Mahdi langsung
mempersilahkan Nabi Isa ’alihis-salaam untuk mengimami sholat Subuh, namun
ditolak olehnya dan malah Nabi Isa ’alihis-salaam menyuruh Imam Mahdi untuk
menjadi imam sholat Subuh tersebut sedangkan Nabi Isa ’alihis-salaam makmum
di belakangnya. Subhanallah.
" ينزل عيسى بن مريم ، فيقول أميرهم المهدي : تعال صل بنا ،
فيقول : لا إن بعضهم أمير بعض ، تكرمة الله لهذه الأمة " .
"Turunlah Isa putra Maryam ’alihis-salaam. Berkata pemimpin mereka Al-Mahdi:
"Mari pimpin sholat kami." Berkata Isa ’alihis-salaam: "Tidak. Sesungguhnya
sebagian mereka pemimpin bagi yang lainnya sebagai penghormatan Allah bagi
Ummat ini." (Al Al-Bani dalam ”As-Salsalatu Ash-Shohihah”)
Saudaraku, marilah kita bersiap-siap mengantisipasi kedatangan tanda-tanda
Akhir Zaman yang sangat fenomenal ini. Tanda-tanda yang akan merubah wajah
dunia dari kondisi penuh kezaliman dewasa ini menuju keadilan di bawah
naungan Syariat Allah dan kepemimpinan Imam Mahdi beserta Nabiyullah Isa ’
alihis-salaam.
Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam barisan pasukan Imam Mahdi yang akan
memperoleh satu dari dua kebaikan: ’Isy Kariman (hidup mulia di bawah
naungan Syariat Allah) au mut syahidan (atau Mati Syahid). Amin ya Rabb.
Menuju Kehidupan Sejati
oleh Ihsan Tandjung

Sabtu, 16 Mei 2009

Manusia dan Lingkungan

MANUSIA DAN LINGKUNGAN
oleh Dra. Sukriyah Kusanti
Perjalanan sejarah keberadaan manusia di muka bumi telah menunjukkan bahwa perubahan masyarakat manusiaberlangsung secara evolusioner. menurut Miller Jr (1982), perubahan tersebut berturut-turut berupa tahap:
1. Masyarakat Pemburu dan Pengumpul, tingkat awal,
2. Masyarakat Pemburu dan pengumpul tingkat lanjutan,
3. Masyarakat petani dan,
4. Masyarakat industri.
Tahapan masyarakat tersebut terbentuk karena tingkat kernaiuan teknologi yang dimiliki pada waktu. Itu. Di lain pihak, selain teknologi telah memberikan peningkatan keleluasaan pada manusia dalam menikmati kehidupan, ternyata juga telah menimbulkan dampak negatif pada lingkungan hidup.Seperti misainya timbuinya pencemaran, kelangkaan sumberdaya alam , dan sebagainya.
Dari perkembangan masyarakat tersebut, terlihat bahwa perilaku manusia di muka bumi ini telah menimbulkan kerusakan lingkungan dan ekosistem yang dapat mengancam kelangsungan hidup populasi manusia sendiri. Sedangkan perilaku manusia merupakan pencerminan dari moral manusia yang dimilikinya. Citra manusia hanya mempunyai relevansi, jika dalam kehidupan bersama dalatn ketompok masyarakat. Sebab dalam kehidupan berkelompok itulah terdapat sistem-sistem perlambang yang selanjutnya berfungsi sebagai sumber nilai. Cara manusia mewujudkan diri adalah hasil pilihannya sendiri. Oleh karena itu apapun pilihannya, manusia dia sendiri yang bertanggung jawab. Seperti yang dikatakan oleh Rene Dubost (1976), kedudukan manusia di alam merupakan hubungan antara dua komponen, yang saling mengisi, dan bersifat kontinyu sebagai suatu sistem. Narnun di sisi lain populasi manusia cenderung bertambah yang dapat menyebabkan kerusakan sistem itu. Oleh karenanya agar sistem tersebut tetap dalam keadaan seimbang, maka gangguan yang datangnya dari manusia harus diminimalkan.
Dalam Kitab Suci Al-qur'an, salah satu ayat menyebutkan: " ......sesungguhnya yang patut dan pantas mewarisi bumi ini adalah hamba-hamba Ku yang saleh". Selanjutnya dalam ayat yang lain dikatakan bahwa "Tuhan meninggikan deraiat sebagian dari manusia itu lebih daripada yang lain, dan justru untuk menguji apa yang diberikanNya kepada manusia itu". Oleh karenanya di dalam mengelola alam untuk kesejahteraan dan kebahagiaan, bukan hanya berpegang pada pandangan yang "inclusive", dimana manusia adalah sekedar bagian Yang tak terpisahkan dari komponen lain dalam sistem dimana ia berada. Kitapun tidak menganut faham "exclusifisme", Yang menempatkan manusia sebagai penguasa mutlak dari lingkungan, yang dapat menghaialkan untuk menimbulkan kerusakan lingkungan.
Seringkali manusia melupakan segi etika/moral dari hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan. Secara moral adalah normal apabila lingkungan akan memberikan kepada manusia berbagai hal yang akan diketemukannya. bahkan manusia juga harus memberikan toleransi kepada kenyataan bahwa sewaktu-waktu dapat timbul malapetaka bagi kehidupan manusia. Seperti adanya banjir, gunung meletus, dan lain-lain. Jadi paling tidak kita harus menerima hal tersebut diatas dengan wajar. Dari segi etika manusia mempunyai kesalahan moral, apabila dampak dari kegiatan kita ini menimbulkan kerugian bagi orang lain. Jika manusia dapat berlaku adil dengan semua yang makhiuk hidup di alam ini, maka disini letak kebenaran norma moral yang baik, Dimana manfaat yang kita peroleh dari alam / lingkungan ini, harus juga memberikan manfaat kepada manusia lain.
Semula peranan lingkungan alam terhadap manusia adalah besar sekali. Seperti iklim dari keadaan lingkungan alam di kutub utara mempengaruhi peri kehidupan dan kelakuan manusia Eskimo yang berlainan sekali dengan manusia padang pasir yang hidup dan dibesarkan di gurun Sahara. Begitu pula manusia Indonesia di daerah Kering Nusa Tenggara Timur memiliki sistem nilai dan perikehidupan kemasyarakatan yang berlainan dengan manusia Indonesia di daerah basah Kalimantan Selatan.
Pengaruh keadaan lingkungan alam sangat mendalam terhadap diri manusia dan masyarakat. Sebaliknya manusia dan masyarakat mengembangkan sistem nilai yang sesuai dengan keadaan lingkungan. Di Indonesia Hutan dianggap angker ataupun mata air dipandang suci. Hal ini diterima tanpa mendalami sebab musababnya. Namun masuk akal jika dikaji secara rasional. Hutan angker ataupun mata air itu suci itu vital untuk memelihara keseimbangan lingkungan. Alam dengan scgala isinya diterima sebagaimana adanya. Manusia menyesuaikan pada hidupnya dengan irama yang ditentukan oleh lingkungan alam. Karena perubahan lingkungan alam berada diluar kendali tangan manusia, maka manusia memasrahkan diri kepada lingkungan. Hal inilah yang melahirkan suatu kebiasaan, tradisi dan hokum yang tidak tertulis, yang kemudian mengatur pergaulan hidup masyarakat.
Namun satu faktor dalam kehidupan masyarakat yaitu pertambahan jumlah manusia. Sehingga naluri manusia untuk mempertahankan diri (survival instinc) mendorong hasrat berkembang biak dan melangsungkan kehidupan. Kondisi ini dimungkinkan oleh akal dan kemaiiipuan berfikir manusia, yang akhirnya melahirkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Keadaan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia mulai mencoba menundukkan lingkungan alam. Sikap pasrah kepada alam menjadi sikap mengendalikaii alam. Pola hidup yang semula mengikuti irama dan hukum alam, Kini ingin ditentukan oleh irama dan hukum masyarakat sendiri.

5.2. Antroposentrisme dan Biosentrisme
Dalam hubungan dengan alam semesta manusia bergerak dalam dua arah yang memusatkn dirinya pada pusat alam semesta mengeksploitasi demi kepentingan sendiri. Namun kadangkala manusia mengganggu bagian dari ekosistem. Dua pendekatan ini yang pernah dikembangkan oleh Arne Naess di Amerika.
Pendekatan pertama disebut "antroposentrisme" dan yang kedua adalah "antropomorfisme/ biosentrisme". Manusia sepeti yang oleh Soeryono (1978) adalah sesuatu yang paling ajaib daripada keajaiban yang ada didunia. Dalam kedudukan di alam ini oleh Sang Pencipta, manusia ditempatkan pada kedudukan tertinggi daripaad mahuk hidup lainya. Agama Islam menempatkan manusia dengan sebutan khalifah di bumi yang diberi tugas dan tanggung jawab untuk mengelola dan memakmurkan bumi beserta 1sinya yang pada gilirannya akan bermanfaat bagi kehidupan seluruh mahluk Allah pada umumnya.

A. Antroposentrisme
Secara etimologis Antroposentrisme tesusun dari dua kata bahasa Yunani yaitu "antropos" yang berarti manusia dan "centrum" yan gberati pusat. Antroposentrtisme dapat diartikan sebagai suatu meyakinkan bahwa manusia dan karya-karyanya adalah pusat dari alam sebagai realitas yang ada di luar manusia. Alam merupakan sesuatu yang asing bagi dirinya. Sehingga hal ini timbl suatu jarak moral antara diri manusia dengan dunianya. Moral atau nilai-nilai alam tergantung pada apa yang dipikirkan atau dipersepsikan manusia sebagai sesuatu yang menarik, indah, baik, benar dan sebagainya. Akibatnya manusia dapat saja memperlakukan dan menguasai kenyataan / realitas asing tersebut secara kasar atauhalus sesuai dengan kepentingan dan pandangan.
Antroposentirsme menjadikan manusia sebagai pusat segalanya dan diatas dari segala sesuatu dalam alam semesta. Maka itu segala sesuatu yang ada di dalam alam harus sedapat mungkin digunakan demi kebaikan dan kemakmuran manusia. Sedangkan bagaimana melestarikan dan memelihara lingkungan sekitar manusia boleh dikorbankan asal kebahagiaan dan kemakmuran tercapai. Namun pandangan filsafa barat tidak hanya tersebut diatas, beberapa tokoh lainnya memandang alam sebagai kosmos dimana manusia salah satu bagian di dalamnya.

B. Biosentrisme
Berasal dari babungan kata Yunani "bios" (hidup) dan kata latin "centrum" (pusat). Secara harafiah Biosentrisme diartikan sebagai suatu keyakinan bahwa kehidupan manusia crat hubungannya dengan kehidupan seluruh kosmos. Manusia dipandang sebagai salah satu organisms hidup dari alam semesta yang mempunyai rasa saling ketergantungan dengan penghuni alam semesta lainnya.
Dalam Biosentrisme, manusia tidak dipandang begitu agung dan berhak mutlak mengatur dan menguasai alam, namun hanya sebagai bagian alam semesta. Disini manusia terkena hukum-hukum alam, dan manusia dengan kemampuannya berusaha menandingi alam semesta yang ganas. Manusia dimengerti sebagai mahluk yang punya keterbatasan seperti hainya dengan mahkluk hidup lainnya. Manusia sangat tergantung pada lainnya, sehingga menjadi satu kesatuan dalam kosmos. Pandangan manusia terhadap alam semesta sedapat mungkin memahami bahkan mengagumi. Dalam pandangan Filsafat Timur yang diwakili Hinduisme alam menjadi sesuatu yang makrokosmos, dimana manusia hidup didalamnya sebagai mikrokosmos. Sedangkan pandangan Konfuisme, mengajak manusia kembali kepada alam semesta demi memperoleh kebahagiaan. Dalam aliran Zen di Jepang manusia berusatia moncari keheningan dalam alam dan menyatu dengan dirinya sendiri.
Dalam pandanganfilsafat lslam meletakkan pada etika / moral manusia terhadap alam, yakni mengajak manusia hidup dalam keseimbangan dengan alam dan sebagai makhluk bumi yang diberl mandat oleh Sang Pencipta untuk tetap memelihara dan menjaga bumi dari segala ancaman. Sikap memelihara dan menjaga bumi merupakan penerapan tanggung jawab manusia kepada Sang Pencipta alam dengan segala isinya.
Dalam sejarah perkembangan manusia jelas terlihat perbedaan cara pendekatan terhadap alam. Pada mulanya bisa dikatakan manusia sepenuhnya tergantung pada alam sekitarnya untuk hidup bahkan tidak jarang manusia terpaksa men akui keterbatasan, seperti misalnya terjadi gangguan-gangguan dari alam. Seolah-olah alam punya hukumnya sendiri yang tidak dimengerti oleh manusia. Namun lama kelamaan manusia karena manusia mempunyai intelegensi, maka manusia mengambil jarak dari alam dan mempelajari alam semesta ini. Sehingga lambat laun alam mulai dikenal manusia dan kemudian dimanfaatkan demi kelestariannya.

5.3. Lingkungan Hidup alami, Lingkungan Binaan / Buatan dan Lingkungan Sosial
Pada waktu manusia diciptakan oteh Maha Pencipta sebagai satu diantara, makhluk hidup lainnya dialam ini, maka habitat hidupnya masih bersifat alamiah, sama dengan makhluk hiduplainnya. Seturuh interaksi masih diatur oleh proses-proses homeostasis sehingga berbagai kegiatan manusia dalam mendinamisasi keseimbangan alam masih dapat diabsorbsi oleh sistem kelentingan yang 'fail-safe". Pada saat itu seluruh kehidupan berlangsung secara seimbang dalam habitat alamiah. Seluruh jenis makhluk hidup dari dulu sampai saat ini selalu membina hubungan yang sangat erat dengan habitat (tempat tinggal). bahkan dengan relungnya (tempat berfungsinya). Seperti misalnya habitat ikan adalah air, yang dengan insang untuk bernafas dan sirip untuk bergerak, dan hubungannya dengan air sangat erat, dan bila dipisahkan dengan air maka ikan akan mati.
Oleh karena itu apabila habitatnya rusak (baik karena alam maupun oleh manusia), maka punahlah makhluk hidup itu. Sebaliknya secara fisik manusia adalah jenis makhiuk liidup yang paling lemah dan paling labil hubungannya dcngan lingkungan. Namun topangan kemampuan berpikir manusia inilah yang memberl kebebasan untuk menentukan berbagai pilihan terhadap lingkungan. Sehingga terciptalah oleh akal pikiran manusia habitat dan relung yang bersifat buatan (man-made habitat). Jadi dari kehidupan yang bermula di gua-gua, manusia mencatat sejarah sebagai pengubah habitatnya secara drastis dengan habitat pencakar langit , terowongan dibawah laut, satelit diangkasa luar dan seterusnya.
Sehingga keadaan ini ditinjau dari sudut lingkungan, kebudayaan manusia adalah latar belakang dan perwujudan dari upayanya untuk mengubah lingkungan alam (ekosistem) menjadi lingkungan-lingkungan buatan atau binaan manusia. Kehadiran lingkutigan hidup buatan ini mematahkan keseimbangan, keselarasan, dan kelestarian, yang semulanya terdapat dalam lingkungan alam. Hukum yang terdapat di alam mulai terganggu, yang menghilangkan hakekat pokok kehidupan yang saling tergantung, dan terikat.
Sementara itu dalam tata pergaulan sesamanya, manusia juga mengembangkan tatanan dan norma-norma sosial yang turut menentukan tingkah laku dan kegiatan manusia secara keseluruhan. Sehingga terciptalah lingkungan hidup sosial dalam lingkungan hidup manusia. Bagaimana hubungan dan keterkaitan antara lingkungan hidup alami, lingkungan hidup binaan / buatan, dan lingkungan hidup sosial dalam lingkungan manusia.
Manusia memang punya hak asasi manusia (human right), yang berhak untuk melakukan apa yang dikehendakinya. Namun kehendaknya itu bukan tidak ada batasnya, sebab manusia adalah bagian dari alam, dan tunduk pula pada hukum alam. Sedang alam mempunyai hak supra-alami (supra right of nature), yang harus kita tempatkan lebih tinggi diatas hak asasi manusia, apabila kehidupan dan kesejahteraan manusia memang akan diupayakan untuk berlangsung secara baik, sehat dan berlanjut. Kebudayaan manusia masih terus dapat merubah wajah dan perwujudan bumi ini sejauh yang dimungkinkan oleh dukungan lingkungan hidup alami dan lingkungan hidup sosial. Ini berarti bahwa segala kegiatan manusia / pembangunan, harus juga tetap menjaga tatanan sosialnya agar tetap memberikan peluang kesempatan pemerataan perolehan dalam tatanan lingkungan hidup.
Diskusi / Pertanyaan :
1. Gambarkan dalam suatu lingkungan hidup yang merupakan kesatuan yang selaras dan seimbang.
2. Jelaskan bagaimana manusia harus bersikap imanen sebagai bagian terpadu dari lingkungan.
3. Jelaskan pula bagaimana manusia harus bersikap transenden dalam tanggung jawabnya terhadap lingkungan.
4. Uraikan peiigelolaan Iingkungan yang ditujukan kepada diri manusia agar perubahan kualitas lingkungan (sumber daya) masih dalam ambang batas yang disepakati.
Referensi:
1. Levine. N.D. (ed), 1975. "Human Ecology" Duxbury Press, Mass. USA.
2. Soerjani. M. 1983. "Ekologi Manusia", PPSML - UI, Jakarta.
3. Zein. M.T. (ed), 1979, "Menuju, Kelestarian Lingkungan Hidup" Gramedia, Jakarta.


• Information System ITS ® 2004 •
• Best view 800x600 or higher •
• Contact : kamui_02@si.its-sby.edu •

Ekosentrisme

Wednesday, November 05, 2008
EKOSENTRISME
Oleh: Wilson M.A. Therik
Pengertian
Ekosentrisme merupakan kelanjutan dari teori etika lingkungan biosentrisme (teori ini menganggap setiap kehidupan dan makhluk hidup mempunyai nilai dan berharga pada dirinya sendiri). Sebagai kelanjutan, ekosentrisme sering disamakan begitu saja dengan biosentrisme, karena adanya banyak kesamaan di antara kedua teori ini. Kedua teori ini mendobrak cara pandang antroposentrisme (teori etika lingkungan yang memandang manusia sebagai pusat dari sistem alam semesta) yang membatasi keberlakuan etika hanya pada komunitas manusia. Keduanya memperluas keberlakuan etika untuk mencakup komunitas yang lebih luas. Pada biosentrisme, etika diperluas iuntuk mencakup komunitas biosentrisme. Sementara pada ekosentrisme etika diperluas untuk mencakup komunitas ekologis seluruhnya.
Jadi berbeda dengan biosentrisme yang hanya memusatkan etika pada biosentrisme, pada kehidupan seluruhnya, ekosentrisme justru memusatkan etika pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup maupun yang tidak. Secara ekologis, makhluk hidup dan benda-benda abiotis lainnya saling terkait satu sama lain.
Ekosentrisme
Salah satu versi teori ekosentrisme ini adalah teori etika lingkungan yang sekarang ini populer di kenal sebagai Deep Ecology (DE). DE menuntut suatu etika baru yang tidak berpusat pada manusia, tetapi berpusat pada makhluk hidup seluruhnya dalam kaitan dengan upaya mengatasi persoalan lingkungan hidup. DE tidak mengubah sama sekali hubungan antara manusia dengan manusia. Yang baru dari DE adalah, pertama, manusia dan kepentingannya bukan lagi ukuran bagi segala sesuatu yang lain. Manusia bukan lagi pusat dari dunia moral. DE justru memusatkan perhatian kepada semua spesies termasuk spesies bukan manusia. Singkatnya, biosphere seluruhnya. Demikian pula, DE tidak hanya memusatkan perhatian pada kepentingan jangka pendek, tetapi jangka panjang. Maka, prinsip moral yang dikembangkan DE menyangkut kepentingan seluruh komunitas ekologis.
Kedua, bahwa etika lingkungan hidup yang dikembangkan DE dirancang sebagai sebuah etika praktis, sebagai sebuah gerakan. Artinya, prinsip-prinsip moral etika lingkungan harus diterjemahkan dalam aksi nyata dan konkret. DE menyangkut suatu gerakan yang jauh lebih dalam dan komprehensif dari sekedar sesuatu yang instrumental dan ekspresionis sebagaimana ditemukan pada antroposentrisme dan biosentrisme. DE menuntut suatu pemahaman yang baru tentang relasi etis yang ada dalam semesta ini disertai adanya prinsip-prinsip baru sejalan dengan relasi etis baru tersebut, yang kemudian diterjemahkan dalam gerakan atau aksi nyata di lapangan.
Ekosentrisme dan Pembangunan Berwawasan Lingkungan
Hakekat pembangunan adalah pembangunan Manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh Masyarakat Indonesia. Ini berarti bahwa pembangunan mencakup: pertama, kemajuan lahiriah seperti pangan, sandang, perumahan, dan lain-lain; kedua, kemajuan batiniah seperti pendidikan, rasa aman, rasa keadilan, rasa sehat; dan ketiga, kemajuan yang meliputi seluruh rakyat sebagaimana tercermin dalam perbaikan hidup berkeadilan sosial. Karena luasnya ruang lingkup pembangunan, maka uraian pada bagian ini lebih memberat kepada ekosentrisme dan pembangunan berwawasan lingkungan (termasuk sumber alam).
Jika lingkungan Indonesia sekarang dibandingkan dengan 30 Tahun yang lalu, secara terasa ada perbedaan menyolok. Pembangunan telah membawa kemajuan besar. Di samping itu terjadi juga perubahan lingkungan. 1) Kota dan desa lebih padat dan kotor; 2) mobil dan sepeda motor lebih banyak dan lebih bising; 3) pohon rindang dan kicauan burung sudah berkurang; 4) hutan semakin sempit dan gunung-bukit semakin gundul; 5) tanah kering beralang-alang semakin luas; 6) musim kemarau lebih panas dan musim hujan lebih banyak banjir sehingga hati terasa senang bercampur cemas. Hati senang melihat pembangunan membawa kemajuan. Tapi hati cemas melihat lingkungan hidup terganggu.
Bagaimanakah menjelaskan perkembangan ini, dan apakah yang bisa diperbuat untuk mengatasinya? Berbagai gangguan lingkungan hidup ini mempunyai satu ciri sama, yaitu bahwa manusialah penyebab utama timbulnya bencana ini. Sungai, gunung, harimau, gajah, ikan dan lain-lain isi lingkungan alam, sudah lama berkelanjutan (sustainable) tanpa gangguan yang berarti. Namun setelah manusia muncul mengolah sumber alam tanpa mengendalikan pengaruh negatifnya kepada lingkungan sehingga merusak alam dan mengusik lingkungan pemukiman binatang maka alam bereaksi kembali.
Masalah sekarang ialah, bagaimana menumbuhkan kesadaran lingkungan manusia supaya pengolahan sumber alam bagi pembangunan dapat dilakukan sejalan dengan pengembangan lingkungan, bagaimana menyebarluaskan penghayatan dan penglibatan manusia pada proses pembangunan tanpa kerusakan lingkungan. Dan bagaimana menumbuhkan di kalangan masyarakat lua penglihatan dan orientasi pembangunan dengan pengembangan lingkungan. Untuk itu perlu ditelusuri pokok-pokok masalah lingkungan untuk kemudian menjajaki kemungkinan peran serta masyarakat umum dalam menanggapi masalah lingkungan ini. Teori ekosentrisme (DE) adalah salah satu jawaban.
Ada beberapa prinsip yang dianut oleh DE, antara lain adalah biospheric egalitarianism – in principle, yaitu pengakuan bahwa semua organisme dan makhluk hidup adalah anggota yang sama statusnya dari suatu keseluruhan yang terkait sehingga mempunyai martabat yang sama. Pengakuan ini menunjukan adanya sikap hormat terhadap semua cara dan bentuk kehidupan alam semesta. Ini menyangkut suatu pengakuan dan penghargaan terhadap “hak yang sama untuk hidup dan berkembang”, yang tidak hanya berlaku bagi semua makhluk hayati tetapi juga bagi yang non-hayati.
Dengan prinsip ini sekaligus mau dikatakan bahwa nilai sebuah benda di alam semesta ini tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan atau kepentingan manusia. Prinsip ini mengacu pada pengakuan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini harus dihargai karena mempunyai nilai pada dirinya sendiri. Manusia hanya salah satu bentuk kehidupan yang pada prinsipnya sama kedudukannya dalam tatanan ekologis dengan semua bentuk kehidupan lain. Bahwa semua bentuk kehidupan mempunyai keunikan sendiri-sendiri termasuk manusia itu justru memperkaya kehidupan dan bukan dimaksudkan yang satu lebih tinggi dan bernilai sehingga mendominasi yang lain.
Kesimpulan
Etika dan gerakan lingkungan yang ditawarkan oleh Teori Ekosentrisme memang menarik. Harus kita akui bahwa ini tidak mudah, karena menyangkut pekerjaan besar mengubah mental dan perilaku individu dan juga masyarakat dunia. Yang dihadapi adalah tembok kecenderungan materialisme dengan pola produksi dan konsumsi yang sedemikian eksesif. Ideologi developmentalisme begitu kuat berurat berakar, tidak hanya dalam pemikiran dan cara berpikir ekonom, termasuk ekonom Indonesia yang begitu menentukan seluruh kebijakan pembangunan di negara ini, melainkan juga tertanam kuat dan merasuki mental dan gaya hidup masyarakat modern. Susahnya lagi, ideologi dan gaya hidup developmentalisme di negara-negara maju justru ditiru begitu saja oleh negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia, karena dianggap sebagai satu-satunya cara untuk mengejar ketertingalannya dari negara maju. Atau, paling kurang untuk membebaskan masyarakat dari segala bentuk keterbelakangan.
Dengan ini saya ingin mengatakan bahwa tantangan kita untuk menyelematkan lingkungan masih sangat besar. Masih membutuhkan energi dan waktu yang lama. Mengubah gaya hidup dan perilaku manusia membutuhkan waktu yang lama. Sementara itu, kerusakan lingkungan terjadi terjadi dengan laju yang semakin cepat. Maka, hanya ada dua pilihan: kita dan anak cucu kita akan hancur, atau kita berubah sekarang ini juga. Dengan demikian DE menjadi sebuah alternatif yang menarik. Suatu alternatif untuk melakukan gerakan penyelamatan lingkungan secara bersama-sama dengan mengubah cara berpikir, gaya hidup dan perilaku individu, masyarakat dan kebijakan politik dan ekonomi.
Tulisan ini merupakan tugas matakuliah Filsafat Pembangunan Berkelanjutan yang diasuh oleh Prof.Dr.Ir. Liek Wilardjo, M.Sc,Ph.D,D.Sc pada Program Studi Doktor Studi Pembangunan, Program Pascasarjana-Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga

Senin, 04 Mei 2009

wanita terbayang bukan manusia

Thursday, 30 April 2009 13:16
Pakar AS meneliti pria yang melihat wanita berbusana seronok. Hasilnya, wanita terbayang bukan manusia

Hidayatullah.com--Masih perlukah aturan khusus berpakaian atau menutup aurat bagi pria dan wanita di zaman semodern dan sebebas seperti sekarang ini? Tampaknya temuan ilmiah terbaru memberikan masukan penting guna menjawab pertanyaan tersebut.
Temuan ilmiah terkini menghasilkan penjelasan mengejutkan seputar wanita berpakaian hampir telanjang yang dilihat oleh kaum pria. Dalam otak lelaki yang memandangnya, gambaran kaum hawa berbikini, yang mengenakan baju mandi nyaris telanjang, dikenali bukan lagi sebagai manusia. Tapi mereka dianggap sebagai barang atau benda untuk dipergunakan. Demikian hasil kajian ilmiah terkini tentang perilaku kaum pria.
Penelitian ini didasarkan pada pengamatan citra atau gambaran otak dengan menggunakan teknik “MRI brain scan”, yakni pemindaian otak melalui pencitraan resonansi magnetis. Ketika otak kaum lelaki yang sedang memandang gambar-gambar wanita nyaris tak berbusana dipindai, maka bagian otak tertentu ditemukan menyala terang. Bagian otak ini berhubungan dengan kegiatan menggunakan alat atau perkakas, misalnya obeng.
Wanita tidak berotak
"Saya tidak berkata bahwa mereka secara harafiah berpikir, foto-foto wanita ini adalah foto-foto perkakas dalam arti sesungguhnya, atau foto-foto bukan-manusia, tapi apa yang dimungkinkan oleh data pencitraan otak ini adalah, kita melihatnya sebagai kiasan ilmiah. Yakni, mereka memberikan tanggapan terhadap foto-foto ini, sebagaimana orang memberikan tanggapan terhadap barang," papar Fiske, yang menyabet gelar PhD dari Harvard University di tahun 1978.
Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan redaksi hidayatullah.com, temuan ini juga mengungkap bahwa kaum pria lebih cenderung mengaitkan gambar-gambar perangsang birahi itu dengan kata-kata kerja orang pertama, seperti “Saya dorong, saya dekap, saya pegang.” Yang mengejutkan, sebagian lelaki yang diteliti tampak tidak menampakkan aktivitas pada bagian otak,yang biasanya memperlihatkan tanggapan ketika seseorang memikirkan maksud orang lain yang dilihatnya.
Apa arti temuan ini? Ini maknanya bahwa para lelaki tersebut memandang wanita itu sebagai sesuatu yang membangkitkan nafsu birahi, tapi mereka tidak mempedulikan apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Hal ini sungguh aneh karena hampir tak pernah terjadi. Demikian dituturkan Susan Fiske, profesor psikologi di Princeton University, AS. Laporan ini disampaikan di Chicago baru-baru ini dalam rangka pertemuan tahunan lembaga ilmiah bergengsi AS, American Association for the Advancement of Science.
Fiske dan rekan-rekannya melibatkan 21 pria bukan homoseksual dalam penelitiannya. Setelah diberi sejumlah pertanyaan tertentu untuk dijawab, mereka lantas dipertontonkan gambar-gambar pria dan wanita, baik yang berpakaian minim maupun berbusana penuh. Hasilnya, sebagian besar mereka memiliki daya ingat paling kuat terhadap foto-foto wanita yang berbikini, alias nyaris tanpa busana, meski wanita dalam foto-foto itu tanpa kepala, dan mereka melihatnya hanya selama seperlima detik.
"...daya ingat ini terkait dengan pengaktifan pada bagian otak pra-motor, yang memiliki kehendak bertindak terhadap sesuatu. Jadi seolah mereka dengan seketika berpikir bagaimana mereka bisa memperlakukan tubuh-tubuh ini,” ujar Fiske.
Bukan manusia
Secara khusus lagi, terdapat temuan menarik pada kaum pria yang memiliki kecenderungan tinggi berpraduga tertentu terhadap kaum hawa - yakni bahwa wanita menguasai dan menjarah wilayah kaum pria. Pada otak jenis pria yang berpandangan seperti ini, tidak didapati bukti aktivitas otak yang memperlihatkan bahwa mereka melihat wanita nyaris telanjang sebagai manusia yang memiliki pikiran dan kehendak.
"Mereka bereaksi terhadap wanita-wanita ini seolah mereka (wanita itu) bukan sepenuhnya manusia," tutur Fiske.
Hasil kajian ini masih dalam tahap awal. Fiske berniat meneruskan penelitiannya itu dengan melibatkan jumlah orang yang lebih besar.
Meskipun begitu Fiske menyimpulkan, "...temuan-temuan ini semuanya cocok dengan pendapat bahwa mereka menanggapi foto-foto ini seperti mereka memberikan tanggapan terhadap barang (benda) dan bukan terhadap manusia yang memiliki kehendak (kuasa) mandiri." [ah/ng/sciam/guardian/www.hidayatullah.com]


Sumber:
1). Christine Dell'Amore (2009) “Bikinis Make Men See Women as Objects, Scans Confirm”, National Geographic News, 16 Feb. 2009. (http://news.nationalgeographic.com/news/2009/02/090216-bikinis-women-men-objects.html , dikunjungi pada 25 April 2009)
2). Christie Nicholson (2009) “Women as Sex Objects” , Scientific American, 17 Feb. 2009. (http://www.sciam.com/podcast/episode.cfm?id=84F4BA3B-A506-BB88-CE97C91970A5C9A8 , dikunjungi pada 25 April 2009)
3). Ian Sample (2009) “Sex objects: Pictures shift men's view of women”, The Guardian, 16 Feb. 2009. (http://www.guardian.co.uk/science/2009/feb/16/sex-object-photograph , dikunjungi pada 25 April 2009)
4). Susan Fiske, Department of Psychology, Princeton University. (http://weblamp.princeton.edu/~psych/psychology/research/fiske/index.php , dikunjungi pada 25 April 2009).

Sabtu, 02 Mei 2009

Apa itu Tsunami

Apa Itu Tsunami ?
Tsunami berasal dari kata :

Tsu = Pelabuhan

Nami = Gelombang
Menjadi bagian bahasa dunia, setelah gempa besar 15 Juni 1896, yang menimbulkan tsunami besar melanda kota pelabuhan Sanriku (JEPANG) dan menewaskan 22.000 orang serta merusak pantai timur Honshu sepanjang 280 km.

Tsunami adalah gelombang laut yang disebabkan oleh gempabumi , tanah longsor atau letusan gunung berapi yang terjadi di laut. Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan ratusan kilometer per jam di lautan dalam dan dapat melanda daratan dengan ketinggian gelombang mencapai 30 m atau lebih. Magnitudo Tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar antara 1,5-4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang Tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4 - 24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai.

Berdasarkan Katalog gempa (1629 - 2002) di Indonesia pernah terjadi Tsunami sebanyak 109 kali , yakni 1 kali akibat longsoran (landslide), 9 kali akibat gunung berapi dan 98 kali akibat gempabumi tektonik.
Gempa yang menimbulkan tsunami sebagian besar berupa gempa yang mempunyai mekanisme fokus dengan komponen dip-slip, yang terbanyak adalah tipe thrust (Flores 1992) dan sebagian kecil tipe normal (Sumba 1977).Gempa dengan mekanisme fokus strike slip kecil sekali kemungkinan untuk menimbulkan tsunami.

Tanda-tanda akan datangnya tsunami di daerah pinggir pantai adalah :
1. Air laut yang surut secara tiba-tiba.
2. Bau asin yang sangat menyengat.
3. Dari kejauhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat keras.
Tsunami terjadi jika :
• Gempa besar dengan kekuatan gempa > 6.3 SR
• Lokasi pusat gempa di laut
• Kedalaman dangkal < 40 Km
• Terjadi deformasi vertikal dasar laut
Potensi Tsunami di Indonesia :

Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap tsunami, terutama kepulauan yang berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng, antara lain Barat Sumatera, Selatan Jawa, Nusa Tenggara, Utara Papua, Sulawesi dan Maluku, serta Timur Kalimantan
Tsunami di Indonesia pada umumnya adalah tsunami lokal, dimana waktu antara terjadinya gempabumi dan datangnya gelombang tsunami antara 20 s/d 30 menit

.: 12/10/2007 2:29:44 PM :: Akbar :.

Jumat, 01 Mei 2009

Mengapa Gunung Api Meletus Sangat Berbahaya

Mengapa Gunung Api Meletuas Sangat Berbahaya
Gunung berapi yang sedang meletus sangat berbahaya Karena mengeluarkan bahan-bahan sebagai berikut :
1. Awan Emulsi, yaitu awan yang sangat panas sekali. Awan emulsi ada yang langsung keluar dari kepundan gunung api atau dari lava yang mengalir. Suhunya mencapai sekitar 200 derajat celicius
2. Banjir lava, lava dengan temperature tinggi yang mengalir dari puncak gunung sehingga apa saja yang dilaluinya menjadi hancur dan meleleh.
3. Banjir lahar, ada dua macam, yaitu : lahar panas dan lahar dingin. Yang dimaksud lahar panas adalah berupa aliran air panas dngan lumpur yang dimuntahkan dari kepundan. Lahar dingin, berupa aliran air dingin dengan lumpur yang terjadi karena air hujan lebat di sekitar puncak setelah terjadi letusan gunung api. Lahar dingin dapat merusak tanah pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan serta permukiman penduduk, sebab tetimbunj oleh lahar dingin.
4. Gelombang pasang, hal ini dapat terjadi apabila gunung api tersebut terdapat di dasar laut. Akibat dari hentakan yang sangat kuat dari dasar laut dapat menyebabkan hentakan air laut dan menimbulkan gelombang laut.
Beberapa usaha untuk mengurangi akibat dari bahaya letusan gunung api, anatar lain :
1) Mendirikan dan memfungsikan pos-pos pengamatan gunung api
2) Memfungsikan Sistem informasi geografi
3) Memasang sensor Gunung api
4) Membuat terongan-terowongan air pada kepundan yang berdanau
5) Mengungsikan penduduk dan ternak yang bertempat tinggal di lereng-lereng gunung api yang akan meletus
6) Memfungsikan dan memberdayakan penduduk di sekitar gunung api, untuk segera melapor kejadia-kejadi awal terjadinya letusan gunung api
Selain mempunyai bahaya ternyata ada beberapa manfaat adanya gunung api, antara lain
:
1) Menjadi darah perangkap atau penangkap hujan
2) Memperluas daepertanian karena semburan dari abu vulkanik
3) Menyuburkan tanah, karena abu vulkanis yang sudah mengalami pelapukan banyak mengandung garam-garam dan mineral batuan yang sangat dibutuhkan oleh tanaman atau tumbuhan
4) Memperbanyak jenis tanaman budi daya (tanaman perkebunan), karena adanya bermacam-macam zona tumbuh-tumbuhan
5) Menjadi tempat wisata dan sanatorium, kerna udaranya yang sejuk dan menyegarkan serta sedikit sekali polusinya
6) Menyebabkan letak mineral dekat dengan permukaan tanah

Sabtu, 25 April 2009

melaknat

Melaknat
Jauhilah sifat melaknat, apalagi kita bangsa Indonesia baru saja melaksanakan Pemilihan umum untuk menentukan anggota Legislatif atau terkenal dengan istilah PILEG (pemilihan legislatif). Kita tak boleh melaknat terhadap binatang, benda apalagi terhadap manusia, sebab semua itu termasuk dalam sifat tercela yang timbulnya dari lidah. “ sesungguhnya tukang laknat itu tidak akan jadi ahli syafaat dan tidak jadi saksi –saksi pada hari kiamat”. (HR. Muslim)
Tukang laknat tidak akan bias diambil syafaatnya dan tidak mendapatkan syfaat pada hari kiamat nanti. Juga tidak bisa dijadikan saksi, saksi di dunia dan akhirat, sebab tukang laknat tergolong fasik dan meremehkan agama. “orang mukmin itu bukanlah seorang yang tukang malaknati” (HR. Imam Tirmidzi).
Yang dimaksud melaknati ialah mengatakan bahwa seseorang yang dituju itu benar-benar diusir, dienyahkan dan dijauhkan dari rahmat Allah. Menetapkan pelaknatan kepada seseorang itu sama memiliki sifat atau melakukan sesuatu perbuatan yang nyata-nyata dapat menjauhkan dirinya dari Allah Azza Wa Jalla yaitu melakukan kekafiran dan kezaliman. Melaknati seseorang fasik yang tertentu adalah berbahaya juga, maka dari itu sebaiknya kita bindari saja serta janganlah dijadikan sifat pada diri anda, sekalipun dalam melaknatinya itu setelah ia meninggal dunia, bahkan bahaya itu akan bias lebih hebat lagi, sekiranya dengan demikian akan menyakiti perasaan orang-orang yang masih hidup seperti keluarganya, keturunannnya dan lain-lain sebagainya.
“Janganlah memaki-maki orang yang telah mati karena akan menyakiti orang-orang yang masih hidup” (HR. Tirmidzi). Hampir serupa dengan pengertian melaknati itu ialah mendokan seseorang dengan doa yang buruk dan sekalipun yang didoakan itu nyata-nyata seorang yang zalim. Cara berdoa yang demikian ini adalah tercela sekali. “sesungguhnya orang-orang yang dianiaya itu niscaya mendo’akan kepada seorang penganiaya, sehingga ia akan dipenuhi dosanya” (HR. Tirmidzi).
Sifat-sifat yang membawa kepada kutukan itu ada tiga :
1. Kufur
2. Bid’ah dan
3. Fasik
Dan untuk kutukan/laknat pada masing-masing yang tiga kali, ada tiga tingkat :
Tingkat pertama : kutukan dengan sifat yang lebih umum, seperti : “kutukan Allah atas orang-orang pembuat bid’ah dan orang-orang fasik”
Tingkat kedua : kutukan dengan sifat-sifat yang lebih khusus, seperti : “ Kutukan Allah atas orang-orang Yahudi, Nasrani, majusi. Atau atas orang-orang pezina, orang-orang zalim dan pemakan riba”. Dan setiap yang demikian boleh. Akan tetapi pada mengutuk sifat-sifat orang yang berbuat bid’ah itu berbahaya. Karena mengenai bid’ah itu sulit.
Tingkat ketiga: kutukan bagi orang tertentu. Dan hal ini sangat berbahaya, seperti engkau katakana : si Fulan yang dikutuk oleh Allah. Dia itu kafir dan fasik atau pembuat bid’ah.
Jelasnya, mengenai hal tersebut di atas, ialah bahwa tiap-tiap orang yang etlah tegas terkutuknya dalam agama, maka bolehlah mengutukinya. Seperti engakau katakan :
‘ Fir’aun yang dikutuk oleh Allah. Dan Abu Jahal yang dilaknat oleh Allah”. Oelh karena tegas dan jelas, bahwa mereka itu mati dan kekufuran. Dan yang demikian itu telah diketahui oleh agama atau sudah ada pernyataan dalam agama.

Pemanfaatan dan Pelestarian Perairan Laut

Pemanfaatan dan Pelestarian Perairan Laut
Manfaat wilayah perairan laut dalam kaitannya dengan kehidupan manusia dan makhluk lain dapat di rinci secara sederhana di bawah ini :
1. Sebagai pembangkit tenaga, Arus laut dapat meringankan tenaga perahu. Dengan adanya arus perahu dapat meluncur dengan tidak usah mengeluarkan tenaga. Selain itu gerak pasang surut air laut juga dapat menimbulkan gelombang, perbandingan antara puncak gelombang dan lembah gelombang dapat digunaka untuk memompa air lau ke bak penampung selanjutnya dari bak penampung dapat digunakan untuk menggerakkan turbin.
2. Sebagai lahan perikanan, hasil tangkapan dan budidaya laut dapat memberi kehidupan kepada para nelayan atau masyarakat pesisir. Berbagai jenis ikan, kerang, kepiting, tiram, rumput laut, penyu dan sebagainya.
3. Sebagai prasarana perhubungan dan pengangkutan, laut merupakan prasarana lalulintas air yang sangat murah, karena hampir tidak diperlukan biaya pembuatan dan pemeliharaan.
4. Sebagai tempat rekreasi, Pantai Teleng, Pantai Ria Pacitan, Parangtritis, Ancol, Bunaken dan lain sebagainya.
5. Sebagai pertahanan dan keamanan, laut merupakan tempat pertahanan dan keamanan, kapal laut dapat menjaga keamanan dan dan pertahanan suatu wilayah Negara.
6. Sebagai pengatur iklim, perbedaan sifat fisik air laut dansifat fisik daratan dapat menimbulkan gerakan udara atau di sebut dengan angin. Bersama-sama dengan angin tersebut, makauap air laut terbawa dan dapat menyejukkan atau memanaskan tempat yang dilalui serta dapat menimbulkan turunnya hujan.
7. Sebagai lahan pertanian laut (revolusi biru), permukaan laut jauh lebih luas daripada daratan, sehingga produksi bahan pangan dan pertanian nabati dari laut dapat berproduksi lebih banyak lagi. Pada saat ini sedang dikembangkan rumput laut dan spesies plankton yang unggul dan cocok untuk dibudidayakan dalam pertanian laut.
Pedoman Pelestarian Laut menurut Konferensi Hukum Laut 1984
1. Dalam memanfaatkan sumber daya laut harus diperhitungkan proses pengembangan alam agar sumber daya laut tidak habis
2. Vitalitas sumber daya samudera harus dilestarikan
3. Pengetahuan mengenai kehidupan di laut harus ditingkatkan
4. Kebijaksanaan samudera harus meliputi dunia
5. Kebijaksanaan samudera harus mencakup semua system air tawar, atmosfer, dan samudera.
6. Lalulintas samudera harus aman dan tertib.
7. Harus dibentuk satu otorita saumudera dunia
8. Samudera harus digunakan untuk perdamaian bukan untuk perang
9. Semua Negara harus memikul tanggungjawab menjadi penjaga, pengelola, sumber daya bahan mineral, ikan dan lainsebagainya atas perairan lepas pantai sampai 200 mil yang telah ditetapkan.

Jumat, 24 April 2009

Manusia dan Air

Manusia dan Air
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT. Yang paling sempurna, mengapa paling sempurna ? karena manusia dilengkapi oleh sang pencipta dengan cipta, rasa dan karsa serta akal dan pikiran. Menurut para ahli biologi, tubuh manusia di dominasi oleh zat cair yang di dominasi oleh unsur air.
Sejauh manakah air mempengaruhi kehidupan manusia ? mari kita tengok sejarah penciptaan manusia. Manusia pertama kali diciptakan oleh sang Kholiq dari segumpal tanah yang dibentuk sedemikian rupa (berbentuk manusia) dan ditiupkan Ruh suci dari yang Maha Kuasa, serta dibekali akal pikiran, bukan hanya sekedaqr otak saja.
Tanah dapat dibentuk jikalau ada unsur air didalamnya. Ingat tanah menurut ilmu tanah terbentuk dari batuan yang lapuk dan terdapat unsur-unsur haranya. Pelapukan batuan hanya dapat terjadi jikalau ada unsur air di dalamnya sebagai zat pelarut utama. Dalam hal ini air berperan penting sekali. Perhatikan skema sederhana berikut ini.
Batuan +air  larut tanah .
Tanah + air  Zat-zat organic  tanah yang siap ditumbuhi tanamanan
Sekarang mari kita kaji secara singkat peranan air terhadap manusia secara umum :
1. Tubuh manusia sebagian besar terdiri dari zat cair
2. Zat cair sebagian besar berasal dari unsur air
3. Air di dalam tubuh manusia mempunyai peran penting, diantaranya adalah untuk proses metabolism
4. Air di dalam tubuh manusia berperan untuk mepertahankan kondisi / suhu tubuh
5. Air yang ada di dalam tubuh manusia berfungsi untuk menjaga kelembaban dan kelancaran proses metabolism.
Kelembaban dan kelancaran proses metabolism sangat tergantung dengan air dan oksigen.
Apabila di dalam tubuh manusia kekurangan cairan maka akan terjadi hal-hal sebagai berikut :
1. Merasa haus
2. Suhu tubuh meningkat
3. Kerja ginjal dan empedu terganggu
4. Kantong kemih terganggu
5. Saraf terganggu
6. Proses respirasi /pernapasan terganggu
7. Oksigen ke otak tidak lancer
8. Tekanan darah tak stabil
9. Terjadi gangguan kejiwaan/ emotional
Dari uraian di atas maka dapat kita ambil hikmahnya antara lain :
1. Jangan menggunakan air secara berlebihan
2. Jangan menebang pohon secara tak terencana, karena akar pohon dapat menahan dan memproses air menjadi lebih baik bersih dan higienes
3. Jangan mencemari sungai selokan,danau,rawa , situ, laut, dan perairan lainnya
4. Stop penebangan hutan
5. Tumbuhkan dan laksanakan gerakan menanam pohon
6. Tebang pohon dengan cara bijaksana
7. Stop perambahan lahan pertanian, perkebunan, perikanan, dan hutan untuk kegiatan yang sifatnya menghilangkan kawasan tersebut
8. Rawat dan pelihara pusat-pusat mata air
9. Jadikan pusat mata air sebagai daerah / kawasan yang dilindungi.
10. Save our earth

Naik Haji tak Bisa lihat Ka'bah

TUJUH KALI NAIK HAJI TIDAK BISA MELIHAT KA BAH (1)

October 31st, 2008 by salam

Sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya untuk menunaikan rukun Islam yang kelima.

Sarah (juga bukan nama sebenarnya), sang Ibu, tentu senang dengan ajakan anaknya itu. Sebagai muslim yang mampu secara materi, mereka memang berkewajiban menunaikan ibadah Haji.

Segala perlengkapan sudah disiapkan. Singkatnya ibu anak-anak ini akhirnya berangkat ke tanah suci. Kondisi keduanya sehat wal afiat, tak kurang satu apapun. Tiba harinya mereka melakukan thawaf dengan hati dan niat ikhlas menyeru panggilan Allah, Tuhan Semesta Alam. “Labaik allahuma labaik, aku datang memenuhi seruanMu ya Allah”.

Hasan menggandeng ibunya dan berbisik, “Ummi undzur ila Ka’bah (Bu, lihatlah Ka’bah).” Hasan menunjuk kepada bangunan empat persegi berwarna hitam itu. Ibunya yang berjalan di sisi anaknya tak beraksi, ia terdiam. Perempuan itu sama sekali tidak melihat apa yang ditunjukkan oleh anaknya.

Hasan kembali membisiki ibunya. Ia tampak bingung melihat raut wajah ibunya. Di wajah ibunya tampak kebingungan. Ibunya sendiri tak mengerti mengapa ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan. beberapakali ia mengusap-usap matanya, tetapi kembali yang tampak hanyalah kegelapan.

Padahal, tak ada masalah dengan kesehatan matanya. Beberapa menit yang lalu ia masih melihat segalanya dengan jelas, tapi mengapa memasuki Masjidil Haram segalanya menjadi gelap gulita. Tujuh kali Haji Anak yang sholeh itu bersimpuh di hadapan Allah. Ia shalat memohon ampunan-Nya. Hati Hasan begitu sedih. Siapapun yang datang ke Baitullah, mengharap rahmatNYA. Terasa hampa menjadi tamu Allah, tanpa menyaksikan segala kebesaran-Nya, tanpa merasakan kuasa-Nya dan juga rahmat-Nya.

Hasan tidak berkecil hati, mungkin dengan ibadah dan taubatnya yang sungguh-sungguh, Ibundanya akan dapat merasakan anugrah-Nya, dengan menatap Ka’bah, kelak. Anak yang saleh itu berniat akan kmebali membawa ibunya berhaji tahun depan. Ternyata nasib baik belum berpihak kepadanya.

Tahun berikutnya kejadian serupa terulang lagi. Ibunya kembali dibutakan di dekat Ka’bah, sehingga tak dapat menyaksikan bangunan yang merupakan symbol persatuan umat Islam itu. Wanita itu tidak bisa melihat Ka’bah.

Hasan tidak patah arang. Ia kembali membawa ibunya ke tanah suci tahun berikutnya.

Anehnya, ibunya tetap saja tak dapat melihat Ka’bah. Setiap berada di Masjidil Haram, yang tampak di matanya hanyalah gelap dan gelap. Begitulah keganjilan yang terjadi pada diri Sarah. hingga kejadian itu berulang sampai tujuh kali menunaikan ibadah haji.

Rabu, 22 April 2009

Sungai

River
I INTRODUCTION

River, any body of fresh water flowing from an upland source to a large lake or to the sea, fed by such sources as springs and tributary streams. The main parts of a river include a channel, in which the water flows, and a floodplain—a flat region of a valley on either side of the channel. Through the channel and floodplain, water and sediment—material transported by the river, such as sand and silt—are transferred from ridges and mountains to the sea or to a lake. A river starts on hillsides as small channels, or rills. The rills combine to make larger channels or tributaries that eventually come together, forming distinct streams. The largest channels formed by this convergence of tributaries are rivers, and they can carry large quantities of fresh water and sediment across continents.

Large rivers are located on every continent. The longest river on Earth is the Nile River in Africa, with a length of 6,695 km (4,160 mi) from its headwaters in Burundi to its mouth at the Mediterranean Sea. The Nile River basin covers an area of 3,349,000 sq km (1,293,000 sq mi). The Amazon River in South America carries the largest amount of water and runs for a length of 6,400 km (4,000 mi). This single river contributes 20 percent of the river water that flows into the world’s oceans. The Yellow River (or Huang He) in China gets its name from the yellow sediments of the soils of central China, and it carries the largest amount of sediment to the ocean. The Yellow River is the second longest river in China, at 5,500 km (3,400 mi), after the Yangtze, which is 6,300 km (3,900 mi) long.

Since the continents formed millions of years ago, rivers have been important geologic forces as conveyors of water and sediment. The rise of human civilization is intimately linked to rivers for access to drinking water, irrigation, transportation, and fisheries. People have irrevocably altered the landscape by maintaining rivers for navigation, constructing irrigation works, and building dams for hydroelectric power generation. Scientists study river systems as they are important to the flow of fresh water over wide areas of land (and eventually into our homes) and across continents. Rivers are also an important part of sensitive habitats, especially wetlands. The study of rivers is necessary to ensure the protection of ecologically important habitats.

II FORMATION

A river forms in a watershed, a large area of land from which water contributes to only one stream or river. A watershed is bounded by the ridges or hilltops that divide it from adjacent watersheds, or drainage basins. When rain falls onto hillsides or when snow melts, the water runs downhill and accumulates in streams. A tributary stream eventually joins the main river channel at a confluence. The amount of rain or snow that falls in different parts of a watershed controls the size of a river. For example, the watershed of the Amazon River is 6,000,000 sq km (2,300,000 sq mi), the average rainfall is 2,000 mm (80 in) per year, and the average flow rate is 200,000 cubic meters/second (7,100,000 cubic feet/second, or cfs). In comparison, the watershed of the Mississippi River is 3,000,000 sq km (1,200,000 sq mi), half the size of the Amazon’s. However, the flow rate of the Mississippi River—16,800 cu m/second (593,000 cfs)—is only about one-tenth the flow rate of the Amazon, because less rain falls in the Mississippi watershed. The amount of rainwater that falls and the geology of the watershed also control the drainage pattern of the watershed. The most common type of drainage pattern is called dendritic. This pattern looks like the veins of a leaf. Drainage networks connect all of the areas of the watershed of the river.

In very large rivers, the water comes from rain that may have fallen as far as 6,000 km (4,000 mi) away. During the journey through rills and streams, the water’s flow may erode and deposit sediment in the river’s channel and on its floodplain (see Erosion; Deposit). The biggest rivers usually carry the largest amount of sediment. Yet some of the largest rivers may carry very little sediment because the watershed may not have a lot of sediment. A river carries the most sediment when the flow is the highest. When a river experiences high flows, it fills in (floods) the floodplain, a flat region of a valley surrounding the river channel. As the water first reaches the floodplain, it may erode the sediment on the floodplain. As the flood drains from the floodplain, slower-moving water may deposit sediment onto the floodplain, replacing some of the sediment lost.

III FACTORS THAT SHAPE A RIVER

The combination of erosion and sedimentation in a river’s channel and on its floodplain works to produce the characteristic features of that river. The three major influences on patterns of erosion and deposition are geology, the type of sediment that is present, and the amount of water available. From the perspective of geology, generally a river travels through three zones from its headwaters at the top of the watershed to its mouth. The headwater zone in the mountains or hills is where sediment is supplied from hillsides and transported down steep channels with narrow floodplains. In these narrow, steep canyons, the bed of the river may be covered with large boulders as the river passes through many rapids. When the mountains give way to the plains, the steepness of the river channel will decrease from as high as tens of meters per kilometer, a grade of 1 to 10 percent, to less than 1 meter per kilometer. In this middle zone, although the amount of water may increase, the ability of the river to carve into rock and carry sediment decreases because the river channel is less steep. As the flow decreases, so does the power of the river, and the river loses its ability to transport large material. Gradually, the sediment in the river decreases in size from boulders (larger than 256 mm/10 in in diameter) to cobbles (between 64 and 256 mm/ 2.5 and 10 in) to gravel (between 2 and 64 mm/0.08 and 2.5 in). Eventually, as the steepness continues to decrease, the sediment becomes very fine, consisting mostly of sand, silt, and clay. As the river changes in this middle section, the floodplain widens. The third zone of a river is the zone influenced by the ocean or lake where the river ends. The steepness of the river channel in this zone is usually less than 10 centimeters per kilometer, and the sediment is very fine. If enough sediment settles out of the water in the lowest section of the flow, a river may form a delta. A delta differs from a floodplain because in a delta the river splits into many new channels called distributaries. If not enough sediment settles out to form a delta, the river may meet the sea in an estuary. An estuary is usually a wide channel where the fresh water from the river mixes with the salty seawater.

River features are also affected by the flow rate and the size and duration of floods. Some rivers receive rainfall almost every day in at least part of their watershed. Other rivers, such as those in desert regions, receive water only during brief, intense storms that may cause a flash flood (see Flood Control). The melting of snow and glaciers in the spring is a source of water for many rivers. If a river flows year-round, the river is called a perennial river. Usually a slow, steady inflow from groundwater, or water found underground, provides some of the water of a perennial river. If a river flows only during part of the year, the river is called an ephemeral river. An ephemeral river channel may have lots of water flowing though it during the rainy season but be dry as a bone in the late summer.

In the headwater zone of rivers, floods typically last a short time (less than one day) and are very powerful. In the middle zone the duration of floods increases, but the intensity decreases because the area of the floodplain is larger. At the mouth, or delta section of a river, floods can last for several months.

The water flowing in a perennial river may do a great deal of work, eroding and depositing sediment in the channel and floodplain. A perennial flow has enough time and energy to separate the sediment by size. The water moves coarser particles together in areas of the river where the water flows very fast. It deposits these particles sooner than finer particles, which are lighter and can stay suspended in the slower, less powerful flows. In perennial streams, slower flows that occur within the floodplain area (they are slower because the land is not steep here) deposit the finer particles on the floodplain.

In contrast to a perennial river, an ephemeral river may flow for only a few days. Therefore, for most of the year, additional processes may affect the features of the channel and floodplain. These processes include the action of the wind, the burrowing of animals, the growth of vegetation, and the activity of humans. When flow occurs only for short periods, the water may not sort the sediment and may deposit the particles in a mixture ranging in size from coarse to very fine.

IV RIVER PATTERNS

River patterns, or general shapes, depend on the geologic zone and the climate of the location. There are four river patterns: meandering, braided, anastomosing, and straight. A meandering pattern follows a winding, turning course. A braided pattern has connected channels that resemble a hair braid. An anastomosing river pattern combines features of the meandering and braided patterns. Some river patterns are simply straight channels. Meandering and braided are the most common patterns. Braided and straight patterns are usually located in the mountains or hills below the headwater zone of rivers, while meandering and anastomosing patterns are located in the middle and mouth zones of most rivers.

The Mississippi River is a classic example of a meandering river that has looping bends of different sizes along its valley. Each bend is the result of sediment depositing on the inside of the bend. As sediment deposits gradually build up, a point bar forms on the inside of the bend. The point bar pushes the river flow against the outside bank of the bend, eroding the bank opposite the point bar. Eventually the bend becomes so sharp that the river bypasses it, cutting a straighter path. The arc of the bend is left behind as the river moves past. The arc may form an oxbow lake (also called a billabong), a pool of water enclosed by the arc and riverbank. A meandering river’s bed is usually covered with sand, while the floodplain is filled with silt and clay.

Braided rivers look completely different from meandering rivers. They have many channels that are constantly changing position because of frequent changes in flow rate and sediment supply. The channels of a braided river—such as portions of the Platte River that flow through Nebraska—change course frequently, so the river’s water may cover the entire floodplain on a regular basis. The sediments of braided rivers are usually gravel and cobbles. Sometimes a meandering river may change into a braided river in the middle zone if the supply of sediment increases as a result of farming or grazing activities in the watershed.

Anastomosing rivers combine the bends of meandering rivers with the multiple channels of braided rivers. The sediments are typically sand, silt, and clay. Oxbow lakes may be rare. The Amazon River is an example of an anastomosing river.

Straight rivers are not common. They are typically located in canyons in mountainous areas or exist as the result of engineering structures that force a river into a straight course. Portions of both the Columbia River (between Washington and Oregon) and the Colorado River (in the southwestern United States) flow straight through canyons.

V MEASURING RIVERS

Rivers come in many different sizes. Scientists and geographers rank rivers according to their length, flow rate, or sediment supply. Scientists have traditionally considered the Nile River to be the longest river in the world, although in the 1990s some debate arose as to whether the Amazon River is longer, as new satellite maps revealed a small tributary in the Andes Mountains.

The flow rate of a river is the volume of water that passes a section of the river in a unit of time. Scientists calculate flow rate by multiplying the depth of the river by its width and the speed of the flowing water. Flow rate is usually expressed in cubic meters per second or cubic feet per second (cfs).

Flow rate is an important measurement when examining a river’s size. The average flow rate of the Amazon River is about 200,000 cu m/second (7,100,000 cfs). However, during flood levels the discharge of the Amazon increases to nearly 300,000 cu m/second (10,000,000 cfs). For comparison, the average flow rate of the Mississippi River is 16,800 cu m/second (593,000 cfs), and its flood discharge at St. Louis, Missouri, during the floods in the summer of 1993 was 30,000 cu m/second (1,000,000 cfs).

Scientists measure the amount of sediment in a river in two ways: from a boat or by means of a satellite. Using a boat, they collect a water sample and filter the sediment out of the water. Higher concentrations of sediment cause the water to become more turbid, or cloudy. Using images of rivers collected by satellites, scientists can analyze the color of the water for patterns of sediment concentration in the channel and on the floodplain. During floods, small mountain rivers may have sediment concentrations 1,000 times higher than those of large rivers because the small rivers are still in the mountain zone, where the stream is steep and the sediment supply from hillsides is rapid. For example, during the El Niño storms of 1998, the Santa Clara River in California had sediment concentrations of 60 g/liter (0.5 lb/gallon). In contrast, the Amazon River rarely carries more than 0.3 g/liter (0.003 lb/gallon).

VI IMPORTANCE

Rivers are important to humans because they supply fresh drinking water, serve as home for important fisheries, provide transportation routes, and are the source for irrigation water and hydroelectric power. Humans have used rivers since the beginning of civilization. In Asia, people have revered the life-giving importance of rivers for thousands of years. Many ancient temples are located near streams and rivers that needed protection to ensure high-quality water for society. The Chinese written characters for the word politics express the sense of responsibility for waterways—the literal interpretation of the characters includes the meaning of “protection of water.” Many of the ancient, legendary leaders in China were respected because of their ability to control water so that fields could be irrigated and floods prevented. The first great African civilization began along the banks of the Nile around 5000 bc. The agricultural wealth along the valley of the Nile River gave the pharaohs in ancient Egypt their power. Many pyramids and shrines stood along the banks of the Nile.

Other important aspects of rivers are the ecological characteristics of river channels and floodplains. These areas provide a zone between land and water environments. Floodplains and channels are diverse habitats that support the world’s largest wetlands, which are home to innumerable species of plants and animals. Most of the fish that live in rivers use the channel and floodplain, and in some rivers, the deltas and estuaries, during their life cycle.

VII CONSERVATION AND PRESERVATION

There is increasing uncertainty regarding the possible effects of global climate change on worldwide patterns of rainfall and snowfall. Hence, the conservation and preservation of rivers and their corridors have become even more important. Surveys show that the supply of potable, or drinkable, water is poorly distributed around the globe and that the largest unpolluted rivers are far from the centers of densest population. Human use, especially damming and agricultural use, has affected over 77 percent of the annual discharge of the large rivers in the northern third of the world. Many studies show that there are approximately 36,000 dams over 15 m (45 ft) high that, when full, contain 20 percent of the annual runoff—rainfall not absorbed by soil—for the globe. While offering some benefit to humans, these dams have reduced the ability of rivers to transport water and sediment to the ocean. This change affects the ecology of rivers as well as the biology of the oceans receiving the river water. Some of the oldest dams have stopped functioning because their reservoirs have filled with a huge amount of sediment. Dams also block the passage of fish upstream to spawning grounds. Some of these dams are now being removed and their river corridors restored for fisheries and wetlands, but at a tremendous cost.

The Clean Water Act of 1972 passed by the United States Congress and similar laws in other countries have changed the way that pollution is allowed to enter river systems. In the 1960s some rivers were so badly polluted that they actually caught fire and burned, including, in 1969, the Cuyahoga River in Cleveland, Ohio. Today those once-polluted rivers have new parks on their banks. Conservation of rivers is also important in other parts of the world. People in the countries that share the Rhine River watershed in Europe are working together to help salmon return to the river.

See also Dam; Irrigation; River System; Waterpower.


Contributed By:
Leal A. K. Mertes

Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Cairan Bumi

Liquid Outer Core of EarthScientists used waves generated by earthquakes to determine that the outer core of the earth is liquid. Earthquakes generate P-waves and S-waves within the earth. Shadows occur on the opposite side of the earth from the earthquake epicenter because the outer core reflects S-waves, and bends P-waves. S-waves are reflected because they cannot travel through liquids, and they cast a larger shadow than the bent P-waves. Geologists and seismologists determined the size of the outer core by using the 154-degree arc of the S-wave shadow and measurements taken on the surface of the earth.© Microsoft Corporation. All Rights Reserved.
Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.
Earthquake Scales: Modified Mercalli and RichterThe Modified Mercalli and Richter scales are used to rate and compare the intensity of earthquakes. The Modified Mercalli scale is somewhat subjective, because the apparent intensity of an earthquake depends on how far away from its center the observer is located. Rating intensities from I to XII, it describes and rates earthquakes in terms of human reactions and observations. The Richter scale measures the motion of the ground 100 km (60 mi) from the earthquake’s epicenter, or the location on the earth’s surface directly above where the earthquake occurred. The rating scale is logarithmic; each increase of 1 on the scale represents a tenfold increase in the motion of the ground.© Microsoft Corporation. All Rights Reserved.
Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Sejarah tsunami

Historically Significant Tsunamis
Earth movement, especially under the sea, can cause tsunamis, or large sea waves. Tsunamis can travel at very high rates of speed across hundreds of kilometers of ocean. When a tsunami reaches coastal regions, the wave size increases as the wave travels up from the deep ocean to the shallow coastal areas. Historically, tsunamis have caused much property destruction and loss of life.
Major Tsunamis
Date Origin Effects Death Toll
June 7, 1692 Puerto Rico Trench, Caribbean Port Royal, Jamaica, permanently submerged 2,000
1707 Tokaido-Nankaido, Japan 30,000
October 28, 1746 Lima, Peru 3,800
November 1, 1755 Atlantic Ocean Lisbon destroyed 60,000
February 20, 1835 Peru-Chile Trench Concepción, Chile, destroyed Not Known
December 23, 1854 Nankaido, Japan 3,000
August 8, 1868 Peru-Chile Trench Ships washed several miles inland, town of Arica destroyed 10,000 to 15,000
August 27, 1883 Krakatau Devastation in East Indies 36,0001
June 15, 1896 Japan Trench Swept the east coast of Japan, with waves of 100 ft (30.5 m) at Yoshihimama 27,122
September 30, 1899 Banda Sea, Indonesia 3,620
December 28, 1908 Sicily East coast of Sicily, including Messina and toe of Italy, badly damaged 84,000
March 3, 1933 Japan Trench 9,000 houses and 8,000 ships destroyed in Sanriku district, Honshu 3,000
April 1, 1946 Aleutian Trench Damage to Alaska and Hawaii 159
May 22, 1960 South central Chile Coinciding with a week of earthquakes. Damage to Chile and Hawaii 1,500 (61 in Hawaii)
March 27, 1964 Anchorage, Alaska Severe damage to south coast of Alaska 115
August 23, 1976 Celebes Sea Southwest Philippines struck, devastating Alicia, Pagadian, Cotabato, and Davao 8,000
July 12, 1993 Japan Trench Okushiri Island devastated 200
July 17, 1998 Papua New Guinea, Bismarck Sea Arop, Warapu, Sissano, and Malol, Papua New Guinea, devastated 2,200
December 26, 2004 Indian Ocean, near Sumatra, Indonesia Coastal areas of Indonesia, Sri Lanka, India, Thailand, Somalia, Myanmar, Malaysia, and Maldives devastated 250,000
1. 34,000 people died from the tsunami while 2,000 died from fatal burns from the volcanic eruption.


Source: National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA);
United States Geological Survey (USGS).

Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Tsunami

TsunamiA tsunami is a very large sea wave that is generated by a disturbance along the ocean floor. This disturbance can be an earthquake, a landslide, or a volcanic eruption. A tsunami is undetectable far out in the ocean, but once it reaches shallow water, this fast-traveling wave grows very large.© Microsoft Corporation. All Rights Reserved.
Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Epicentrum

Locating EpicentersSeismologists can locate the epicenter of an earthquake by triangulation, a method that involves taking seismographic measurements from at least three separate seismic stations. Seismologists measure the time it takes seismic waves to reach the recording stations, as well as the magnitude of the waves, and triangulate the measurements to calculate the location of the epicenter.© Microsoft Corporation. All Rights Reserved.
Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Iklim dan cuaca

Untuk Belajar dasar dasar iklim dan cuaca, perhatikan hal-hal berikut ini:
1. angka 1 1 3 2
2. angka terakhir 2 diletakkan pada depan angka sehingga
3. menjadi 21 21 23 22
4. selanjutnhya angka keddua terakhir menjadi awal bulan dan kelipatan
5. 21/3 21/6 23/9 22/12
artinya pada tanggal 21 maret matahari tepat di khatulistiwa, pada tanggal 21 juni matahari garis balik utara, 23 / 9 berada di khatulistiwa dan 22 desember berada di balik utara
apa artinya bagi Wilayah Indonesia ?
coba perhatikan lokasi Indonesia diantara du benua dan dua samudera dan hukum Buys ballot pertama dan kedua. serta hukum aliran udara. udara bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. jika daerah itu panas/ terjadi pemanasan berarti mengalami tekanan rendah karena udara memuai

Senin, 20 April 2009

BELAJAR DAB BERDOA

Kepada para siswa SMA BATIK 1 YANG KUSAYANGI,
Mari kita belajar yang lebih rajin dan jangan lupa sholat dan yang lebih penting lagi adalah Berbakti pada orang tua
Patuh pada Rasul
patuh pada Kedua Orang Tua
Patuh Kepada bapak da ibu Guru
Sayangi teman dan saudara
Ingat ingat jangan lupa Untuk sholat

Jumat, 17 April 2009

Persebaran flora dan fauna

Persebaran Flora & Fauna / Hewan & Tumbuhan Di Indonesia - Ilmu Geografi
Sat, 06/09/2008 - 12:19pm — godam64
Indonesia meliliki keanekaragaman flora dan fauna baik di Indonesia bagian barat, tengah dan timur akibat pengaruh keadaan alam, rintangan alam dan pergerakan hewan di alam bebas. Ketiga wilayah di Indonesia memiliki keunikan dan ciri khas keragaman binatang dan tanaman yang ada di alam bebas.
Alfred Russel Wallace dan Max Wilhelm Carl Weber adalah orang-orang yang mengelompokkan tipe flora dan fauna Indonesia ke dalam tiga kelompok, yaitu :
1. Fauna Asiatis
Wilayah = Indonesia bagian barat (sumatera, jawa, kalimantan hingga selat makassar dan selat lombok)
Hewan = badak, harimau, orangutan, gajah, dsb.
2. Fauna Peralihan dan Fauna Asli
Wilayah = Indonesia bagian tengah (sulawesi dan nusa tenggara)
Hewan = Babi rusa, kuskus, burung maleo, kera, dll.
3. Fauna Australis
Wilayah = Indonesia bagian timur (papua)
Binatang = Burung cendrawasih, burung kakatua, kangguru, dsb.
- Dalam peta persebaran flora dan fauna Indonesia :
Antara fauna tipe asiatis dan peralihan terdapat garis wallace.
Antara fauna tipe peralihan dan tipe australis terdapat garis weber.
Kondisi flora dan fauna di setiap daerah dipengaruhi oleh banyak hal seperti :
1. Tinggi rendah dari permukaan laut
2. Jenis tanah
3. Jenis hutan
4. Iklim
5. Pengaruh manusia, dan lain-lain
• Bunda pun ingin bersama mu Nak

Awalnya berniat cuti 1/2 hari buat ngurus SPT pajak , tapi karena baru kelar tengah hari akhirnya kuputuskan untuk cuti full 1 hari. Terlintas di hati pengen ngasih surprise buat Naila, akhirnya dari Kantor Pajak Aku langsung meluncur ke Sekolahnya. Kebetulan hari ini dia ada kursus CaLisTung (Baca-Tulis-Hitung) jadi pulang sekolahnya memang rada siangan dari biasanya. Tepat jam 1 siang Aku sudah ada di depan sekolahnya, dan duduk di tempat para orang tua atau mbak-mbak dan para suster menunggu. Si Mbak yang biasa menunggui Naila sekolah sengaja ku suruh pulang duluan, karena Aku yang akan menjemput Naila.

Pintu lobby sekolah sudah dibuka, satu persatu murid keluar dan menemui penjemput mereka masing-masing. Dari jauh aku melihat Naila, dan langsung mendekatinya. Tampak dia sangat kaget dan berteriak riang,."Bundaaaaaaa...", Naila menghambur menghampiriku.
"eMbun (panggilan Naila untuk Bunda-red), kok nggak kerja?", Naila penasaran.
"iya, kan bunda mau jemput kakak", aku menggodanya sambil berjalan menuju parkiran.
Setiap berpapasan dengan temannya, Naila selalu berkata "ini bundaku" seolah dia ingin memperkenalkan atau memamerkan kepada teman-temannya bahwa hari ini dia pulang bersama Bunda atau kadang dia juga memperkenalkan teman-temannya yang selama ini hanya ku kenal dari cerita dia "Bunda ini Alissya". Waaah, semuanya diluar dugaan....

Sepanjang perjalanan pulang, Naila tak berhenti bicara mulai soal apa yang dialami di sekolah, teman-temanya sampai kesan dia terhadap surprise yang ku buat hari ini

"eMbun, aku seneng deh pulang dijemput Bunda", celotehnya lagi.
"Iya, eMbun juga seneng bisa jemput kakak"
"eMbun, kenapa siy nggak tiap hari aja jemput kakak?", tanyanya lagi
"hhmm...kan bunda harus ke kantor Chant (Chantik -red - panggilan sayangku buat Naila), lagian kan tiap pagi Bunda udah nganterin kamu berangkat ke sekolah jadi pulang sekolahnya sama Mbak" , dengan hati-hati sekali aku berusaha menjelaskan. Tidak mudah memang memberi pengertian soal ini kepada anak yang baru akan berusia 5 tahun.
"eMbun, kakak seneng dech, kalo Bunda nggak kerja, jadi bisa nganterin dan jemput kakak ke sekolah. Kayak maminya Chintya gitu Bun"
gubraaakks....kata-katanya bagai pisau bermata dua yang mengiris hatiku. Kucoba menguasai keadaan dan mulai berbicara dari hati ke hati dengannya
"Chant, bunda juga seneng kl bisa nganter dan jemput kakak tiap hari, tapi kan Bunda harus kerja sayang, buat cari apa ?", ku coba mencairkan suasana agar nggak terlalu melow.
"Uaaaang", Naila menjawab dengan lantang sambil ketawa. Keriangan kembali muncul di wajahnya
"Hayooo, uangnya buat apa?" kucoba mengalihkan pembicaraan
"Buat beli susu kakak, trus buat sekolah kakak trus buat beli hoka-hoka bentooooo..", Suasana kembali ceria.
"Jadi Bunda boleh kerja nggak niih??" tanya ku menggoda
" Boleh deh he..he..he.." Naila nyengiiir

Dalam hati aku bersyukur, anakku bisa memahami kondisi bundanya. Ahhh...seandainya kamu tau apa yang bunda rasakan Nak, sungguh tak ingin sedetik pun Bunda jauh dari mu. Bunda pun memiliki perasaan yang sama dengan mu Nak, ingin kita selalu bersama. Tapi percayalah, saat ini Bunda sedang mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle kehidupan kita yang nantinya akan kita susun menjadi gambaran masa depan yang indah...buat kita.
Semoga..

Dedicated to: all working Mom in the world. Don't be sad, you are a super women .


Cheers,
Bunda Naila
http://bundanaila.blogspot.com/

Rabu, 25 Maret 2009

पेंगंतर पेनेलितियन SOSIAL

PENGANTAR PENELITIAN SOSIAL

A. PENELITIAN SOSIAL
1. PENGERTIAN PENELITIAN SOSIAL
PENELITIAN adalah riset, maksudnya adalah para ahli melakukan penelitian untuk mencari bukti-bukti baru yang dikembangkan menjadi teori untuk memperdalam dan memperluas ilmu tertentu.
Penelitian merupakan suatu upaya sistematis melalui prosedur dan langkah-langkah tertentu untuk mencari jawaban atas suatu masalah. Dalam penelitian sosial, masalah-masalah yang ingin diperoleh jawabannya adalah masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dalam masyarakat.
2. KEGUANAAN PENELITIAN SOSIAL
Menurut Siti Partini (1995:2), secara umum peneliian sosial memiliki kegunaan diantaranya sebagai berikut :
a. Penjajagan (eksploratif)
yaitu berguna untuk mencari-cari kemungkinan terbaik dalam memecahkan problem sosial sehingga sifatnya masih mencoba dan terbuka: Contohnya : penelitian sosial yang ingin mencari cara-cara apakah yang terbaik untuk menanggulangi kenakalan remaja.
b. Deskriptif
yaitu berguna untuk pengukuran yang cermat terhadap fenomena sosial tertentu. Contohnya : penelitian sosial tentang jumlah pengangguran, manusia lanjut usia, dan tingkat pendidikan masyarakat suatu kabupaten.
c. Eksplanatori
yaitu berguna untuk menjelaskan sebab-sebab yang melatarbelakangi suatu keadaan sosial tertentu. Misalnya : penelitian sosial tentang pengaruh media massa terhadap kedewasaan politik warga negara.
d. Evaluatif
yaitu berguna untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang ditetapkan pada awal program sudah tercapai. Misalnya : penelitian sosial untuk mengetahui daya serap siswa SMA terhadap materi pelajaran yang telah diajarkan.
e. Prediktif
yaitu penelitian sosial berguna untuk meramalkan kejadian atau fenomena sosial tertentu yang akan terjadi. Misalnya : penelitian tentang ketahanan dan keberlangsungan kekuasaan Presiden Megawati.
3. MACAM-MACAM PENELITIAN SOSIAL
a. Ditinjau dari tujuannya, penelitian sosial dibedakan menjadi tiga macam :
1. Penelitian Eksploratif (Eksploratif Research)
adalah jenis penelitian yang dilakukan dengan tujuan menemukan suatu pengetahuan baru yang sebelumnya belum ada. Misalnya : penelitian tentang semangat berdemokrasi di kalngan masyarakat Suku Dani di pedalaman Irian Jaya.
2. Penelitian Verifikatif (verificative research)
adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menguji suatu teori atau hasil penelitian sebelumnya, sehingga diperoleh hasil yang memperkuat atau menggugurkan teori atau hasil penelitian sebelumnya.
3. Penelitian pengembangan (Development Research)
adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk mengembangkan, memperluas dan menggali lebih dalam teori yang dimiliki oleh ilmu tertentu.

Bromo Caldera, East Java, Indonesia